Mahasiswa
1 bulan lalu · 112 view · 3 menit baca · Lingkungan 43836_39157.jpg
Foto: Financial Times

Mengubah Pola Pikir tentang Kertas

Untuk urusan ilmu pengetahuan, bisa jadi penggunaan kertas sudah tak relevan lagi. Peran dan fungsinya yang dulu sempat dibangga-banggakan banyak manusia itu sudah hampir musnah. Ia nyaris raib ditelan arus deras perubahan zaman.

Benar! Perkembangan produk-produk teknologi hari ini, diakui atau tidak, sedikit-banyak telah menggeser posisi kertas. Kecanggihan teknologi membuat eksistensi kertas makin tak berdaya. Keberadaannya yang sempat menjadi media tulis-menulis atau alat penyebaran informasi paling utama itu kini dikuasai penuh oleh ciptaan-ciptaan manusia bertaraf tinggi bernama teknologi.

Meski demikian, bagi kita para pencinta kertas, tetap tak perlu khawatir akan kemorosotan kertas ini. Sebab, untuk masalah keberlanjutan lingkungan hidup, eksistensi kertas justru mampu melampaui tujuan penciptaannya sendiri. Bisa disebut, peran dan fungsi kertas bahkan nyaris tak tergantikan oleh apa pun.

Jadi, di sini ada semacam peralihan peran dan fungsi kertas yang harus kita lihat bersama. Dari yang tadinya sebagai media tulis-menulis atau alat penyebaran informasi, kini kertas menjadi bagian tak terpisahkan dari kebutuhan hidup manusia. Dan itu adalah bagian yang paling dekat.

Kertas Sudah Tergantikan?

Pertama harus saya akui, dulu saya sempat bepikiran sempit mengenai kertas. Saya pernah bersikukuh dengan berpandangan bahwa peran dan fungsi kertas hanyalah sebagai media tulis-menulis saja. Saya hanya memandang kertas semata alat bertukar informasi dan ilmu pengetahuan, yang pada gilirannya menciptakan sejarah gemilang dalam peradaban umat manusia.


Bagaimana tidak? Jika kita menilik sejarah penemuan kertas oleh Cai Lun (Ts’ai Lun) di masa Dinasti Han sekitar tahun 105 M, misalnya, kertas memang dibuat untuk pencatatan segala sejarah di zamannya, bukan? Kertas dipakai untuk menggantikan pengggunaan bo berbahan baku sutra yang produksinya sangat mahal akibat kelangkaan bahan bakunya waktu itu.

Artinya, penemuan bahan baku kertas yang baru di masa Cai Lun ini dimungkinkan demi kehidupan yang ekonomis. Mungkin persepsi Cai Lun begini: kalau ada yang lebih murah, kenapa harus pilih yang mahal?

Karena penemuannya, Cai Lun, yang tadinya adalah pejabat pengadilan, akhirnya mendapat gelar kebangsawanan dari istana. Penemuannya benar-benar membantu dalam hal memudahkan pihak istana untuk mendokumentasikan apa-apa yang memang layak abadi. Kertas menjadi penyumbang terbesar bagi lahirnya peradaban dunia di masa-masa setelahnya.

Itu baru versi Cina Kuno. Belum lagi kalau kita melihat versi dunia-dunia klasik lainnya, sebut saja Mesir Kuno atau Indonesia di zaman Nusantara. Intinya, keberadaan kertas di awal-awal sangat dimungkinkan hanya sebagai medium ilmu pengetahuan belaka.

Bagaimana dengan hari ini? Seperti sudah saya tegaskan di awal, peran atau fungsi kertas nyatanya berubah drastis. 


Saya, juga Anda semua, sudah harus membuka cakrawala berpikir mengenai kertas ke depan. Sudah bukan zamannya lagi memandang kertas hanya sebagai media ilmu pengetahuan semata. Kertas, yakni peran dan fungsinya, justru sudah dan memang harus jauh melampaui itu.

Karena perubahannya ini, seorang teman pernah berseloroh, “Andai Cai Lun masih hidup, mungkin ia akan mengangis.”

“Kenapa bisa menangis?”

“Karena ciptaannya kini disalah-gunakan sedemikian rupa.”

Tertegun sejenak, lalu membatin, “Ada benarnya juga.” Sebab siapa pun akan menangis jika menemukan “anak”-nya disalah-gunakan seperti kertas itu. Apalagi fakta turut menguatkan bahwa peran dan fungsi kertas kini sudah tergantikan oleh media berbasis digital.

Tetapi benarkah Cai Lun akan menangis jika melihat eksistensi kertas di era kiwari ini? Saya kira tidak. Meski peran dan fungsinya sudah tergantikan di wilayah pendidikan, tetapi eksistensi kertas malah kukuh sebagai bagian integral dari kehidupan umat manusia.

Alih-alih menangis, Cai Lun justru akan bangga melihat peran dan fungsi “anak”-nya yang malah banyak membantu peradaban sesamanya sendiri. Ia akan bahagia jika tahu bahwa kertas ternyata ikut menambal kebutuhan-kebutuhan riil saudara-saudaranya, seperti digunakan sebagai pembungkus makanan, pembalut dan pembersih tubuh, serta hal-hal lainnya yang lebih ramah lingkungan.


Jadi, apakah kita masih akan menganggap bahwa kertas benar-benar sudah tergantikan sebagaimana ramalan para pengusung paperless society atau masyarakat tanpa kertas itu?

Saya kira sudah saatnya kita mengubah pola pikir bahwa kertas ternyata punya peran dan fungsi yang jauh lebih bermartabat dari sekadar menjadikannya sebagai pembangunan peradaban berperspektif pendidikan. Pengagungan kertas sudah harus dilihat dari segi keramah-lingkungannya. Ini bagi saya yang jauh lebih penting.

Artikel Terkait