Seorang kawan berkelakar di dinding Facebook-nya: Semenjak Sunda Empire dibubarkan, tatanan Bumi menjadi kacau.

Terus terang, saya tak bisa menahan tawa saat membaca kelakarnya itu. Si kawan tidak bermaksud menjadikan bencana wabah virus Corona sebagai bahan candaan seperti halnya yang dilakukan beberapa pejabat negara kita beberapa waktu lalu ketika belum ada pasien yang teridentifikasi positif terjangkit dan meninggal dunia. 

Candaannya tentu bisa dibedakan. Apalagi, di postingan-postingan-nya yang lain, saya tahu bahwa si kawan memang murni sedang mencoba menghibur orang-orang.

Di tengah-tengah wabah virus Corona, apalagi semenjak kita dianjurkan untuk beraktivitas di rumah saja dan menjaga jarak fisik dengan orang lain, saya kira postingan-postingan humoris di media sosial adalah hal baik.

Dalam beberapa hari terakhir seiring dengan terus bertambahnya jumlah korban, baik yang positif terjangkit maupun yang meninggal dunia, muncul pula ajakan-ajakan dari beberapa teman untuk berhenti memajang status atau berita-berita buruk yang bersifat menebar ketakutan dan kecemasan, dan sebaliknya mengajak orang-orang untuk memajang hal-hal yang baik saja.

Ajakan-ajakan itu terinspirasi dari sebuah surat elektronik mahasiswa Indonesia yang berada di China, yang tangkapan layarnya telah banyak dibagikan dan viral.

Ajakan tersebut berangkat dari fakta bahwa dengan sikap rakyatnya yang demikian, China bisa lekas bangkit dari hantaman wabah Corona dan kini menjadi penolong bagi negara-negara lain. Harapannya, dengan meniru sikap rakyat China, Indonesia juga bisa segera pulih.

Ajakan-ajakan itu kemudian dilabeli dengan judul “Tantangan” dan diakhiri dengan mempersilakan orang untuk menyalin dan memajangnya di lini masa sendiri. Orang yang kemudian menyalin-tempel ajakan itu akan menulis “Tantangan Diterima” sebagai judul postingan-nya. Dan begitu seterusnya.

Dari satu sudut pandang, ajakan-ajakan itu bisa jadi merupakan buah dari kemuakan banyak orang di media sosial yang setiap hari berandanya terus dijejali oleh postingan-postingan menyangkut wabah Corona, mulai dari informasi terbaru tentang jumlah korban, perdebatan mengenai sikap seperti apa yang paling cocok untuk menghadapinya (utamanya agamais versus saintifik), hingga--ini yang terutama--soal tepat atau tidaknya langkah-langkah yang dilakukan pemerintah.

Faktor yang saya sebut terakhir barangkali merupakan penyebab utama kemuakan itu. Namun, faktor mana yang paling kuat pengaruhnya di sini tidak lagi penting. Sebab yang menjadi poin adalah fakta bahwa banyak orang mulai muak melihat pajangan-pajangan di beranda media sosial mereka sehingga muncullah ajakan-ajakan itu.

Saya pribadi memandang ajakan itu sebagai hal yang baik. Namun saya khawatir, dalam kadar tertentu, ajakan semacam itu akan berkembang menjadi penyangkalan--semacam sikap acuh tak acuh--atas kondisi yang sedang terjadi. Kekhawatiran ini mungkin terdengar berlebihan, namun dalam tataran etis, ia tidak dapat diabaikan.

Kalau sampai demikian, ajakan itu akan menjadi setali tiga uang dengan sikap orang-orang yang menimbun atau memborong masker dan/atau hand sanitizer untuk dirinya sendiri. Dalam bahasa sederhana, ajakan itu bisa berarti: biarlah orang di luar sana mati, yang penting aku tetap hidup dan ceria.

Tetap Berpikir Jernih

Memang, tak bisa dipungkiri bahwa semenjak wabah Corona masuk ke Indonesia, beranda media sosial kita jadi penuh sesak dengan perdebatan. Tak jarang kita melihat orang-orang yang sejatinya tidak tahu apa-apa, menjadi sosok-sosok yang paling ribut dan merasa paling benar. Mereka berduel dalam “kompetisi kebijaksaan”.

Karena itu, memajang postingan yang baik-baik tentulah baik. Hanya saja, hemat saya, janganlah kita serta merta mengabaikan keadaan dengan langsung melewatkan setiap postingan teman yang tidak kita sukai.

Bagaimanapun tidak suka atau muaknya kita, beberapa postingan kawan-kawan yang berada dalam arena perdebatan itu tetaplah perlu kita simak. Kita perlu menghindari sikap menganggap setiap hal yang tidak kita sukai sebagai buruk, dan begitu juga sebaliknya. Baik buruknya sesuatu tidaklah bergantung pada suka atau tidaknya kita pada sesuatu itu.

Postingan seorang teman yang memuat kritik atas keteledoran pemerintah dalam menangani penyebaran virus Corona barangkali memang terasa menyebalkan atau memuakkan. 

Tapi, jika kita mau berpikir jernih, postingan seperti itu baik demi keberlangsungan demokrasi dan kontrol sosial di negara kita, apalagi jika postingan itu memang fakta dan disertai dengan bukti yang valid, terlepas bahwa si teman yang membuat postingan itu tidak melakukan tindakan apapun untuk membantu mengatasi wabah.

Postingan teman lain yang memuat perkembangan kasus wabah juga barangkali terasa mengerikan dan membuat kita semakin cemas. Tapi, itu tetap baik supaya kita tetap waspada dan bisa mempersiapkan segala sesuatunya dengan lebih baik, terlepas bahwa imun tubuh akan menurun jika kita sering cemas.

Lagi pula, kalaupun kita bermaksud meniru sikap rakyat China seperti yang tertulis dalam surat elektronik mahasiswa tadi, kita sepatutnya juga jangan lupa bahwa pemerintah mereka punya langkah atau strategi penanganan wabah yang lebih baik (jika bukan lebih serius) dan jitu dibanding pemerintah kita.