Film merupakan sebuah seni audiovisual yang pertama kali lahir pada pertengahan abad ke-19 yang dibuat dengan menggunakan bahan dasar seluloid yang mudah terbakar (Effendy, 2014). 

Film adalah media komunikasi audiovisual yang dinikmati oleh berbagai segmen sosial karena film dapat menyajikan dan memenuhi permintaan dan selera hiburan masyarakat. Sehingga para ahli berpendapat bahwa film memiliki potensi untuk mempengaruhi khalayak yang menyaksikannya (Sobur, 2009). 

Film digunakan sebagai cermin realitas yang menggambarkan ide-ide, makna dan pesan yang menyuarakan hasil interaksi dan pergulatan wacana antar sineas dan masyarakat serta realitas yang ditemui para sineas tersebut (Nurbayati dkk, 2017). 

Lalu selanjutnya mengenai pengertian animasi, animasi adalah salah bentuk seni untuk mengubah dan menggerakan sebuah objek, baik berbentuk 2 dimensi maupun 3 dimensi dan dibuat menggunakan berbagai cara, misalnya menggunakan kertas, komputer dan lain sebagainya.

Seiring dengan perkembangan teknologi di era globalisasi ini, salah satunya dalam dunia perindustrian film animasi, film animasi sudah memberikan dampak ekonomi dan sosial yang sangat signifikan dan banyak film animasi yang kini mulai menggambarkan perempuan, dimana perempuan bukan sebagai makhluk yang lemah dan selalu tertindas, namun mulai hadirlah sosok perempuan sebagai pemeran utama. 

Salah satunya yaitu film animasi yang dirilis oleh Walt Disney Animation Studio pada tahun 2021 yaitu “Raya and The Last Dragon”

Film ini merupakan salah satu dari banyaknya film disney dengan bentuk 3 dimensi, di mana yang dimaksud 3 dimensi di sini memiliki 3 titik koordinat yang dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, berbeda halnya dengan 2 dimensi yang hanya dapat dilihat dengan satu sudut pandang saja, karena hanya memiliki 2 titik koordinat.

Dalam pembuatan film animasi 3 dimensi, para animator menggunakan beberapa software diantaranya: Sistem Operasi Microsoft Windows7 Ultimate, Blender 2.75.,Adobe Photoshop CS6, Pinnacle Studio dan Audacity 2.0.2. 

Dalam prosesnya juga melalui berbagai tahapan yang membutuhkan waktu yang cukup lama, diantaranya yaitu: 

pertama, para animator memikirkan konsep animasi, digambarkan layaknya komik, dan dibentuk film animasi dan pengisi suara yang sementara. Hal ini dilakukan agar semua animator dapat memahami alur cerita animasi tersebut. 

Selanjutnya, setelah itu animator membuat desain karakter dan modeling setiap adegan dalam film, yang dilakukan dengan menggunakan software 3 dimensi. 

Lalu masuk tahap rigging, yaitu membuat titik pengendali agar animasi dapat digerakan dan menyempurnakan semua detail yang ada dalam animasi tersebut, tanpa terkecuali seperti detail kain, dll. Pemberian dialog pun bersamaan dengan tahap ringging, dikarenakan agar setiap pergerakan mulut sesuai dengan dialog yang diucapkan. 

Baru kita masuk dalam tahap animasi, di mana pada tahap ini animator mulai menghidupkan animasi dengan menggunakan ringging yang telah dibuat, proses dalam tahap ini tidaklah mudah karena para animator dapat melakukan lebih dari ratusan bahkan ribuan kali untuk menciptakan hasil yang sangat natural. 

Sebagai informasi, setiap animator hanya mengerjakan animasi untuk 3 menit saja, namun, hal itu dapat menghabiskan waktu selama 1 tahun. 

Selanjutnya, agar animasi dapat sempurna maka ditambahkan efek dan lighting. 

Tahap terakhir yaitu render; mengekspret gambar menjadi video yang dapat ditampilkan, karena pada dasarnya video itu kumpulan dari beberapa frame, tahap ini memerlukan waktu 24 jam setiap framenya. 

Dengan proses yang sangat panjang yang telah dilakukan para animator sehingga dapat menciptakan film animasi-animasi yang dapat kita nikmati sekarang.

Sinopsis Film : Film “Raya and The Last Dragon” ini menceritakan tentang manusia bernama Raya yang tinggal bersama sahabat sekaligus alat transportasi yang bernama Tuktuk, di negeri fantasi bernama Kumandra yang memiliki lima suku yang bernaung di dalamnya; Negeri Fang, heart, Spine, Talon, dan Tail. 

Raya memiliki tekad dalam hidupnya untuk mencari naga Sizu dengan tujuan untuk menyelamatkan dunia dan ayahnya yang berubah menjadi batu karena ulah dari wabah kebencian yang lahir dari perselisihan manusia bernama Druun. 

Dimana kisah itu dimulai dari 500 tahun yang lalu, yang mengisahkan kehidupan seorang naga dengan manusia yang sangat harmonis sampai akhirnya wadah itu datang mengubah semuanya, namun ada sesuatu yang dapat mengembalikannya yaitu kristal yang berasal dari salah satu naga, yang disebut naga terakhir, Sizu.

Perselisihan pun terjadi diantara ke lima suku tersebut dan akhir dari kisah ini yaitu ketika kumadra dapat dipulihkan kembali.

Tujuan pembuatan film animasi bukan hanya sebagai hiburan melainkan terdapat pula nilai pendidikan di dalamnya. 

Film “Raya and The Last Dragon” merupakan film yang diwarnai dengan berbagai peristiwa penting dunia dalam tahun-tahun terakhir, seperti persaingan perdagangan antara Amerika dan tiongkok yang memuncak pada tahun 2017, dan tragedi Asian Hate di Amerika dan Eropa pada tahun 2021. 

Film ini merupakan film kedua yang dirilis oleh Walt Disney setelah Mulan. Yang dimana, keduanya menjadikan Asia sebagai latar belakang cerita. Khususnya pada film “Raya and The Last Dragon” lebih condong kepada wilayah Asia Tenggara yaitu Indonesia. Yang dianggap mencerminkan kebudayaan Indonesia. 

Di dalam film ini juga terdapat politik identitis, yaitu sebuah alat politik suatu kelompok seperti etnis, suku, budaya, agama atau yang lainnya sebagai bentuk untuk menunjukan jati diri suatu kelompok (Seonjoto, 2019). Politik indentititas yang tercermin dalam film ini yaitu sebagai berikut :

  • Nilai Kehidupan 

Pada adegan pertama, disana Raya sudah mencerminkan kehidupan yang biasanya dilakukan orang Asia yaitu melepas alas kaki ketika memasuki tempat suci, hal tersebut muncul sejak pengaruh Islam masuk ke Asia (Mujabuddawat, 2016). 

Lalu sikap yang dimiliki raya ketika berusaha keras untuk menyelamatkan dunia, jiwa perjuangan dan persatuan itulah yang sesuai dengan ideologi Indonesia yaitu Pancasila dengan Moto Bhineka Tunggal Ika. 

Gagasan   ini   sesuai dengan   penjelasan   Batkin,   bahwa politik identitas mengacu pada penyatuan karakter yang memiliki unsur identitas bersama, serta masyarakat yang terpinggirkan karena “perbedaan” mereka (Batkin, 2017).

  • Karakter Raya dan Naga Sisu 

Karakter raya merupakan karakter utama yang memiliki warna kulit sawo matang, mata besar dan rambut yang tebal yang menjadi identik dari wanita asia tenggara. Mayoritas dengan warna kulit sawo matang itu terdapat di Indonesia. Naga sisu pada film digambarkan memiliki 4 kaki, surai dan tanduk. 

Pada Asia tenggara simbol naga memiliki makna tersendiri, yaitu sebagai pelindung atau penjaga. Di Asia Tenggara juga terdapat naga yang sesuai dengan yang digambarkan di dalam film yaitu naga Witikau. Dan biasanya di Indonesia naga-naga itu berbentuk patung yang biasanya terdapat di tempat-tempat ibadah seperti kuil dan klentheng.

  • Desain aset berupa senjata, perlengkapan, dan bentuk kesenian

Senjata yang digunakan dalam adegan pertarungan yaitu keris. Dimana keris ini merupakan ciri khas dari Indonesia yang berasal dari abad ke-10 dan menyebar ke daerah Jawa dan Asia Tenggara. 

Aset  yang  kedua  adalah  tampah  dan beras, yang identik menjadi makanan pokok di Asia tenggara. Lalu terdapat kain pada adegan yang dibatik menggunakan canting. 

Menurut ENESCO, batik menjadi identitas Indonesia dan telah diresmikan sebagai warisan budaya dunia pada tahun 2009 (Trixie, 2020). Pada adegan film ini juga terdapat sekilas mengenai tradisi yang menjadi ciri khas Indonesia, yaitu wayang kulit.

  • Desain rumah dan persawahan

Dalam film ini melatarbelakangi persawahan dan rumah dengan atap menggunakan jerami serta pegunungan sebagai pemandangan yang terlihat. Latar belakang seperti ini sudah menjadi khas wilayah Asia tenggara yang termasuk dalam wilayah tropis.

Dari apa yang telah dipaparkan di atas, film ini menjadi salah satu upaya dalam melestarikan budaya Asia khususnya Asia Tenggara, dengan menggabungkan berbagai budaya dari Asia Tenggara menjadi satu wadah peleburan monolitik. 

Film ini juga merupakan film yang memiliki perspektif yang berbeda mengenai perempuan, diantaranya: 

dalam film ini perempuan digambarkan sebagai seseorang yang memiliki kekuatan setara dengan laki-laki. 

Lalu, dalam film ini membiasakan pemikiran bahwa wanita cantik tidak harus memiliki kulit yang putih bersih, rambut lurus, dll. karena di dalam film ini raya menggambarkan seorang wanita yang mendefinisikan “Cantik” dengan menjadi sosok yang energik, tangguh, kuat dan bertanggung jawab. Selain menggambarkan Feminis tetapi film ini juga memiliki pesan “ Kepercayaan pada Persaudaraan”.

Seperti itulah gambaran dari film "Raya and The Last Dragon". Terima kasih :D