63891_86355.jpg
Filsafat · 10 menit baca

Menguji Ketepatan Definisi Islam Nusantara
Ngaji Mantik Bag. 36

Meski tak seheboh dulu, kita semua tentu ingat bahwa istilah Islam Nusantara pernah menjadi salah satu perdebatan hangat yang melibatkan banyak kalangan dari Muslim Indonesia. Istilah ini pertama kali dimunculkan oleh kalangan Nahdatul Ulama (NU). Persisnya ketika ia diangkat sebagai salah satu tema sentral dalam muktamar NU yang ke-33 di Jombang.

Setelah istilah itu didengungkan, muncullah resistensi dari berbagai kalangan. Banyak yang setuju, tapi tak sedikit yang menolak. Ada banyak argumen yang dikemukakan, baik dari yang pro maupun yang kontra. Beberapa argumen tersebut akan kita kemukakan ulang secara singkat dan seperlunya dalam tulisan ini. Setelah itu akan kita uji berdasarkan kaidah-kaidah ilmu logika yang sudah kita pelajari sebelumnya.

Tulisan ini tidak bertujuan untuk memperdebatkan istilah Islam Nusantara itu sendiri. Tapi yang jadi fokus utama dalam tulisan ini ialah upaya untuk menguji ketepatan istilah tersebut menurut kaidah ilmu logika, yang sebagian besarnya sudah kita terangkan dalam beberapa tulisan yang lalu.

Karena itu, argumen-argumen yang dikemukakan pun sangat terbatas. Singkat kata, tulisan ini hanya berusaha untuk mempraktekkan kaidah-kaidah itu saja. Tidak lebih. Selebihnya silakan para pembaca sendiri yang menilai. Oke, sekarang mari kita mulai diskusi kita tentang istilah Islam Nusantara itu.  

Pertama, saya ingin mengemukakan argumen dari yang pro dulu, yaitu dari mereka-mereka yang menjadi inisiator di balik kemunculan istilah Islam Nusantara. Dalam salah satu tulisan yang berjudul: Apa yang dimaksud dengan Islam Nusantara?, Prof. Dr. Oman Fathurrahman, Guru Besar Ilmu Filologi dari UIN Jakarta, mendefinisikan Islam Nusantara sebagai berikut:

Islam yang empirik dan distingtif sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, penerjemahan, vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial, budaya, dan sastra di Indonesia.

Apakah definisi ini sudah tepat? Kalau belum, di mana letak kelemahannya? Dari beberapa syarat yang sudah kita terangkan, definisi di atas tidak mengikuti ketentuan bahwa yang mendefinisikan (mu’arrif) itu harus lebih jelas ketimbang yang didefinisikan. Singkat kata, definisi ini terlalu njlimet.

Alih-alih memberi penjelasan, dia hanya menyuguhkan kata-kata yang rumit dan memusingkan. Padahal, definisi itu harusnya memperjelas, bukan memperumit. Di samping bahasanya yang rumit, definisi ini juga tidak memenuhi kaidah standar. Tidak jelas mana jins-nya dan mana fashl-nya. Dengan demikian, definisi semacam ini tidak layak dijadikan sandaran. Karena itu layak kita tolak.   

Argumen lainnya dikemukakan oleh yang mulia KH Said ‘Aqil Siradj. Ketua Umum PBNU itu menegaskan bahwa sejujurnya yang dimaksud dengan Islam Nusantara itu bukan mazhab baru dalam Islam.

Islam Nusantara itu—demikian kiai Sai’d berargumen—hanyalah tipologi, atau khashaish, kata kiai Sa'idIslam Nusantara itu adalah Islam yang disebarkan dengan perdamaian, tanpa darah, tidak seperti halnya Islam Arab, yang kerap diwarnai konflik dan peperangan.

Islam atau umat Islam yang berkembang di kawasan Nusantara, yang kita warisi dari para wali atau ulama leluhur kita. Mereka telah berhasil menyebarkan Islam ke seluruh Nusantara, mereka berhadapan dengan Majapahit, Sriwijaya, dan kerajaan-kerajaan lain. Berhasil mengislamkan bangsa ini tanpa kekerasan, tanpa berdarah-darah, tapi dengan pendekatan budaya akhlakul karimah. Menunjukkan Islam itu beradab, bermartabat, disiplin, dan bersih penampilannya.

Islam Nusantara itu artinya Islam yang tidak menghapus budaya, Islam yang tidak memusuhi tradisi, Islam yang tidak menafikan atau menghilangkan kultur. Islam Nusantara adalah Islam yang mensinergikan nilai-nilai universal bersifat teologis dari Tuhan yang ilahiah dengan kultur budaya tradisi yang bersifat kreativitas manusia atau insania.” Paparnya dalam sebuah wawancara. Ia juga menambahkan bahwa dengan istilah Islam Nusantara itu: "Kita tidak mengada-ada dengan terminologi itu seolah baru. Kami hanya mengingatkan, Islam yang saat sekarang, yang menjunjung tinggi toleransi, saling menghormati, beradab, dan berbudaya, adalah Islam kita di Nusantara ini." 

Dari paparan tersebut, jelas bahwa yang dimaksud dengan istilah Islam Nusantara—dalam perspektif kiai Said—bukanlah suatu mazhab—apalagi agama—baru dalam Islam. Hanya saja, ia memiliki kekhususan-kekhususan tertentu (kiai Sa’id menyebutnya dengan istilah khashaish), seperti toleran, damai, beradab, disiplin, bermartabat, dan lain sebagainya. Ini ringkasan dari penjelasan kiai Sa’id.

Paparan kiai Said ini lebih jelas dari paparan sebelumnya. Kalau mau diringkas lagi, Islam Nusantara dalam perspektif kiai Said itu bisa didefinisikan sebagai “Islam yang disenyawakan dengan budaya nusantara, yang ciri utamanya adalah toleran, beradab, dan bermartabat, berbudaya dan seterusnya”. Apakah definisi itu sudah tepat? Sebelum dijawab, ada baiknya kita kemukakan argumen dari yang kontra terlebih dahulu.   

Kedua, argumen dari yang kontra. Dalam hal ini saya mengutip satu pendapat saja, yaitu pendapat yang dikemukakan oleh ustad Felix Siauw. Saya sengaja menyertakan komentar Felix Siauw, bukan karena saya mengidolakan beliau, tetapi karena pandangan Felix Siauw ini—sejauh yang bisa kita amati—bisa mewakali argumen dasar dari para penolak gagasan tersebut.

Menurut Felix, istilah Islam Nusantara itu sebenarnya tidak perlu dipersoalkan kalau yang dimaksud dengan istilah tersebut itu ialah suatu cara keberislaman yang ada di wilayah Nusantara. Felix sendiri setuju dengan istilah itu, kalau memang tafsirannya seperti yang tadi itu. Lalu apa yang menjadi keberatan Felix?

Yang menjadi keberatan dia ialah ketika tambahan kata Nusantara itu digunakan untuk "mendistingfikasi"—dalam istilah Felix—antara yang satu dengan yang lain sehingga muncullah kesan bahwa yang toleran dan damai itu hanya Islam Nusantara belaka. Selainnya, seperti Islam Arab, misalnya, jauh dari nilai-nilai luhur tersebut. Argumen felix selengkapnya bisa Anda lihat pada tautan ini.

Sekarang kita akan menguji ketetapan istilah tersebut dan definisi yang terangkai di baliknya berdasarkan kaidah-kaidah ilmu logika yang sudah kita terangkan dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Penjelasan tentang hal ini akan saya rangkum kedalam tiga poin besar sebagai berikut:

Pertama, penting dicatat bahwa kata Islam itu sendiri—jika dimaknai sebagai sebuah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw—bukan sebuah kata yang bersifat universal (kulliy), melainkan kata yang bersifat partikular (juziyy). Sementara kita tahu bahwa kata yang bisa didefinisikan—dengan rumusan-rumusan definisi yang sudah kita terangkan itu—hanya kata yang bersifat kulliy saja.

Artinya, kata yang bersifat partikular itu, sebenarnya, tidak perlu didefinisikan dengan rumusan-rumusan ilmu logika; tidak harus menyertakan jins, fashl, khasshah dan seterusnya. Dengan menguraikan makna dan perbedaan antara dia dengan yang lainnya, itu sudah cukup.

Jadi kalau ada pertanyaan apa itu Islam Nusantara? Jawabannya sederhana: Islam yang ada di Nusantara. Atau Islam yang dipeluk oleh masyarakat Nusantara. Titik. Sampai di situ sudah cukup. Pertanyaannya: apakah perlu kita menguji ketepatan definisi ini? Tidak perlu. Mengapa? Karena memang kata yang bersifat partikular itu tidak memerlukan rumusan definisi seperti yang sudah kita terangkan itu.

Tapi, manakala yang dimaksud dengan kata Islam itu ialah corak keberislaman, atau ekspresi keberislaman—bukan suatu agama baru, seperti kata kiai Said—maka ketika itu ia menjadi kulliy, menjadi universal. Karena mafhum dari kata tersebut berlaku bagi banyak individu.

Dan setiap mafhum yang berlaku bagi banyak individu itu, dalam ilmu mantik, disebut sebagai kulliy. Karena dia kulliy, maka definisi yang terangkai harus sesuai dengan kaidah-kaidah yang diberlakukan dalam ilmu mantik.

Baca Juga: Ngaji Logika

Karena itu, kalau mau menggunakan istilah yang lebih tepat, seharusnya istilah yang digunakan itu bukan Islam Nusantara, melainkan corak keislaman Nusantara. Atau ekspresi keislaman nusantara. Atau apa saja asalkan jangan menyertakan kata Islam di awalnya. Karena kata Islam itu sendiri—sekali lagi—bersifat partikular. Artinya dia hanya berlaku bagi satu individu saja. Manakala kita perbanyak, maka di situlah kita akan terjebak dalam kesalahan berpikir. Lalu apa definisi yang tepat dari ekspresi keislaman Nusantara itu--kalau kita ingin memaknainya sebagai sebuah ekspresi?

Jawabannya ialah—seperti yang kita simpulkan dari paparan kiai Said di atas—corak/ekspresi keislaman yang diatribusikan dengan budaya Nusantara. Mafhum atau makna corak keislaman menjadi jins (genus), dan frase “yang diatribusikan dengan budaya Nusantara” menjadi fashl (differentia). Itulah esensi (mahiyyah) dari corak keislaman Nusantara yang sesungguhnya.   

Kedua, kalau yang dimaksud dengan istilah Nusantara itu seperti penjelasan di atas, apa kira-kira respon dari orang-orang seperti Felix Siauw dan semacamnya itu? Saya yakin, mereka tidak akan menolak. Buktinya Felix sendiri tidak keberatan dengan konsep Islam Nusantara yang seperti itu.

Apa masalahnya kita memperkenalkan suatu corak keislaman yang disenyawakan dengan budaya Nusantara, sejauh tidak bertentangan dengan nilai-nilai Agama? Tidak ada yang salah. Apa harus ada yang dipersoalkan? Tidak ada. Kalau memang tafsirannya seperti yang kita jelaskan di atas itu.

Masalah itu mulai muncul manakala para pengusung ide Islam Nusantara ini sering memperkenalkan corak keislamannya sebagai corak keislaman yang toleran, damai, menghargai perbedaan, tidak disebarkan melalui peperangan, dan lain sebagainya. Seolah-olah itu menjadi kekhususan yang hanya dimiliki oleh Islam Nusantara semata.

Dalam istilah ilmu mantiknya, atribut-atribut di atas dijadikan sebagai khasshah (proper aksiden) bagi Islam Nusantara. Padahal, kita tahu dari kaidah sebelumnya bahwa khasshah atau proper aksiden itu hanya boleh kita lekatkan pada sesuatu kalau memang dia hanya dimiliki oleh sesuatu itu dan tidak dimiliki—sekali lagi tidak dimiliki—oleh sesuatu yang lain.

Sekarang kita lihat, apakah corak keislaman yang damai, toleran, beradab, dan bermartabat itu hanya dimiliki oleh Islam Nusantara semata? Saya keberatan untuk berkata iya. Dan rasanya, orang yang memiliki pengamatan mendalam pasti akan berkata tidak.

Fakta menunjukan bahwa nilai-nilai toleransi dan perdamaian itu bukan hanya ada di Nusantara sehingga ia bisa kita jadikan sebagai kekhususan Islam Nusantara. Di Mesir sendiri nilai-nilai seperti itu saya dapatkan, dan saya lihat dengan mata kepala sendiri.

Artinya, corak keislaman di Mesir pun—terlepas dari konflik masa lalu yang pernah menimpa negeri ini—sangat damai, menyejukkan, toleran, dan menghargai perbedaan. Sekiranya saya tidak mengimani konsep Islam Nusantara itu, saya yakin kalau saya bisa menjadi Muslim yang toleran, anti kekerasan dan menghargai perbedaan dan keragaman.

Dengan demikian, tidak ada alasan kuat bagi kita mengatakan bahwa spirit perdamaian itu hanya dimiliki oleh Islam Nusantara. Karena memang, ajaran Islam itu sendiri pada dasarnya mendorong umatnya untuk membangun perdamaian dan menghargai perbedaan. Tanpa harus diikuti dengan kata Nusantara pun, ajaran Islam pada dasarnya memang begitu. 

Ketiga, istilah Islam Nusantara dimunculkan sebagai upaya untuk menunjukan adanya corak keislaman yang sarat dengan nilai-nilai perdamaian. Dengan kata lain, dalam pengamatan saya, istilah ini sengaja dimunculkan sebagai bentuk antitesa atas corak keislaman lain yang terkesan barbarik, radikal, juga sarat dengan konflik dan permusuhan. Apakah cara ini salah? Tentu tidak salah.

Baca Juga: Apa Itu Daur?

Lalu di mana letak kesalahannya? Letak kesalahannya ialah ketika sebagaian dari mereka menjadikan nilai-nilai toleransi dan perdamaian itu sebagai kekhususan yang dimiliki oleh Islam Nusantara itu sendiri. Seolah-olah corak keislaman lain—yang ada di belahan bumi lain, misalnya—tidak mengamalkan nilai-nilai itu.

Dalam konteks ini, pandangan Felix Siaw, hemat saya, sangat tepat. Bahwa seharusnya para penggagas ide Islam Nusantara itu tidak perlu mendemonstrasikan corak keislaman yang mereka usung sebagai corak keislaman yang damai, toleran, anti radikalisme dan terma-terma sejenisnya. Mengapa? Karena semua atribut dan keunikan yang mereka sebutkan itu bukan hanya dimiliki oleh Islam Nusantara.

Dalam bahasa ilmu mantik, dia tidak bisa diposisikan sebagai khasshah (proper aksiden), karena beberapa atribut yang dilekatkan pada Islam Nusantara itu juga dimiliki oleh corak keislaman yang lain. Lebih tepatnya ia harus diposisikan sebagai ‘aradh ‘am (common accident) sehingga kita tidak menafikan adanya corak keislaman lain—di belahan bumi lain—yang juga mengaplikasikan nilai-nilai seperti yang tadi kita sebutkan itu.

Kalau motif utamanya hanya untuk menunjukan Islam yang damai, seharusnya kita tidak perlu menggagas ide Islam Nusantara, tapi mengembalikan Islam itu sendiri kepada esensinya yang semula. Tanpa harus Anda sertai dengan kata Nusantara, ajaran Islam pada dasarnya memang menghargai perbedaan, mendorong umat manusia untuk hidup berdampingan secara damai, menolak kekerasan, mengusung ide toleransi, dan lain sebagainya.

Kecuali kalau di sana ada motif lain, yaitu, misalnya, mempromosikan budaya kenusantaraan yang senafas dengan nilai-nilai Islam. Ketika itu baru ia bisa dijadikan kekhususan, kalau memang potret kebudayaan tersebut tidak kita temukan dalam corak-corak keislaman yang lain.          

Kesimpulannya, cukup beralasan jika istilah Islam Nusantara itu tidak dimaksudkan sebagai sebuah mazhab baru dalam Islam. Tapi, penggunaan istilah itu sendiri--dari sudut Ilmu Logika--kurang tepat, karena penggunaan istilah tersebut seolah memberikan pemahaman bahwa Islam itu—sebagai sebuah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, seperti yang kita pahami—bersifat universal (kulliy), sementara kita tahu bahwa dia itu partikular (juziyy)

Istilah yang lebih tepat itu barangkali bukan Islam Nusantara, melainkan corak keislaman Nusantara, atau ekspresi keislaman Nusantara, dengan definisi yang sudah kita kemukakan di atas itu. Kalau istilah ini yang dimunculkan, niscaya penolakan secara membabi-buta itu tidak akan kita temukan di dinding-dinding sosial media. 

Di situlah pentingnya mempelajari Ilmu Logika. Andai kata sebagian besar dari kita itu berbicara, berpikir, dan mengutarakan pendapatnya dengan dasar-dasar Ilmu Logika yang baik dan benar, barangkali energi kita tak akan terkuras untuk hal-hal yang tidak perlu diperdebatkan itu. Demikian, wallahu 'alam bisshawab.