Bumi ini sudah terbilang tua, bahkan amat tua. Usia Bumi saat ini diperkirakan telah mencapai 4,54 miliar tahun. Hal ini diukur berdasarkan penanggalan radiometik meteorit dan sesuai dengan usia bebatuan tertua yang pernah ditemukan. Usia Bumi saat ini tentu tidak bisa dikatakan muda lagi (Ahmad Mukhibin, 2018).

Ketuaan bumi dapat dibuktikan dengan penyakit yang diidapnya, sudah kronis. Ragam penyakit sudah diderita, mungkin masuk stadium 4 atau bisa jadi di atas lagi. Mendekati akhir hayatnya. Penyakit itu absolutnya bencana, di antero dunia telah banyak musibah menimpa penghuni bumi. Tak mampu rasanya apabila harus menyebutkan satu per satu. Bencana yang menimpa negeri ini saja sudah membuat kening berkerut memikirkannya dan mengundang ketakutan akan datangnya ajal bumi tercinta.

Gempa di Lombok, diikuti Palu, dan disusul tsunami Selat Sunda. Menjadi musibah yang trending di Indonesia. Tak luput dari pemberitaan media, memakan korban ratusan orang, luka-luka biasa hingga meninggal dunia.

Kalau dipandang dari sudut agama, musibah yang terjadi adalah sebab manusia lalai dari perintah Agama. “Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah mema’afkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Qs. Asy-Syuura: 30). Karena itu, jika tidak berkenan ditimpakan bencana sudah saatnya masing-masing pribadi membenahi fiilnya terhadap Tuhan. Andai pun masih tetap ditimpakan, paling tidak kita bisa menghadap Tuhan dalam kondisi menaati apa yang diperintahkan-Nya. Sebab masih ada kehidupan setelah lelah menempuh perjuangan di dunia ini.

Polemik Pasca Bencana

Kebutuhan dalam Ekonomi Islam menurut Al-Syatibi terbagi atas 3 komponen pokok yaitu dharuriyat (kebutuhan primer), Hajjiyat (kebutuhan sekunder), dan Tahsiniyat (kebutuhan tersier). Kebutuhan dharuriyat menjadi komponen yang harus terpenuhi keberadaannya, elemen kebutuhan dharuriyat ini adalah kebutuhan akan kemashlahatan agama, akal, jiwa, keturunan, dan harta. Jika kelima elemen itu rusak, imbasnya akan meruntuhkan elemen yang lain.

Menyaksamai pasca bencana yang terjadi di Indonesia, utamanya yang menimpa Lombok, Palu, dan Selat Sunda berdampak pada kerusakan hingga mengakibatkan krisis kebutuhan pokok terutama harta yang hilang dan hancur ditelan bencana. Selain itu, pun berefek pada keturunan, di mana sanak keluarga mereka menjadi korban hilangnya nyawa. Jiwa mereka juga merasa tidak tenang, akal ikut melemah karena trauma, frustasi, dan ketakutan mendalam. Jika semua ini tidak segera difilter kembali dengan keyakinan dan kesabaran, agama akan ikut menjadi korban kemerosotan.

Permasalahan paling gamblang tampak pada harta. Beberapa kejadian tak dibenarkan terjadi di tengah-tengah kesedihan yang menimpa mereka. Sempat media memberitakan terjadinya tindak kejahatan berupa penjarahan atau mengambil harta secara bebas. Sungguh sangat disayangkan, masih ada saja orang-orang yang tak berperikemanusiaan di saat musibah terjadi. Belum puaskah dengan murka yang Allah berikan.

Penjarahan yang terjadi pasca bencana ini tidak bisa dipungkiri keberadaanya. Sebagaimana yang dijelaskan Neneng Hasanah mengenai catatan sosiolog Rissalwan Habdy Lubis terkait penyebab utama terjadinya aksi criminal tersebut. Di antaranya adalah agama, adat, lingkungan, dan pemberitaan di media (Sharianews.com).

Dari sisi agama dan adat, dikarenakan masyarakat yang tertimpa musibah lemah dalam menjunjung norma dan agama sehingga membenarkan perbuatan tersebut. Sementara lingkungan, dikarenakan keteledoran aparat kepolisian dalam menjaga keamanan. Adapun dari pemberitaan media, ada yang memberitakan akan dibolehkannya penjarahan makanan pokok. Toko makanan yang dijarah nantinya akan diganti rugi oleh pemerintah.

Paling parah terjadi karena pemberitaan yang menyatakan pemerintah akan membayar penjarahan yang dilakukan masyarakat. Akibatnya tindakan penjarahan dilakukan semau hati oleh oknum tidak bertanggung jawab.


Ekonomi Islam Solusi Utama

Ekonomi Islam yang dirintis oleh nabi Muhammad sebagai pembawa petunjuk peradaban menjadi sistem ekonomi yang tidak akan terbantahkan, hanya keraguan keyakinan yang membuatnya roboh. Polemik di atas tidak akan terjadi jika ekonomi Islam diaplikasikan. Maka pastikan dengan ekonomi Islam solusi utama penyelesaian.

Prinsipnya tidak sebagaimana kapitalis yang menjunjung tinggi kebebasan perorangan, tidak pula sosialis yang memberikan ruang penuh bagi negara. Ekonomi Islam, ekonomi peradaban yang mengutamakan ketaatan kepada Yang Maha Esa. Prinsipnya adalah ketauhidan, keadilan, mengikuti petunjuk Rasulullah, kepemimpinan, dan memperhatikan hasil dengan pertimbangan mashlahat.

Untuk menjaga kebutuhan hajjiyat terutama berkaitan dengan harta sebagai permasalahan pasca terjadinya bencana, maka diperlukan pendistribusian kekayaan yang merata. Jauh hari ekonomi Islam telah menyodorkan solusi tersebut. Saling membantu sudah menjadi keniscayaan dalam syariat Islam. Bantuan itu berupa Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf. Ini merupakan bentuk pendistribusian meratakan kekayaan dalam ekonomi Islam.

Aisha Putrina menjelaskan (Sharianews.com) bahwa dana zakat bisa disalurkan kepada korban bencana yang mengalami perubahan kondisi perekonomian baik itu kerusakan insfratruktur maupun aset pribadi. Sehingga mereka mengalami penurunan pemenuhan kebutuhan ekonomi akhirnya masyarakat terdampak tersebut masuk ke dalam salah satu dari delapan asnaf penerima zakat (Wahid dan Razak, 2018; Stirk, 2015). Diantara asnaf yang memungkinkan adalah fakir, miskin, dan gharimin. Namun, harta zakat hanya boleh disalurkan kepada daerah di mana harta tersebut berasal. Maka, zakat yang diberikan hanya boleh berasal dari pusat, provinsi, dan kabupaten/kota tempat bencana tersebut terjadi.

Sedangkan infak dan sedekah sudah sangat jelas dapat diterapkan kepada masyarakat terdampak bencana. Begitu pula dengan wakaf, wakaf ini dapat berupa tanah atau pun wakaf tunai untuk korban bencana. Umpanyanya menyediakan lahan untuk pembangunan masjid yang telah hancur atau dengan meberikan dana sebagai modal pembuatan masjid.


Peran Pemerintah 

Mengingat kembali persoalan yang terjadi seusai bencana yakni terjadinya penjarahan yang memicu kriminalitas dan kerugian pemilik warung makanan, bahkan ada pula masyarakat yang mengambil barang selain makanan. Sangat diperlukan kebijakan pemerintah sebagai pemimpin dalam berlangsungnya kenegaraan agar polemik pasca bencana yang terjadi dapat teratasi.

Untuk mengantisipasi kejahatan penjarahan, aparat kepolisian harus diarahkan supaya lebih sigap dan ketat dalam proses pengawasan. Sedangkan pendistribusian bantuan harus diarahkan semaksimal mungkin oleh pihak pengelola agar penyalurannya merata. Baik itu oleh organisasi mahasiswa, organisasi masyarakat, maupun lembaga zakat yang bertugas menyalurkan dana infak dan sedekah. Pemerintah meski memberikan ruang kepada semua komponen yang berpotensi memberikan peluang terdistribusinya kekayaan yang merata.

Akhirnya, semua kembali lagi ke pemerintah sebagai pemangku kebijakan. Baiknya pemerintah berpengaruh terhadap baiknya negara ini. Jangan melulu sibuk dengan urusan perpolitikan, apalagi sekadar mengejar kekuasaan personal. Rakyat perlu perhatian bukan janji manis tiada tara tak bernyata.