Kawanan kejora terang telanjang
Seketika sunyi kawani pekat malam
Menggemari langit gelap bersamaan bulan
Doa cinta bermunajat merona, romansa

Selaku berdua beradu candu
Kecanduan canda di kala langit berwarna jingga
Melepas sehabis dahaga, menunggu tabah puasa
Menerima sepenuh tiba, romansa

Angka 22, ada yang menyenanginya
Kuatkan berada diri berada
Tunjukkan kesatuan satu
Adalah satu, jika tidak duanya
Romansa


Berdamai dengan rumah

Nyanyian-nyanyian surga bersamanya
Haru pilu sepenuh rindu
Bergemuruh gema lima waktu
Bersedekap tangan, tunduk bersimpuh

Nyanyian-nyanyian surga bersamanya
Risalah Ayah terdengar kembali
Lelaki tangguh berdiri, lawan badai berani
Kuat caci maki, hadapi badai sendiri

Nyanyian-nyanyian surga bersamanya
Ke tanah jauh kita berangkat
Pulang tetap adalah dekat
Mendekap sepenuh harap
Air di wajahnya kering
Entah itu peluh ataupun rindu


Amak

Aku tahu kasih setulus kisah ibanya Ibu
Semenjak aku tahu, aku tidak begitu yaqin pada perempuan
Ibu perempuan yang selalu berbohong
Meski ustadzah menghadap berkata : "aku dambakan sosok Muhammad sebagai imam, menuntunku beriman".

Aku kata: "seperti kau yang punya kerampang seperti Khodijah saja, atau selangkang seindah Aisyah".

Wanita-wanita di sana berkata : "aku akan dekap seluruh harimu, sepenuh janjimu".

Aku kata : "kau tahu, anak-anakku tidak butuh bejana dusta".

Aku tahu kasih setulus kisah ibanya Ibu, semenjak aku tahu ; aku sibuk membangun surga, taman ceria anak-anak, kolam dengan bunga asri, dibelai bidadari anggun hatinya.


Beliau telah berpulang

Bapak tua itu belum lama mati
Gundukan kesedihan di belakang rumah
Tanahnya kuburnya merah di hati kami
Teduh rimbun pohon kulit manis

Napasnya dering alarm anak bini
Bangun memaksa diri memacu senja
Mengais dan mencari pagi buta
Pulang hari juga telah buta
O, balada hinggapi kampung kami
Ia istirahat memanggil anak-anak kecil
Ia istirahat memanggil kurir angkut
Istirahat memaki kelengahan kami

Pagi buta aku ikuti jalannya biasa
Senyumnya dalam keheningan subuh
Pada putaran roda jalanan aku tempuh
Tanpa ragu abadikan momen, berkata dalam hati : "cucumu telah lahir kembali"


Surga 69

Saat aku dambakan dia
Dia dambakan mereka
Saat mereka dambakan aku
Aku dambakan dia
Saat aku rindukan surga
Semua sepakat jatuh cinta

Terkadang kita perlu menggoda ustadzah
Supaya tahu hinanya kita di mata TUHAN
Bukan hanya tisu yang banyak
Juga jaket yang tebal dibutuhkan
Menahan dingin air mata
Membasah seluruh badan, menggigil
Saat itu surga yang dibangun pejuang
Terbakar asmara sendiri


Rupa kita

Lukaku, luka biru
Lukaku, luka pilu
Lukaku, luka sendu
Aku luka dan aku tahu
Lupamu, keinginanmu
Lupamu, kelakuanmu
Lupamu, keliruanmu
Kamu lupa dan tidak tahu
Lukaku dan lupamu adalah rupa kita
Sebenarnya untuk menyakiti semut yang kecil saja, aku akan berpikir ribuan kali
Apalagi mencintai wanita yang begitu besar


Pantai teluk Bungus

Kemesraan bercerita bangga
Sepasang kasih berayun-ayun
Ombak pada sampan nelayan
Semilir angin untuk nyiur kelapa
Desahan air kecup bibir pantai

Pada kemajemukan dada yang heran
Seorang kasih jemput air surut
Jauh menepi ke pulau jauh
Diseret hantu laut, angin Antartika bersamanya
Satu melaut dan satu tersurut

Duh Gusti...
Seandainya angin masih bisa mendengar percakapan antara hati dan bibir ; maka kita belum cukup mesrah


Doa puasa untuk Corona

Puasa sebulan jadi bulan-bulanan
Aku nafikan sebuah rencana
Mengajak Tuan Corona buka bersama
Negosiasi dan berucap banyak
"terimakasih, kerja samanya Tuan"
Yang sibuk sudah pada istirahat
Yang heboh sudah pada diam
Hanya saja kita tidak bisa berdiam

Banak yang risih tidak suka
Saudaraku kesusahan pangan
Bisa mati dibunuh diri sendiri
Dada lapang keterbukaan hati di bulan suci
Kembalilah Tuan ke negeri asal
Istirahatlah abadi!

( Amin )


Mengurung nafsu

Bendera perang berkibar
Tersiar berita perang telah mulai
Angkatan senjata kiri dan kanan berjaga
Melawan adalah asingkan diri baik-baik
Kekuatan kuat lahir dari diri sendiri
Mengurung dan tabah, benteng yang kuat
Apa ini rahasia bersembunyi?

Tiada sia-sia Tuhan mencipta
Pertahankan api kecil tetap menyala
Selama itu air akan ada memberi
Biar saja dulu kita berserah
Dalam-dalam ku-diami hati tidak liar
Percayai nasib atas Kuasa
Perpanjang harap sejauh kelam
Julurkan tangan sepanjang sajadah
“kuatkan kami bertahan TUHAN"