Pertama kali diterbitkan di Belanda pada 1860, Max Havelaar langsung menggegerkan negeri itu. Novel ini ditulis Multatuli, nama pena dari Eduard Douwes Dokker, mantan Asisten Residen Lebak pada zaman penjajahan Belanda abad ke-19.

Max Havelaar mengungkapkan kebobrokan dan kekejaman kolonial Belanda di Jawa dan memunculkan penerapan Politik Etis sebagai usaha Belanda “membayar” utang mereka kepada pribumi, dengan memberi kesempatan pendidikan kepada para keturunan bangsawan di Jawa dan di Indonesia. Meski pendidikan hanya terbuka bagi kaum elite yang loyal kepada pemerintahan Belanda, setidaknya kesempatan itu membuka mata para priyai pribumi tentang kondisi dunia.

Pramoedya Ananta Toer bahkan berpendapat bahwa reformasi pendidikan kaum elite ini pada akhirnya memunculkan pergerakan nasional, yang memunculkan negara Indonesia dan mengakhiri kolonialisme Belanda  pada 1945, serta memicu gerakan-gerakan antikolonialisme di Afrika. Karena itu, Pramoedya Ananta Toer menyebut Max Havelaar sebagai buku yang “membunuh” kolonialisme.

Di kongres Internasional untuk pengembangan ilmu pengetahuan Sosial di Amsetrdam pada 1863, penulis menantang saudara-saudara sebangsanya untuk menentang kesalahannya, tapi tidak ada yang berani menerima tantangan itu. Singkatnya, Mr. Douwes Dekker pernah menjadi pejabat pemerintahan Belanda selama tujuh belas tahun.

Max Havelaar adalah nama yang dipilih oleh penulisnya untuk menjelaskan pengalamannya di Lebak Banten pada1830, di mana kekejian dari pemerintahan Belanda pada saat itu yang bekerja sama dengan Bupati Lebak Banten dan petinggi-petinggi daerah yang melakukan sistem kerja paksa dan tidak diberi upah atas pekerjaan itu. Sehingga banyak dari warga meninggalkan desa itu dan dihukum cambuk jika ketahuan kabur dari desa itu. Dan banyak dari warga diambil hartanya untuk kepentingan Pemerintahan Belanda dan Bupati yang sibuk memperkaya diri dengan mengatasnamakan Bupati meminta hartanya dan akan diganti rugi dua kali lipat dan itu tentunya janji semata dan tidak ada yang menepati janji, sehingga warga desa banyak sakit dan mati karena kelaparan. 

Kepatuhan dan kecintaan warga terhadap Bupati yang membuat mereka seperti ini. Tentunya ini yang yang membuat Max Havelaar geram dengan ketidakadilan seperti ini sehingga dia menyelidiki kasus-kasus apa saja yang terjadi di Lebak Banten dan sering kali menghalau pengoperasian perajurit Bupati.

Max Havelaar yang berniat menolong masyarakat agar keluar dari dalam penindasan fanatisme terhadap Bupati ini membuat Bupati pemerintahan Lebak kewalahan dalam pengoperasiannya sehingga pajak/rampasan yang harus dibayar ke pemerintahan Bupati ini sering kali tertunda. Tentu saja melanggar perjanjian antara Bupati Lebak dan Gubernur Belanda yang ada di Batavia saat itu, dan tentunya memicu pertemanan Bupati dan Gubernur Belanda. 

Sering kali dia mendapat teguran dari Gubernur dan Max Havelaar tetap menolak dan tetap menolong masyarakat Lebak. Karena Asisten Residen sebelum Max Havelaar, yaitu Slotering, juga bersikap seperti dia, menolong masyarakat atas penindasan yang dilakukan oleh prajurit Bupati dan sering kali mengecam Bupati atas perilakunya.

Pernah juga mendapatkan teguran dari Gubernur Belanda dan tetap menolak sehingga itu yang menjadi hambatan kegiatan pemerasan Bupati dengan kerja sama Gubernur Belanda. Dan akhirnya Slotering meninggal dengan diberi racun di dalam makanannya saat diajak makan malam di rumah Bupati oleh kepercayaan Bupati atau menantunya sendiri Demang Raden Wirakusuma.

Sungguh keji perilaku terhadap orang yang ingin membebaskan masyarakat dari kemiskinan atas dasar kekayaan yang bukan miliknya sendiri.

Akibat frontalnya Max Havelaar dalam negosiasi Gubernur dan Bupati Lebak, akhirnya Max Havelaar dimutasi ke Lampung dan dikembalikan ke Belanda tempat di mana ia berasal.

Sejarah kekejaman yang terjadi di Lebak Banten ini telah melahirkan dua insan yang saling mencintai dari masyarakat yang tertindas. Kisah cinta Saijah dan Adinda ini sangat tragis. Kehidupan Saijah sangat sederhana dan penuh keharmonisan selama ia bersama sapinya yang telah menemani hari-harinya, belum lagi ditemani sang kekasihnya Adinda yang setia selalu mengikutii Saijah ke mana ia pergi.

Dengan bekerja di sawah menggunakan sapinya untuk membajak sawah telah dirampas oleh prajurit Bupati dan dijadikan hidangan di rumah Bupati untuk menyambut keluarga dan kerabatnya yang kebetulan juga seorang Bupati di berbagai Lebak di Jawa Barat. Dengan janji akan dikembalikan harta yang dirampas dengan dua kali lipat dari harga sapi tersebut, tapi Saijah beserta keluarganya menolak dengan tawaran itu. 

Akibat penolakan penyerahan sapinya ke prajurit bupati akhirnya kakak Saijah dibunuh dengan tembakan dari senjata prajurit Bupati. hanya ada ikhlas dan kesedihan mendalam dalam diri Saijah dan keluarganya termasuk adinda sebagai kekasihnya.

Cerita ini pun sampai ke Max Havelaar yang disampaikan sendiri oleh Saijah dan Adinda, betapa beraninya sepasang kekasih ini mengaduh kepada Max Havelaar dan melanggar peraturan pemerintahan Bupati bahwasanya dilarang melaporkan kekeluhannya kepada Asisten Residen, yaitu Max Havelaar sendiri. Akibatnya, Saijah dan Adinda dikejar oleh prajurit dan berusaha kabur keluar dari Lebak Banten, dan pada akhirnya mereka mati dibunuh.