Hampir sebagian besar orang sangat suka berbicara dan apa yang sering mereka katakan hanyalah kebisingan atau omong kosong yang ditujukan untuk membuat diri mereka terhibur. ― Stuart Wilde  

Meminta maaf, demikian kewajiban etis manusia bermoral ketika melakukan kesalahan dan bertanggung jawab terhadap kekhilafan tersebut.

Tidak peduli pejabat, artis, raja, atau orang miskin, semua punya kewajiban di dalam meminta maaf di kala melakukan sebuah kesalahan. Kemuliaan, kira-kira itulah nilai dari sebuah permintaan maaf di saat seseorang mampu dengan penuh kesadaran menyesali perbuatannya.

Sayangnya, belakangan ini kita sering mendengar orang meminta maaf di media sosial, utamanya dari kalangan Selebgram dan Youtuber akibat ulah candaan atau sarkastik mereka.

Masih ingat dengan Ferdian Paleka yang belum lama ini menghebohkan jagat maya lewat prank yang dilakukannya kepada sejumlah waria dengan memberikan sembako berupa sampah yang disimpannya di dalam dos mi instan? Karena ditahan polisi, ia pun meminta maaf atas perbuatannya.

Seorang Youtuber dan Selebgram, Sarah Keihl, menuai kontroversi karena aksi sarkastik atau candaannya mengenai lelang keperawanan. Ia membuat unggahan di Instagram untuk melelang keperawanannya demi membantu penanganan Covid-19. Selang beberapa jam kemudian, ia pun menghapus unggahannya dan meminta maaf.

Sebelum Sarah, Youtuber Indira Kalistha juga melakukan aksi kontroversinya dengan mengatakan virus Covid-19 adalah hal yang sepele. Ia pun meminta maaf setelah banyak mendapatkan hujatan dari para netizen.

Seolah tak kapok dan menyesali perbuatannya, aksi para Selebgram dan Youtuber mempertontonkan hal yang tak terpuji atau sarkastik masih sering kita jumpai meskipun di antaranya harus mendekam di penjara.

Betul, 'maaf' adalah suatu pernyataan sikap mengakui dan bertanggung jawab terhadap kekeliruan atau kesalahan yang telah dibuat. Tapi hal ini bernilai percuma jika diucapkan berulang kali, seolah maaf ini adalah bagian dari hiburan yang pada akhirnya menghilangkan otentitas dan kemuliaan dirinya.

Maaf’ yang receh, mungkin ini jahat menyebutnya tapi dengan sangat menyesal tidak ada pilihan lain selain mengungkapkan hal itu.

Tegasnya, apa yang dianggap mulia dan etis dari perwujudan maaf ini bergeser menjadi tuna mulia (receh) karena berulang kali diucapkan oleh orang yang sama tanpa ada kesadaran untuk menghindari hal itu sehingga yang didapat hanyalah keterangan ketidakpastian tentang arti sebuah penyesalan.

Dalam bahasa lain, ‘Maaf’ bukan penyesalan dalam arti ‘considerate reality’, melainkan sebuah upaya strategis untuk mengamankan tendensi manusia pada hasratnya.

Jangan-jangan ini seperti cerita Ferdinand dari Aragon yang menggunakan agama sebagai pelengkap untuk mencapai tujuannya. Artinya, bisa jadi ‘Maaf’ selalu dihadirkan dalam kepentingan yang ‘sensasional adab(iah)’, bukan esensial dan berharap hal itu menjadi sebuah keniscayaan yang harus diterima dan ditoleransi.

Jadi, tidak ada guna permintaan maaf terus diucapkan di ruang publik karena hadirnya hanya sebagai bagian dari sebuah rekreasi atau pertunjukan drama dari seseorang yang sepertinya sangat mengidamkan sebuah pengakuan besar dari masyarakat.

Dalam kondisi seperti inilah tanggung jawab etis masyarakat sangat menentukan nilai moral seorang publik figur. Layaknya menonton sebuah drama, publik diberi kebebasan untuk mem-voting kelayakan sebuah drama berikut dengan para pemainnya. Jika bagus, maka beri voting atau rating yang tinggi. Sebaliknya, tinggalkan jika jauh memenuhi kelayakan publik.  

Public judgment, begitulah nilai moral atau etis diukur bukan personal judgment. Publik berhak menghakimi atau memberi apresiasi jika publik figur tersebut berprestasi.

Agama dan Seni

Dalam ajaran agama apa pun mengajarkan kita untuk menjadi makhluk yang serba proporsional, termasuk pola pikir yang harus benar (sahih) dan lisan yang harus jelas (sharih).

Menjadi pekerja seni seperti mereka para Selebgram atau Youtuber bukanlah hal yang salah apalagi aib.

Dalam salah satu ajaran agama, yakni Islam tidak melarang hal yang berbau seni sejauh hal tersebut tidak keluar dari batasan proporsional sebagaimana disinggung dalam surah Al-Furqan ayat 67 bahwa mereka yang membelanjakan hartanya tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, Adapun harus di tengah-tengah antara yang demikian.

Dalam konteks seni, membuat konten kreasi untuk memperoleh banyak followers tidaklah jadi soal sejauh hal itu dilakukan dengan cara-cara yang beradab dan beretika. Sebaliknya, sangatlah keliru ketika membuka pintu lebar-lebar untuk memenuhi kepuasan nafsu sehingga pekerjaan sebagai seniman hanya diisi dengan hiburan dan main-main belaka.

Mereka inilah yang getol memprovokasi dekadensi moral, mempropagandakan sikap permisif (serba boleh) terhadap setiap perilaku yang selama ini bertentangan dengan norma yang dianut masyarakat kita dengan mengatasnamakan seni dan hiburan. Akibatnya, mereka meleburkan dinding pemisah antara yang diwajibkan dan diharamkan atau yang dipantaskan dan dihinakan.

Jangan lupa bahwa standar setiap persoalan adalah esensi etis yang dipunyai, bukan kemasan dan namanya yang menjadikan mereka bersikap ceroboh atau sarkastik.

Popularitas, demikian hal yang dikejar oleh mereka sampai-sampai mereka tidak mengindahkan lagi batasan moral yang berlaku di tengah masyarakat. Tentu saja, hal ini tidak ditujukan kepada semua Selebgram dan Youtuber karena di antara mereka ada juga yang masih mencintai kesantunan dan kepantasan dalam berseni.