Pada Minggu (28/6) kemarin, saya mendampingi istri saya untuk membeli gawai di Semeru Cell, salah satu konter hape yang paling lengkap di Kota Blitar. Jauh-jauh hari, sebenarnya dia sudah berencana untuk membelikan saya hape baru, mengingat hape saya yang lama Lenovo A1000 dianggap sudah terlalu jadul, tak layak pakai, dan aus sebab beberapa kali jatuh ke lantai.

Waktu itu, rupanya dia membelikan saya hape merek VIVO Y19C. Kami membelinya setelah membandingkannya dengan kompetitor merek lain yang ada di sana, dan melihat fiturnya yang mungkin sudah cukup untuk mengimbangi gawai berfitur canggih lainnya, yang ada pada saat ini.

Sebelum pembayaran, seorang penjual di konter itu menanyai saya dan istri saya, “Mau di-install aplikasi apa?”

“Di-install aplikasi untuk baca Word, Excel, Power Point, dan Share it saja, Mas,” jawab saya.

Eh, ternyata, gawai itu di-install cukup banyak aplikasi oleh penjualnya, salah satunya adalah gameWorms Zone’. Dan sampai sekarang pun, hal ini masih menjadi teka-teki bagi saya, apakah game ini sengaja di-install sama penjual di konternya atau memang sudah bawaan dari hape ini. Tapi yang jelas, game ini menurut saya sangat menarik. Sebagai buktinya, anak saya pun sampai tidak bosan-bosannya memainkan game ini berkali-kali.

Cara main game ini sebenarnya simpel banget, yakni cukup dengan mengarahkan si cacing yang mirip ular itu agar ia bisa terus makan tanpa menabrak cacing lainnya dan menghantam garis merah. Sebab, jika si cacing sampai menabrak cacing lain atau garis merah itu, maka akan ambyarlah cacing itu dan berhamburanlah semua yang ada di dalam perutnya. Makanan-makanan dan koin-koin yang telah ia kumpulkan akan keluar semua dan menjadi santapan bagi cacing-cacing lainnya.

Biasanya, saya akan langsung mengarahkan cacing saya untuk mengais makanan dan koin yang berhamburan dari cacing lainnya, setelah ia menubruk tubuh cacing saya. Lumayanlah, nggak usah jauh-jauh cari makanan. Dan selain itu, jumlahnya pun lebih melimpah.

Mereka yang sanggup merampungkan setiap babak pada game ini dengan tanpa menabrak cacing lain dan garis merah itu kemungkinan besar akan memperoleh peringkat yang tinggi. Sebagai contohnya, untuk ukuran beginner atau pemula seperti saya pun nyatanya juga pernah nangkring di urutan ketiga dengan bobot cacing sekitar 333 ribu. Entah apa satuannya, yang jelas bukan Kilogram apalagi Ton.

Jika kita telaten memainkan game ini, maka kita akan memperoleh koin-koin yang dapat kita gunakan untuk mendandani cacing kita di lemari cacing. Di lemari cacing ini, kita dapat menghias bentuk fisik dari si cacing. Ia bisa saja kita dandani supaya selalu tersenyum menggemaskan. Dan bisa pula ia kita didandani supaya tampak selalu marah dan menjijikkan, selama koin kita cukup.

Selain itu, dengan berbekal koin yang telah kita kumpulkan, kita juga dapat menggunakannya untuk meng-upgrade kemampuan si cacing supaya ia makin lihai dalam mencari makanan.

Dan entahlah, setelah saya beberapa kali memainkan game ini, tiba-tiba saja saya memiliki dugaan, jangan-jangan pengembang game ini sebenarnya punya pesan moral tertentu sebelum mereka membangun game ini.

Pesan moral tersebut yang pertama adalah supaya anak-anak lebih hobi makan dengan melihat aktivitas cacing yang tak henti-hentinya makan itu. Tentu saja, hal ini bisa menjadi misi yang mulia. Khususnya, untuk mengedukasi kelompok anak yang susah untuk diajak makan. Anak-anak yang dalam sekali makan, barangkali orang tuanya harus telaten menyuapinya hingga dua jam lamanya, agar isi dalam piring mereka dapat habis semuanya.

Jika ada anak yang susah makan, maka para orang tua tinggal mengingatkan, “Makan yang banyak Nak, biar cepat besar kayak si cacing itu.” Saya kira untuk beberapa waktu, petuah ini akan cukup manjur untuk menasihati anak mereka yang masih balita supaya mereka semakin doyan makan.

Sementara itu, bagi mereka yang memiliki anak balita, yang nafsu makannya sudah over atau berlebih pun dapat dinasihati melalui game ini. Misalnya dengan berpesan, “Awas Nak, jangan terlalu banyak makan. Nanti perutmu bisa ambyar kayak si cacing itu.”

Saya kira hal itu akan lebih dipahami oleh mereka dengan membayangkan sosok si cacing itu. Tentunya, jika si buah hati masih mempercayai omongan kita. Hehe.

Pesan moral berikutnya adalah agar kita tidak memiliki niat sedikit pun untuk menyakiti pihak lain apalagi sampai melakukannya. Dan melalui game ini pun telah dibuktikan bahwa pihak cacing yang telah menabrak atau memakan cacing lainnya, maka mereka sendirilah yang akan mengalami kehancuran.

Saya menganggap ada pesan yang substantif yang terkandung dalam program game ini, yakni mereka yang berniat untuk menyakiti orang lain atau bahkan telah melakukannya, sejatinya mereka telah menyakiti dan melukai diri mereka sendiri.

Dan bukankah dalam ajaran agama pun telah dijelaskan bahwa mereka yang berbuat kebaikan maupun keburukan pada orang lain, sekecil apapun itu, maka mereka akan memperoleh balasannya dari Tuhan?

Dan melalui game ini saya menduga pengembangnya ingin mengedukasi para pemain, bahwa jika kamu berniat untuk menghancurkan cacing atau pihak lain, maka kamu sendirilah yang bakal mengalami kehancuran. Sebuah pesan yang mungkin akan bermanfaat di kehidupan nyata jika mereka mampu menangkap dan memahaminya.

Saya benar-benar tidak menyangka, dari game yang tampak sepele ini ternyata memiliki pesan moral yang begitu dalam bagi para pemainnya.