Mungkin saja di antara pembaca Qureta ada yang pernah dengerin atau bahkan sangat sering mendengar lagu 'Aku Cah Kerjo' ciptaannya Pendhoza yang dulu juga sempat di-cover ulang sama artis-artis dangdut kenamaan, seperti Via Vallen dan Nella Kharisma.

Lagu yang pernah nge-hits pada 2017 ini pun sempat dibuat parodinya oleh beberapa  penyanyi lainnya. Seperti Mas Ndruw dan parodi kocak lainnya. Bagi yang belum pernah menyimak lagu ini, berikut ini lirik dan terjemahan lagu tersebut versi saya sendiri. Dan supaya lebih ringkas, maka di bagian reff-nya saya tulis sekali.

Dalam penantiannya, ada seorang wanita yang tengah menyanyikan sebuah lagu kerinduan:

Bebasan nunggu mongso rendeng, Anggonku lek ngenteni kowe. Wes ono sesasi genep dino iki.

[Ibarat menunggu datangnya musim hujan. Itulah lamanya aku menanti kehadiranmu. Telah sebulan lamanya, genap sampai hari ini.] 

Mas yen pancen tresnoku iki, Mbok anggep ra ono gunane. Aku ra kuciwo lan aku ra loro.

[Mas, jika memang cintaku ini, Kamu anggap tiada gunanya. Aku tidak kecewa dan aku pun tak merasa sakit hati.] 

Vokalis cowok:

Dek lungaku ra keget cidro. Aku lagi pengen mikir kerjo. Tak jaluk kowe ojo keloro-loro.

[Dik, kepergianku ini tidaklah untuk bermaksud berpaling (darimu). (Namun) aku sedang ingin fokus memikirkan kerja. Aku berharap kamu jangan sampai sakit-sakitan (sebab terlalu memikirkanku).]

Dek tresnaku mung siji kowe. Langit bumi kang dadi seksine. Yen neng ati ra ono wanito liyo.

[Dik, cintaku ini hanyalah untuk kamu seorang. Langit dan bumi yang akan menjadi saksinya, bahwa di hatiku ini tiada wanita yang lain.]

Kowe rasah sok mutusi, aku ra neng endi-endi.Aku lungo amung golek rejeki.

[Kamu tidak usah berpikir yang bukan-bukan, (sebab) aku tak akan pergi ke mana-mana.Aku hanya pergi untuk mencari rezeki.] 

Pangapurane awakku ra tau nyanding sliramu. Mergo tuntutan kerjoku nganti ora nduwe wektu. Wektu kanggo ngancani ugo ngeterke nyanyi. Kowe kudu ngerti lungaku golek rejeki.

[Maafkanlah diriku yang tak pernah mendampingi dirimu. Sebab tuntutan pekerjaanku sehingga aku pun tak punya (cukup) waktu. Waktuku untuk menemani dan mengantarkanmu bernyanyi. Kamu harus ngerti bahwa kepergianku ini adalah untuk mencari rezeki.]

Dongakno lakuku ngayahi kewajibanku. Senajan abot kanggomu nanging kuatno atimu. Wes dadi kahanan aku lungo adoh paran. Ora bakal kelegan nyanding wedokan liyan. 

[Doakanlah setiap langkahku ini dalam memenuhi kewajibanku. Meskipun itu terasa berat bagimu namun kuatkanlah hatimu. Telah menjadi keadaanku untuk selalu bepergian jauh. (Namun, kamu tak perlu khawatir, sebab) aku tidak akan mungkin berniat untuk bersanding dengan wanita yang lain.]

Ojo keloro-loro lungaku ra keget cidro. Opo meneh nganti mikir aku wes ora tresno. Yo mung kowe sing tansah ono neng njero dodo. Ra ono trensno liyo mergo aku tansah setio.

[Jangan sampai (kamu) sakit-sakitan (karena terlalu memikirkanku, sebab) kepergianku ini tidaklah untuk berpaling (darimu). Apalagi sampai berpikir bahwa aku sudah tak lagi mencintaimu. (Percayalah!) bahwa hanya ada dirimu yang selalu ada di dalam dadaku. Tak akan ada cinta yang lain sebab aku akan tetap selalu bersetia (padamu).] 

Kudu percoyo tresnoku iki mung siji kowe. Wani sumpah mati neng ati ra ono liyane. Janjiku tak buktekke ora mung ono lambe.Tunggunen baliku bebrayan tekane sak lawase.

[Kamu harus percaya bahwa cintaku ini hanyalah untuk kamu seorang. Aku berani sumpah mati bahwa di hatiku ini tidak ada yang lainnya. Janjiku ini akan kubuktikan bahwa ia tidak hanya sekadar penghias lisan. Tunggulah kepulanganku ini dan kita pun akan terus bersama untuk selamanya.]

Anggonku ngabari yo mung lewat bbm-an. Kadang sinyal angel marai dadi penghalang. Neng yo kudu sabar, ora usah nggo nesunan. Mergo trenso kui mestina akeh pacoban.

[Aku hanya mampu berkabar melalui BBM-an. Terkadang sebab sinyal yang buruk telah menjadi penghalang. Namun harus tetap sabar dan tidak perlu meradang. Sebab cinta itu pasti akan ada banyak cobaan.]

Sing tak jaluk kowe ojo nganti ilang roso. Senajan aku kerep gawe gelo lan kuciwo. Jembarno atimu sak jembare laut samudro. Kowe kudu ngerti yen aku iki cah kerjo.

[Yang aku pinta, janganlah kamu sampai kehilangan rasa (cinta). Meskipun aku seringkali telah membuatmu menyesal dan kecewa. Luaskanlah hatimu seperti luasnya laut samudra. Kamu harus paham kalau aku ini adalah seorang pekerja.]

Vokalis cewek:

Mas yen pancen kuwi karepmu. Aku yo mung tansah biso nunggu. Tak kuatne atiku tanpo sliramu.

[Mas, jika memang itu kehendakmu,(maka) aku hanya bisa selalu menunggu. Akan kukuatkan hatiku meski (harus) tanpa dirimu (di sampingku).]

Mas nadyan kowe lungo kerjo, sing tak jaluk kowe tetep setio. Ojo nganti kegudho wanito liyo.

[Mas, meskipun kamu pergi untuk bekerja, yang kuminta kamu harus tetap setia. Jangan sampai kamu tergoda oleh wanita lainnya.] 

Vokalis cowok:

Sabaro aku yo mung cah kerjo.

[Bersabarlah, aku hanyalah seorang pekerja.]

***

Mungkin saja, setelah membaca lirik lagu beserta terjemahannya dengan versi saya ini, akan memicu beberapa pertanyaan. Misalnya, kenapa kok terjemahannya nggak disamain aja dengan yang sudah ada sebelumnya sih?

Begini. Seperti halnya puisi, potongan kata dalam lirik lagu pastinya memiliki banyak sekali penafsiran. Dan dari orang per orang, bisa saja akan punya penafsiran yang berbeda, meskipun mereka sama-sama orang Jawa, sama makanannya, sama sekolahnya, sama rangkingnya, sama hobinya, dan berbagai persamaan lainnya. 

Saya ambil contoh, untuk kata cidro saja. Kata ini bisa berarti terluka, melukai, mengingkari, bahkan berpaling, seperti yang saya gunakan untuk menafsirkan kata cidro pada lagu ini. 

Cidro janji bisa saja diartikan mencederai janji atau mengingkari janji. Sedangkan untuk konteks pada lagu ini, karena ada kaitannya dengan kisah hubungan pasangan yang sedang berpisah tempat, maka saya kira yang lebih tepat adalah menggunakan makna 'berpaling'. Sebab, tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seseorang yang telah lama ditinggal pergi oleh kekasihnya ketimbang menerima kenyataan bahwa pasangannya itu telah berpaling ke lain hati. Uhuk. Nyesek puuuwool pokoknya. 

Baik. Kembali ke topik. Dalam lirik lagu "Aku Cah Kerjo" tersebut, seakan terdapat pesan moral yang begitu kental yang ditujukan untuk para keluarga atau siapa saja yang sedang LDR-an dengan pasangannya karena tuntutan karir dan upaya untuk memenuhi kewajibannya pada keluarga. 

Dan, menurut analisis deskriptif cocokologis dari saya, dalam lagu ini pun seakan menyiratkan beberapa pesan kehidupan yang menarik untuk direnungkan, yakni:

Pertama, Pentingnya Sikap Sabar Saat Ditinggal oleh Pasangan yang Sedang Bekerja

Keadaan yang jauh dari pasangan, tentu hal ini akan berpotensi menimbulkan masalah tersendiri bagi pihak yang ditinggalkan. Misalnya saja, mereka harus mengurus dan mengatur kebutuhan domestiknya sendiri, menghadapi berbagai macam pertanyaan dari tetangga dan lingkungan sekitarnya, dan yang mungkin terasa lebih berat lagi adalah memendam rasa kerinduan yang mendalam pada sang pujaan hati. 

Masalah-masalah seperti inilah yang kemungkinan besar akan dihadapi oleh pasangan yang sedang LDR-an, sebab belahan hati mereka sedang tidak berada di samping mereka dalam waktu yang cukup lama. 

Kedua, Tanggung Jawab dalam Menafkahi Keluarga

Bagi pasangan yang telah menikah, mereka tentu berkewajiban untuk memenuhi segala kebutuhan keluarganya. Dan dari kesadaran itulah kemudian akan menjadi motif bagi seseorang untuk bekerja dengan giat. Baik ia bekerja di sekitar tempat tinggalnya ataupun harus merantau ke tempat yang jauh. 

Ketiga, Komitmen Bersetia terhadap Pasangan

Saat jauh dari pasangan, pada umumnya, seseorang akan rentan berhubungan dengan banyak orang, misalnya saja relasi dengan sesama klien, pelanggan, atau bahkan atasannya. Dengan adanya intensitas pertemuan yang lebih rutin dengan orang-orang di lingkungan kerjanya dibandingkan dengan mereka yang ada di rumah, tidak menutup kemungkinan, jika kemudian seseorang akan rawan terjadi dengan yang namanya cilok, eh, cinlok. 

Belum lagi, kalau ada rekan kerjanya yang bertipikal centil bin genit yang sukanya menggoda pasangan dari rumah tangga lain, maka potensi cinlok inipun bisa jadi akan lebih besar. 

Untuk menangkal hal yang tidak diinginkan itu, maka bagi seseorang yang berkarir harus selalu menjaga komitmen kesetiaannya pada pasangan yang ada di rumah sekaligus menjaga sumpah yang dulu pernah diikrarkan di depan penghulu.

Dengan menjadi sebuah pasangan yang sah, maka hal ini harus senantiasa diiringi dengan komitmen yang kuat untuk terus mempertahankannya, sedahsyat apapun godaan dan rayuan yang datang dari luar. 

Keempat, Menjaga Komunikasi dengan Pasangan

Komunikasi dengan orang yang terkasih ini merupakan wujud bahwa adanya perhatian diantara mereka. Mereka bisa saja mengungkapkan perhatian itu meskipun dengan cara yang sederhana. Seperti mengutip penggalan syairnya almarhum Sapardi Djoko Damono, "Aku ingin mencintaimu dengan cara yang sederhana."

Sesederhana apapun bentuk cinta, eh, perhatian itu, tetap saja, ia merupakan kemewahan tersendiri yang tidak akan didapatkan oleh sembarang orang. Contoh sederhananya, kita sama sekali nggak kebayang khan, misalkan ucapan perhatian itu disampaikan secara tulus oleh Mas Iqbal Ramadan ke salah satu mbak yang lagi baca artikel ini, dan kebetulan mbaknya sendiri juga masih jomblo. "Aku ingin mencintaimu dengan cara yang sederhana."

Mbaknya yang merasa makjleb di dalam hatinya ini, mungkin saja ia juga akan bilang, "Sesederhana apapun cintamu, ia adalah bumi dan langit untukku, Mas," (ahay

Sebuah kesederhanaan yang  menjadi kemewahan sebab disampaikan oleh orang yang spesial. Jadi, intinya, komunikasi itu merupakan bentuk perhatian dan wujud rasa cinta dari satu pihak ke pihak yang lain. Dan jika hal ini disadari betul oleh keduanya, maka upaya mereka untuk mempertahankan kesetiaan pun akan semakin mudah terjaga. 

Sebab, dalam pandangan masing-masing pihak tersebut telah terbentuk keyakinan yang bulat, buat apa mencari yang lain jika ia yang di rumah sudah lebih dari cukup. Atau bisa juga dengan ekspresi yang lain, misalnya, buat apa mencari yang lain, toh ia belum tentu bisa menjadi yang sebaik dengan yang ada di rumah. 

Dengan selalu menanamkan sikap yang demikian ini saya rasa upaya untuk menjaga keseimbangan antara kesuksesan dalam berkarir dan membina hubungan dengan pasangan pun akan lebih mudah terjaga. Fokus dalam berkarir akan tetap ada sebab mereka melandasinya untuk memenuhi kebutuhan mereka yang ada di rumah (dengan diiringi kesadaran untuk menjalankan perintah Tuhan juga, tentunya). Sementara ikatan batin dengan keluarga pun tetap terpelihara sebab mereka memiliki komitmen yang kuat untuk bersetia. 

Namun, sekali lagi, pesan moral dalam lagu ini hanyalah menurut pandangan saya saja pribadi. Jika dipercayai, ya, syukur. Dan kalau tidak dipercayai, ya, saya hanya bisa mendoakan, semoga Anda yang telah membaca tulisan ini akan mendapatkan kebaikan yang lainnya, setelah mau meluangkan waktu untuk merenunginya. 

Dan, daripada Anda rugi waktu, maka saya sarankan sebaiknya percaya saja, kecuali Anda ingin menyampaikan dengan perspektif yang lainnya. Monggo~