Jurnalis
2 minggu lalu · 603 view · 5 min baca menit baca · Seni 53243_40878.jpg
Para musisi lokal Curup berkumpul saat diskusi tentang perkembangan musik di Kota Curup

Mengukir Kembali Masa Keemasan Musik Curup

Pada era tahun 1990-an, siapa yang tidak kenal Band Rock asal Kota Curup, Three Brothers dengan single-nya yang berjudul Setan Morfin?

Band asal Kota Curup ini masuk dalam 10 finalis Festival Rock se-Indonesia ke-VI pada tahun 1991. Nama Three Brothers kemudian masuk dalam album kompilasi yang diproduseri oleh Log Zhelebour. Sejak saat itu, Kota Curup digadang-gadang menjadi kiblatnya kemajuan musik di Provinsi Bengkulu.

Namun, hingga tahun 2004 dan seterusnya, industri musik di Kabupaten Rejang Lebong yang akrab disebut Kota Curup itu mengalami penurunan. Ada keresahan yang muncul dari para musisi dan bagi mereka entrepreneur di bidang musik yang melihat produktivitas musik Curup yang belum juga bangkit dari tidur panjang.

Kurangnya wadah bagi musisi lokal yang butuh ruang untuk berekspresi disinyalir jadi penyebab turunnya aktivitas industri musik di Kota Curup. Tak banyak karya yang tercipta. Event-event musik mulai hilang dari panggungnya. Tidak ada lagi suara-suara alunan musik saat festival band bergema di sekolah seperti dahulu.

Andi, salah satu punggawa Robusta band indie lokal yang bergenre Reggae, mengatakan kurangnya gairah musik di Kota Curup karena tidak adanya wadah bagi para pelaku musik. Selain itu, menurunnnya regenerasi juga menjadi salah satu penyebab musik saat ini terkesan mati suri.

“Musik Curup yang dulu sempat memasuki masa keemasannya saat ini mengalami penurunan. Ini akibat kurangnya wadah bagi mereka yang ingin berekspresi,” katanya.

Bagi Andi, ada keresahan juga yang dialaminya kala tak banyak musisi senior yang dulu sempat menikmati masa keemasan bermusik luput untuk melakukan regenerasi. Menurut dia, kebanyakan dari musisi tersebut asyik dengan karier band bentukan sendiri.  


“Kenyataan yang terjadi adalah musisi senior lupa untuk melakukan regenerasi. Harapannya, mereka yang sudah lama berkarier dapat memikirkan kemajuan generasi penerus untuk kemajuan musik Curup,” imbuhnya.

Menurut Andi, penurunan gairah musik di Kota Curup terjadi sejak era 2004 hingga saat ini. Padahal dulunya, di era sebelum itu, gairah musik Curup sangat berkembang pesat dengan banyaknya ruang untuk berekspresi yang berdampak dengan lahirnya band-band indie baru yang memiliki kualitas tak kalah dengan kota lain.

“Ada pembatasan ruang berekspresi bagi mereka yang ingin mengembangkan seni bermusik, terutama di sekolah. Yang terjadi setelah era itu, tak banyak sekolah yang berani mempertahankan ekstrakulikuler musik atau band bentukan sekolah. Dan yang terjadi, ruang tersebut tertutup hingga sekarang,” ujarnya.

Band indie lokal Curup yang tengah mengisi acara diskusi Langkah Bersenyawa

Melihat perkembangan musik di Kota Curup yang saat ini sedang mati suri, mengakibatkan berdampak kepada pengusaha studio musik. Beberapa di antaranya bahkan sudah gulung tikar karena band-band baru yang tak kunjung muncul untuk berkreativitas. Pengusaha studio musik yang saat ini masih bertahan harus memutar otak agar ekonomi bisa tercukupi.

Senada juga disampaikan Mirkal Vokalis Dissa Band, pelantun lagu Menunggumu yang pernah eksis di era tahun 2008. Ia mengatakan, menurunnnya gairah musik di Kota Curup dikarenakan kurangnya kompetisi bagi band-band lokal yang ingin mengembangkan kemampuan bermusik.

“Kompetisi yang jarang saat ini menyebabkan para pelaku musik merasa enggan untuk berkreativitas. Ini kemudian berdampak kepada yang sedang menjalankan bisnis di bidang musik,” katanya.

Begitu pun yang terjadi pada musisi-musisi lokal yang masih bertahan saat ini. Meski industri musik saat ini tengah berkembang pesat, namun tak banyak yang mampu menciptakan karya musik di tengah perkembangan industri musik.

“Tak banyak karya yang dihasilkan dari pelaku musik, khususnya band indie lokal. Sehingga menyebabkan gairah untuk maju bersama di bidang musik menjadi berkurang,” ujarnya.

Kurang Apresiasi

Selama berkarier di bidang musik, Andi mengatakan masih adanya pemahaman yang salah dari sebagian masyarakat terhadap musik, khususnya di Kota Curup. Kata dia, banyak masyarakat yang masih berpikir bahwa musik merupakan seni yang tidak patut untuk dikembangkan dan juga kurang diterima oleh masyarakat.


Menurunannya gairah pelaku musik di Curup karena kurangnya dukungan dari masyarakatnya sendiri, terutama bagi mereka musisi yang memilih genre Reggae dan Rock. Dia pun mengakui, untuk mengubah pemahaman masyarakat tersebut, memerlukan waktu yang cukup lama agar karya musik mereka diterima.

“Contohnya seperti kami di Robusta yang bergenre Reggae, penerimaan masyarakat terhadap karya kami sangatlah kurang. Kami saja, untuk mengubah itu, perlu mental dan waktu yang lama agar musik kami bisa diterima masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, kurangnya apresiasi dari pemerintah daerah kepada musisi yang sudah berkarier di dunia musik dinilai masih sangat kurang saat ini, termasuk memberikan dukungan kepada sekolah yang ingin membangkitkan kembali eksistensi ekstrakulikuler di bidang musik.  

“Saya akui, pemerintah kita masih kurang dalam memberikan apresiasi terdapat musisi yang mempunyai karya. Ada juga yang manggung di acara pemerintah, tapi tidak dibayar sepeser pun. Padahal ini seni lho, karya yang sepatutnya mendapatkan apresiasi,” ujarnya.

Harapan Baru

Mirkal Vokalis Dissa, yang turut berkontribusi dalam album kompilasi Indie Curup Volume I

Melihat kemajuan musik di Kota Curup yang hingga saat ini masih mati suri, Andi bersama musisi-musisi lainnya berinisiatif menyediakan wadah bagi musisi yang memiliki karya. Itu mulai dilakukan melalui “Musik Bersenyawa”, sebuah platform untuk mendukung band indie Curup yang sudah memiliki karya dan mulai mempromosikannya.

Sebuah album yang bertajuk Curup Indie Compilation Volume I akan segera launching awal Agustus 2019 mendatang. Sebanyak 10 Band indie turut serta dalam album ini, di antaranya Dissa Band dengan lagu Terjebak Kenangan, Robusta Berbisik Rindu, Atlants WORDS, DC Alfine Berhenti Mengenang, dan Bugenveil Gladiator.

Kemudian DI So’Fine dengan lagu Tenggelam Bersama Luka, Horus The Seth Inside, Koko Crunch Rebellion, RAS Dengarkan Laguku, serta Bola dengan lagu yang berjudul Jangan Bohongi Hatimu.

Kata Andi, terciptanya album ini merupakan kontribusi dari band-band yang terpilih dan dukungan promotor. Dia menjelaskan proses penggarapan album tersebut dilakukan dengan cara memilih band-band indie lokal yang sudah memiliki karya, namun tidak memiliki wadah untuk mempromosikannya. 

Karya yang terpilih hanya mengirimkan demo dan biaya Rp50.000 per band sebagai biaya produksi. Uang itu nantinya akan dikembalikan menjadi hard-copy bagi masing-masing Band dan 10 hard-copy tambahan yang akan diserahkan kepada promotor.


“Inilah wadah baru untuk membangkitkan kembali masa keemasan musik di Kota Curup. Ini sebagai awal untuk mendorong para pelaku musik lainnya untuk menciptakan karya. Karena harapannya, setelah volume I launching , maka keluarlah album kompilasi selanjutnya,” terangnya.

Bagi Andi, Musik Bersenyawa merupakan sebuah wadah yang harapannya harus terus berkembang. Dan juga menjadi salah satu solusi untuk melakukan regenerasi terhadap dunia musik di Curup khususnya.

Untuk mendorong kemajuan musik di Kota Curup, rencananya album ini nantinya akan diperbanyak dan mulai dikomersialkan. Dan dari hasil penjualannya pun tidak menutup kemungkinan untuk membuat album selanjutnya dan memberikan kesempatan kepada band indie lainnya yang memiliki karya.

“Ketika album ini diperbanyak dan mulai dipasarkan, uang hasil penjualan akan digunakan untuk produksi album selanjutnya. Nah, ini kesempatan bagi band-band yang belum tergabung agar segera menciptakan karya. Tentu karya yang dihasilkan harus memiliki nilai jual dan berkualitas karena ada proses seleksi juga di balik album ini,” jelasnya.

Andi berharap, dengan lahirnya Album Kompilasi, ini membuat gairah pelaku musik di Kota Curup mulai menggeliat. Harapan lainnya, menjadikan album ini sebagai daya dorong untuk kembalinya masa keemasan musik Curup.

“Ini menjadi langkah awal, langkah bersenyawa, yang artinya untuk kemajuan musik Curup bersama-sama,” tutupnya.

Artikel Terkait