Aktivis
2 bulan lalu · 190 view · 4 min baca menit baca · Politik 55113_24521.jpg

Mengulang Percakapan Nasionalisme

Realitas hari ini, dengan selesainya pemilihan serentak di Indonesia, membuat “klaim” kemajemukan dalam artian “kebangsaan” dan keindonesiaan kembali patut dipertanyakan. Dipertanyakan dalam arti: apakah konsep kebangsaan hanya ”diandaikan” tanpa merujuk pada satu definisi yang syarat akan sejarah? Atau nasionalisme hanyalah tinggal nama yang kini telah ditutup oleh politik identitas sehingga publik menjadi gaduh.

Kekacauan yang terjadi – baik di media sosial maupun di dunia nyata – membuat kita sekalian menaruh beberapa asumsi: apakah selain dari politik lima tahunan, adakah sesuatu yang membuat kita sebagai manusia Indonesia terpecah? Dalam melihat kemungkinan perpecahan, seberapa penting kita membicarakan kembali apa itu Nasionalisme?

*

Ketika berbicara konsep persatuan yang dibingkai dengan konsep yang lain, menengok sejarah merupakan satu metode yang membuat konsep kebangsaan ataupun keindonesiaan mempunyai isi dan bentuk sebagai ruang bersama.

Dalam sejarah kolonialisme di tanah “nusantara” oleh kerajaan Belanda – bahkan sampai Jepang – dengan penjajahan sebagai syarat objektif menjadikan perlawanan dari masyarakat setempat di berbagai macam daerah; meskipun hanya sebatas suku-suku, kepercayaan, ataupun agama.

Meskipun sama-sama terjajah namun tidak serta-merta kesamaan nasib membuat satu alternatif gerakan persatuan untuk melakukan perlawanan.

Persatuan dalam skala yang lebih besar belum mendapatkan bentuknya untuk melakukan perlawanan kepada kolonial. Setelah Ernest Renan melakukan kajian di bidang politik dalam menemukan konsep nasionalisme dengan menuliskan sebuah buku dengan judul What is a Nation? (apakah bangsa itu?) barulah ditemukan suatu definisi kebangsaan dan bentuk nasionalisme.


Akbiat dari tulisan Renan, pengaruhnya sangat terasa di Eropa dengan kemunculan berbagai negara-bangsa sehingga mempengaruhi tanah jajahan, termasuk Hindia Belanda.

Dampak dari konsep kebangsaan bisa dirasakan dari berkumpulnya para pemuda Hindia Belanda dari berbagai wilayah dengan meninggalkan sekat-sekat kedaerahan.  Kesamaan rasa terjajah dengan merujuk pada konsep kebangsaan, rasa ingin merdeka menjiwai seluruh pemuda.

Deklarasi kemerdekaan dikumandangkan – perlu diingat, situasi pada masa ini dalam masa penjajahan – dengan berani dalam Sumpah Pemuda. Hal demikian terjadi, selain karna kesamaan akan keterjajahaan sehingga perlunya kemerdekaan, ada suatu konsep yang didefinisikan bersama sebagai rujukan persatuan, yaitu nasionalisme.

Setelah deklarasi kemerdekaan oleh pemuda, nama Indonesia mulai familiar. Selain konsep bangsa yang menjadi acuan persatuan, konsep negara (Indonesia) juga menjadi rujukan sebagai ruang persatuan. Nasionalisme mendapatkan bentuk dan isi sebagai ruang gerak.

Kebangsaan sebagai rasa sama terjajah, senasib dan sepenanggungan sehingga ada kesamaan dan menemukan titik artikulasi untuk persatuan, tidak terpecah-pecah oleh kepentingan suku, ras, kepercayaan, ataupun agama dan sama-sama melakukan perlawanan untuk memperoleh kemerdekaan.

Meskipun secara warna kulit kita berbeda, bahasa kita berbeda-beda, tradisi, kepercayaan maupun agama, namun konsep kebangsaan tidak bisa dilihat dari peta demikian, dan tidak juga dilihat secara geografis.

Kebangsaan merupakan sesuatu yang berada diluar kita, bukan yang terberih, namun suatu konsep yang terus dikonstruksi sebagai titik temu karna sama-sama terjajah. Dikonstruk oleh bahasa melalui media massa. Dan akhirnya diterima sebagai titik pertemuan yang partikular menjadi universal.

Antara saya dan dia yang berbeda disatukan oleh definisi kebangsaan yang berada diluar kita, diandaikan secara bersama. Suatu pengandaian yang berangkat dari definisi otentik para pendiri bangsa di masa revolusi. Definisi itu yang perlu terus diulang-ulang dengan merujuk pada satu inti, yaitu nasionalisme sebagai ruang persatuan dari berbagai yang-beda.

**

Proklamasi didengungkan, kemerdekaan dicapai, bentuk negara diperoleh. Indonesia hadir sebagai artikulasi baru yang diandaikan bersama dalam bingkai keindonesiaan.

Keindonesiaan berarti menjunjung tinggi persatuan tanpa mendahulukan sekat-sekat partikular, menjunjung kepentingan publik dan nasional, menghargai segala jenis perbedaan.

Ketika kita merujuk pada definisi awal tentang apa itu persatuan, pastilah itu berada dibawah konsep nasionalisme. Dasarnya adalah kepentingan negara-bangsa perlu dijaga bersama.

***

Di masa ini, di mana nasionalisme tidak lagi dibicarakan, itu berdampak pada “persatuan Indonesia”. Masyarakat dan politik sekarang tidak lagi mempunyai kejelasan ke mana gerak sejarah kedepan. Terjebak kepada “politik pengakuan diri” sehingga politik identitas-pun menguat. Situasi masyarakat dan politik yang dalam gambaran Laclau dan Mouffe sebagai “penanda kosong” (empty signifier), penanda yang selalu rentan akan manuver.

Kaburnya narasi nasionalisme beserta dengan definisi sejarahnya membuat tidak lagi ada konsep yang diandaikan bersama sebagai satu titik artikulasi ruang persatuan.  


Di sini, selain kita merujuk pada sejarah, kita juga harus kembali ke literasi-literasi yang masi mempertahankan dan menjunjung tinggi konsep keindonesiaan. Misalnya kita merujuk kepada tulisan-tulisan Abdurrahman Wahid (Gusdur) ataupun kepada Ahmad Syafii Maarif (Buya).

Gusdur sangat mengedepankan persatuan dan kesatuan. Bagi dia di atas politik adalah kemanusiaan. Kemanusiaan dalam arti: di atas semua atribusi pada diri manusia (gender, ras, dst) kita semua bertemu pada satu titik yang kita semua adalah sama, yaitu manusia. Menjadi manusia artinya kita adalah sama, tidak merasa lebih dari yang lain sehingga titik kemajemukan menjadi ruang bersama sebagai ruang persatuan.

Buya dalam buku Islam Dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan mengatakan bahwa: “bangsa ini wajib dibela secara jujur dan bertanggung jawab. Itu merupakan makna konkret dan sejati dari nasionalisme pasca-reformasi.”

Dengan situasi sekarang yang makin kronis, kita harus kembali merujuk kepada konsep-konsep dasar pembentukan negara. Membicarakan kembali konsepsi nasionalisme dan persatuan menjadi penting kemudian.

Seluruh elemen dalam masyarakat harus kembali mengulang pembicaraan apa itu nasionalisme dengan bertolak dari sejarah. Segala konsep selalu rentan dengan pendefinisian kembali melalui manuver-manuver. Namun, jika kita selalu bertolak dari sejarah, titik artikulasi nasionalisme akan bertumpu pada persatuan dan kemajemukan bangsa.

Artikel Terkait