Proses kelahiran dan perjalanan Universitas Gadjah Mada --UGM-- tak dapat dilepaskan dari kisah sejarah Negara Republik Indonesia. Hal itulah yang melandasi UGM sehingga mengukuhkan diri dengan mengungkap identitasnya sebagai “Lima Jati Diri” yang berkaitan erat dengan Indonesia.

Kesempatan ini sekaligus menjadi momentum yang tepat untuk merenungkan kembali jati diri tersebut sehingga tak hanya menjadi sekedar label yang digaung-gaungkan sebagai pencitraan, namun menjadi pedoman yang kuat erat melekat sebagai dasar untuk melanjutkan langkah dan kiprah UGM ke depan.

Hal ini sesuai dengan pesan yang disampaikan oleh Bung Karno dalam pidato terakhirnya sebagai presiden di depan MPRS pada tanggal 17 Agustus 1966 yang dikenal sebagai pidato Jasmerah: ”Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”.

Lima jati diri UGM disampaikan pada puncak peringatan Dies Natalis UGM ke-56, tanggal 20 Desember 2004. oleh Rektor UGM Prof. Dr. Sofian Effendi dalam orasi ilmiahnya yang berjudul ”Revitalisasi Jati Diri UGM Menghadapi Perubahan Global”. Jati diri tersebut kemudian ditetapkan dalam Surat Keputusan Majelis Wali Amanat (MWA) UGM Nomor 19/SK/MWA/2006 tentang Jati Diri dan Visi UGM.

Lima jati diri UGM juga tercantum dalam Pasal 8 (dan selanjutnya dijabarkan dalam Lampiran) Penjelasan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2013 yang ditetapkan pada tanggal 14 Oktober 2013, tentang Statuta Universitas Gadjah Mada.

Adapun lima jati diri UGM dan penjabarannya adalah sebagai berikut:

1. Universitas Nasional

UGM adalah universitas pertama yang didirikan oleh pemerintah Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, didaulat sebagai Balai Nasional Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan bagi pendidikan dan pengajaran tinggi.

Gedung Pusat UGM (Balairung) dirancang oleh arsitek putra bangsa Indonesia: GPH Hadinegoro di tanah milik keraton (Bulaksumur) dan diresmikan oleh Presiden pertama RI Ir. Soekarno pada 19 Desember 1959. Gedung ini merupakan konstruksi modern pertama di Indonesia yang kaya akan makna filosofis dan nilai-nilai historis.

Dengan latar belakang inilah maka UGM berkomitmen untuk selalu menjunjung tinggi, mempertahankan, serta mengembangkan persatuan dan kesatuan bangsa dan negara, mengedepankan kepentingan nasional daripada kepentingan daerah maupun golongan tertentu.

2. Universitas Perjuangan

Keberadaan UGM tidak terlepas dari kancah perjuangan revolusi bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan dan mendapatkan pengakuan atas kedaulatan negara setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Pada awalnya UGM bernama Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada, didirikan pada 3 Maret 1946. Kegiatan belajar mengajar terus berlangsung selama situasi pertempuran melawan Belanda maupun Sekutu.

Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta (19 Desember 1948) menyebabkan semua perguruan tinggi yang ada ditutup karena dosen dan mahasiswa ikut perang. Setelah kondisi mereda, pada tahun 1949 UGM dibangun kembali, merupakan penggabungan dari berbagai institusi pendidikan yang ada di Yogyakarta, Klaten, dan Solo. Awal kegiatan belajar mengajar dilaksanakan di kompleks keraton atas kebaikan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Hari lahir UGM ditetapkan pada 19 Desember 1949, dalam rangka mengenang satu tahun masa kelam akibat serangan Belanda melumpuhkan Yogyakarta. Setelah penjajahan fisik mereda, UGM mengalihkan perjuangannya dengan memberantas kebodohan dan mengurangi kemiskinan dengan mengirimkan bantuan tenaga pengajar ke daerah-daerah. Demikianlah, UGM terus berjuang mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang mendukung kejayaan bangsa dan negara serta kesejahteraan rakyatnya.

3. Universitas Pancasila

Sejalan dengan jati diri UGM sebagai universitas perjuangan dan nasional, maka dalam visi dan misinya, UGM menetapkan diri memegang teguh Pancasila dan melaksanakan UUD 1945 secara demokratis.

Pancasila selain sebagai ideologi negara juga menjadi pandangan hidup dan kepribadian bangsa Indonesia. Sila-sila dalam Pancasila secara eksplisit bahkan tercantum dalam pembukaan UUD 1945, sehingga pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat) merupakan implementasi pokok pikiran yang tertuang dalam UUD 1945 dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tokoh UGM yang paling berjasa dalam pengembangkan Pancasila adalah Prof. Notonagoro, yang menulis buku tentang kajian ilmiah dan filsafat Pancasila. Selain itu ada Prof. Dr. Mubyarto yang melahirkan gagasan Ekonomi Kerakyatan atau Ekonomi Pancasila.

Pada tanggal 22 Mei 2017, UGM kembali meneguhkan diri sebagai Universitas Pancasila.Deklarasi tersebut dilakukan oleh sivitas akademika UGM dipimpin Rektor UGM, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D. Deklarasi kembali dan penyelenggaraan sarasehan Pancasila ini adalah momentum yang tepat saat masyarakat tengah dilanda persoalan disintegrasi.

4. Universitas Kerakyatan

Istilah kerakyatan berarti rasa kepedulian yang tinggi terhadap rakyat. Hal ini dimaknai oleh UGM sebagai kemampuan untuk menangkap dan memahami problematika yang sedang dihadapi rakyat, dilanjutkan dengan tindakan nyata untuk memperjuangkan dan menyelesaikannya.

Secara aktif UGM ikut serta dalam memperjuangkan dan mengedepankan kepentingan rakyat, meningkatkan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan bangsa dalam rangka mencapai kehidupan yang layak, adil, bahagia, serta sejahtera lahir dan batin berdasar Pancasila.

Beberapa implementasinya antara lain dengan membuka kesempatan kepada semua penduduk di penjuru wilayah Indonesia untuk menjadi bagian dari keluarga besar UGM (sebagai mahasiswa maupun staf), melakukan kerjasama pendidikan-pengajaran, penelitian dan eksplorasi, serta pengabdian kepada masyarakat dengan menggandeng daerah-daerah di kawasan 3T (tertinggal, terdepan, terluar).

Tahun 1972 secara resmi UGM mempelopori program Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk membentuk dan mengembangkan jiwa kepedulian mahasiswa terhadap rakyat. Program ini kini diadopsi oleh berbagai perguruan tinggi baik di dalam maupun di luar negeri. Oleh karena kepeduliannya terhadap rakyat pedesaan inilah maka UGM dijuluki sebagai "universitas ndesa".

5. Universitas Pusat Kebudayaan

UGM menempatkan diri sebagai pusat pelestarian dan pengembangan kebudayaan Indonesia (nusantara) dan perikemanusiaan, dalam rangka mewujudkan masyarakat Indonesia menjadi insan yang berbudi luhur dan berwawasan nasional untuk membangun peradaban baru, serta mencintai produk dalam negeri dan karya anak bangsa sebagai salah satu bentuk nasionalisme yang tinggi.

UGM secara resmi mendirikan Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (dulu bernama Purna Budaya) pada tanggal 3 Maret 2007 dengan tugas utama melestarikan, mengembangkan, dan memberdayakan kebudayaan nasional. Hal ini sesuai dengan kedudukan dan peran UGM sejak awal pendiriannya, yaitu sebagai balai pendidikan dan kebudayaan nasional.

Yang dimaksud dengan kebudayaan nusantara meliputi nilai, tradisi, karya, pemikiran, seni, serta lain-lain bentuk cipta rasa maupun karsa yang lahir dari bangsa Indonesia. Secara formal UGM menyelenggarakan pendidikan-pengajaran dan wadah untuk kajian kebudayaan, termasuk di dalamnya sejarah, sastra, bahasa, dan pariwisata, yaitu di Fakultas Ilmu Budaya dan Pusat Studi Budaya.

Di samping itu juga terdapat berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan agenda-agenda yang ditujukan dalam rangka upaya pelestarian dan pengembangan seni budaya nusantara.

Selain itu, UGM juga tidak menutup diri untuk mengkaji berbagai kebudayaan di berbagai negara, seperti: Korea, Jepang, Jerman, Inggris, Arab, Perancis, Asia Pasifik, Amerika, Timur Tengah, dan sebagainya.

Dengan jati diri seperti ini, masih ada yang ragu untuk melanjutkan studi di UGM?