Hari ini, saya marah. Draft naskah cerpen untuk media telah lenyap terhapus oleh kelalaian saya sendiri. Dasar memang, ceroboh.

Tapi saya tak mempermasalahkannya dengan dalam-dalam. Toh, naskah yang lain bisa diketik ulang dengan membuat naskah yang lebih bagus lagi. Doakan saja, mudah-mudahan diberi kelancaran.

Sebagai penulis, saya pikir orang yang memperkenalkan dunia kepenulisan ke saya memang benar. Ia pernah berkata, "Penulis kui ra oleh baperan." Yaps, betul. Seorang penulis tak boleh selalu baperan.

Bukan hanya saat kita dikritik tulisan kita jelek, tulisan kita ditolak oleh media, atau bahkan sama halnya dengan apa yang sedang alami saat ini.

Pekerjaan menulis menurut saya adalah sebuah pekerjaan dengan menggabungkan atau mengkorelasikan hati dan pikiran. Saya jadi teringat dengan teman saya yang selalu mengatakan, "ketika hati dan pikiran menyatu."

Ada sebuah kenyataan memang, atas sesuatu yang dikatakan teman saya tersebut. Menulis bukan hanya main perasaan, menulis bukan hanya main pikiran, namun keduanya.

Seorang penulis harus bisa mengontrol hati dan pikirannya. AS Laksana mengatakan bahwa, seorang penulis atau sastrawan besar menjadikan diri mereka menjadi raksasa dalam dunia kesustraan melalui tulisan-tulisan mereka yang memikat dari halaman satu, halaman dua, halaman tiga, bahkan sampai beratus-ratus halaman.

Seorang penulis hebat tentu saja tidak membiarkan setiap halamannya untuk agak bagus, lumayan, yang ada hanya kata "sangat bagus" untuk memikat pembacanya. AS Lakasana menyebutnya: craftmanship.

Carftmanship memerlukan daya tahan mengatasi jemu melatih diri setiap hari dalam waktu panjang. Latihan selalu menjemukkan, tapi daya tahan mengatasi kejemukkan itulah yang membuat kualitas berbeda.

Seseorang yang ingin menerapkan craftmanship ini tentunya harus memiliki ketahan pikiran dan hati yang kuat. Sesuai juga dengan perkataan penulis-penulis yang lain, menulis itu harus menikmati prosesnya. Jangan terburu-buru untuk karya kita dianggap bagus, ingin dimuat di media daring atau koran. Kita harus sabar dan kuat dalam kejemukkan ini.

Lalu bagaimana cara untuk mengatasi kejemukkan tersebut? Itu tergantung diri kita masing-masing. Yang terpenting kita nyaman saat menulis.

Saya mengutip perkataan seorang sastrawan yaitu: Agus Noor. Ia pernah berkata, "Menulis itu seperti orang bercinta. Bila kau bosan, kau boleh mengganti gaya berceritamu."

Saya akan cerita sedikit. Ini tentang naskah saya yang pernah dimuat di media daring atau di media cetak  atau koran.

Cerita ini sebagian kecil dari proses kreatif menulis saya pribadi. Pernah sekali saya mengirim naskah ke sebuah media baru yang bertema ke-Islaman. Saya sangat optimis naskah saya akan dimuat. Karena saya sudah berkali-kali dimuat, baik di media daring atau cetak.

Akhirnya setelah menunggu satu minggu, naskah saya mendapat jawaban. Saya tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa naskah saya ditolak secara mentah-mentah.

Ah, sial. Saya sangat marah pada saat itu. Ingin rasanya saya ingin menanyakan kenapa naskah saya tertolak.

"Itu redakturnya siapa? Paham apa tentang sastra?" Sekulumit pikir saya dalam hati.

Karena memang saya tahu betul bahwa saya juga baru dalam dunia kesustraan. Yang memang baru setahun saya mengirim ke media cetak.

Saya mengurungkan untuk menanyakan naskah saya mengapa ditolak. Dan otomatis saya tarik kembali. Saya merenung diam. Saya endapkan beberapa minggu naskah tertolak tersebut. Dan akhirnya saya menyunting ulang.

Selama seminggu lebih saya sunting naskah tersebut. Saya santai. Tak terburu-buru. Saya yakin, naskah yang saya sunting ini akan diterima ke media yang lain. Target saya sudah bukan media yang menolak saya. Saya sudah mentargetkan media yang kebih besar lagi, dan juga berhonor.

Dan setelah selesai masa penyuntingan, saya berdoa lalu mengirimkannya ke media cetak. Biasanya menunggu dimuat di media cetak. Mengalami massa tunggu yang cukup lama dari pada media daring. Yups, sekitar 2 bulanan.

Saya kirim pada hari senin, karena memang peluang dimuatnya juga cukup besar, kata teman-teman saya sesama penulis. Dan dilalah yang saya kira berbulan-bulan. Ternyata cuman butuh satu minggu untuk tayang ke media tersebut. Saya kaget, plus bahagia seketika.

Inti cerita ini adalah tentang proses menulis saya. Tentang bagaimana saya menceritakan bahwa menulis itu jangan terburu-buru. Saya ulangi lagi, jangan terburu-buru.

Benny Arnas mengatakan bahwa proses kreatif seseorang bisa sangat singkat, bisa hanya beberapa bulan, bisa satu tahun, dua tahun atau bahkan bertahun-tahun. Itu tergantung dari proses yang kita alami sebagai penulis. Memang daya mental kita akan goyah namun itulah, kita harus tetap kuat. 

Saya mengambil pepatah yang biasa kita dengar, yaitu; "Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian."

Mungkin pepatah tersebut cocok untuk kita yang sedang menjalani proses kreatif.

Sekian, terima kasih. Semoga artikel ini bermanfaat.