Di Indonesia sudah bukan rahasia lagi bila tuntutan kebutuhan ekonomi membuat banyak orang harus pintar dan jeli dalam mencari lapangan pekerjaan. Hal ini disebabkan karena minimnya ketersediaan lapangan pekerjaan. Ribuan jumlah para pencari kerja pada tiap tahunnya, namun tidak disertai ketersediaan lapangan pekerjaan yang memadai.

Ada pencari kerja yang bermodalkan ijazah namun tak sedikit pula yang hanya bermodal kenekatan. Bagi yang berbekal ijazah dari jenjang pendidikan yang mereka miliki tentu mendapat keuntungan mengingat hampir pasti lapangan pekerjaan yang tersedia saat ini mensyaratkan hal tersebut. Sementara sisanya harus bisa menyesuaikan diri dengan lapangan pekerjaan yang sama sekali tidak diharapkan dan diimpikan semenjak kecil.

Pengiriman TKW ke luar negeri merupakan salah satu alternatif yang ditawarkan pemerintah untuk mengatasi masalah langkanya lapangan pekerjaan ini. Negara-negara utama tujuan pengiriman TKW adalah negara-negara Timur Tengah yang terkenal fanatik dengan adat ketimuran. Penyebab utama adalah negara-negara tersebut merupakan negara-negara petrodolar yang saat ini sedang makmur-makmurnya karena penemuan kandungan minyak yang sangat besar di bawah permukaan buminya.

Beberapa dasawarsa yang lalu, para pakar banyak yang memperkirakan bahwa kandungan minyak ini sedang di ambang kritis karena sudah menipis dan hampir habis. Namun seperti halnya kandungan emas yang sudah berabad-abad ditambang namun tetap saja menyisakan pertanyaan ke mana semua yang sudah ditambang selama ini, ternyata ramalan para pakar tersebut belum juga menemui kenyataan karena minyak bumi masih tetap menjadi tumpuan utama untuk menggerakkan roda perekonomian dunia saat ini.

Akibat tingginya kebutuhan terhadap minyak bumi di segala penjuru dunia, sementara hanya beberapa negara saja yang dapat menjadi produsennya, maka ini memicu minyak bumi menjadi komoditas yang paling dicari di seluruh dunia hingga mengakibatkan harganya menjadi makin tinggi.

Sebuah negara tentunya akan membagi pendapatannya ke dalam dua jenis, yakni dari sektor migas dan dari sektor non-migas. Kendatipun pendapatan jenis kedua terdiri dari berbagai macam komoditas, namun nilai penjualannya pada banyak kasus belum bisa mengalahkan pendapatan pada sektor migas.

Dengan demikian, maka hasil penjualan migas ini mengantarkan negara-negara produsen utamanya khususnya yang berada di Timur Tengah membawa mereka ke dalam kemakmuran. Dan kemakmuran ini tentu tercermin dengan tingginya pendapatan perkapita dari penduduk yang berdiam di kawasan tersebut.

Bagi orang-orang yang memiliki pendapatan tinggi, maka adalah hal yang beralasan untuk untuk menyisihkan sebagian dari pendapatannya untuk mengurangi beban kesibukan yang mereka alami. Misalnya dengan menyewa pembantu dalam mengurus berbagai keperluan sehari-hari sambil tetap fokus dengan kesibukan lainnya yang lebih mendatangkan uang. Dan di sinilah peran TKW dibutuhkan. 

Memang pekerjaan sebagai TKW itu tidak terlalu membutuhkan skill yang tinggi. Cukup dengan keterampilan menyetrika, mencuci pakaian, atau memasak, maka kita sudah bisa menjadi orang kepercayaan dalam rumah tangga orang-orang kaya di negara negara arab sana.

Sebagai seorang pembantu rumah tangga, maka sudah tentu kita menjadi bagian dari keluarga besar si pemilik rumah. Kita harus tinggal di dalamnya, makan dan tidur bersama si pemilik rumah, sehingga seiring berjalannya waktu maka timbullah keakraban antara kita dan mereka. Dengan demikian, di samping kita mendapatkan uang gaji pokok sebagaimana yang sudah ditandatangani pada kontrak, kita juga bisa mendapatkan bonus lain-lain.

Tidak menutup kemungkinan juga dalam ikatan kerja sebagai TKW terdapat hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya jika si majikan sampai terpantik birahinya terhadap si TKW yang pada umumnya wanita yang punya daya tarik seksual yang tinggi. Bukan hal yang asing lagi diberitakan jika banyak TKW yang harus mendapatkan kekerasan seksual dari tuan rumah di arab sana, dan banyak di antaranya yang harus pulang menanggung malu karena sudah hamil berbadan dua.

Ada pula yang karena tidak sanggup dengan tekanan psikis akibat diperlakukan semena-mena harus menempuh cara-cara tragis. Misalnya dengan menghabisi nyawa majikannya dan berakhir dengan hukuman mati. Sudah bukan hal yang aneh jika banyak ditemukan di internet ataupun di media cetak foto-foto tubuh para TKW yang mengalami bekas siksaan entah itu dengan cara dicambuk atau dengan disiriam air panas.

Para TKW harus mampu beradaptasi dengan semua itu. Karena sudah jauh-jauh hari ditanamkan ke alam bawah sadar mereka oleh para agen, bahwa untuk menubah nasib harus butuh pengorbanan yang tidak sedikit.

Tapi banyak pula para TKW yang sudah paham dengan hal ini, entah karena memang tidak ada cara lain yang bisa dilakukan, atau memang karena mereka juga menikmati pekerjaan tersebut. Faktanya, banyak TKW yang diberangkatkan ke luar negeri ternyata mengambil profesi sampingan sebagai pelacur.

Menjadi pelacur di sini bukan karena gaji yang mereka dapatkan dari majikan tidak mencukupi, akan tetapi karena memang selama ini pekerjaan mereka pada si majikan adalah, di samping melayani pekerjaan sehari-hari, baik itu mencuci, memasak, menyetrika, dan lain-lain, ternyata mereka juga harus menjadi pelayan seksual pada majikan yang bersangkutan.

Berdasarkan informasi yang saya peroleh, memang tidak semua TKW berlaku seperti itu, tapi tidak sedikit biro TKW yang terlibat dalam sindikat jaringan internasional (entah itu dengan background freemason, ilumminati) yang berfokus pada "soft" human-trafficking tersebut (perdagangan manusia sebagai budak belian di masa modern). Para agen nakal tersebut memang sudah memberitahukan ke calon TKW yang mereka salurkan bahwa nanti pada majikan yang menjadi tujuan, mereka harus bersedia dijadikan sebagai pemuas nafsu.

Pembaca pasti sudah sering melihat di situs-situs semacam YouTube, di mana para TKW banyak yang terlibat kencan dengan pria-pria Bangladesh yang berprofesi sebagai tenaga kerja kasar seperti mereka (baik itu supir, kuli bangunan, penjaga toko, dan lain-lain). 

Logika yang perlu pembaca pahami adalah, jika pria-pria Bangladesh itu saja bisa menjadikan mereka sebagai wanita pemuas nafsu, sementara status mereka sama-sama sebagai pencari kerja, nah bagaimana halnya lagi dengan si majikan yang sudah jelas-jelas memberikan mereka sumber penghidupan sehari-hari selama berada di negeri orang?

Atau jika pembaca masih belum percaya, yang jadi pertanyaan kemudian adalah, kenapa majikan para TKW tersebut membiarkan orang-orang yang tinggal di dalam rumah mereka untuk berbuat tidak senonoh dengan para pria Bangladesh tersebut?

Jadi ketimbang hanya si majikan yang bisa menikmati kemolekan tubuh mereka, secara ego mereka akan beranggapan bahwa bukankah lebih baik jika membaginya dengan orang lain. Kata kasarnya, menghilangkan kebosanan sambil mencoba hal-hal baru.

Seperti laki-laki yang tidak puas jika hanya beristrikan seorang wanita, maka begitu juga dengan para TKW tadi, mereka tak mau kalah mengumpulkan sebanyak mungkin pria Bangladesh untuk diajak kencan, merasakan sebanyak mungkin aneka ragam penis yang ada di pasaran. 

Jadi jika di hari kerja mereka harus memuaskan nafsu majikan, maka di hari libur mereka nyambi menjadi pelacur di luar, yakni dijual oleh germo-germo yang tidak lain masih kaki tangan dari agen penyalur TKW tersebut. Merekalah yang menghubungi pria-pria hidung belang yang kebanyakan berprofesi sebagai sopir atau kuli bangunan.

Transaksi seksual tersebut dilakukan di warung-warung makan yang menjadi tempat kumpul mereka. Bisa juga aktivitasnya dilakukan di kos-kosan teman yang sudah jadi pelarian (baca: lari dari majikan).

Bukan hal yang sulit untuk menjadi agen penyalur TKW. Yang kita perlukan adalah koneksi yang mantap. Kita tinggal mengurus visa, paspor, dan dokumen-dokumen penunjang dari TKW yang bersangkutan dan selanjutnya tinggal menghubungi si pemesan tentang tidak cocoknya TKW yang akan bekerja di situ.

Di sinilah peran sindikatnya, di mana orang-orang yang terlibat di dalamnya umumnya orang-orang yang sudah lama berdiam di negera-negara Timur Tengah sehingga sudah memiliki suami atau istri di sana. 

Jadi ketika mereka melihat adanya kebutuhan terhadap wanita pemuas nafsu yang sulit dicari di negeri Arab karena tradisi yang mengekang, mereka kemudian melihat situasi di tanah air di mana kondisi sosio kultural yang lebih permisif membuat tipe-tipe wanita seperti itu sangat mungkin diadakan.

Hal ini sangat mirip dengan perdagangan rempah-rempah di masa lampau, yakni ketika negara-negara Eropa yang sangat butuh dengan komoditas penyedap masakan semisal pala, cengkeh, dan lain-lain harus jauh-jauh datang mencari ke Indonesia karena komoditas tersebut tidak mungkin diadakan di negeri mereka.

Biasanya para TKW akan diberi kontrak selama dua setengah tahun. Jika mereka merasa cocok dengan majikan yang ditinggalinya, maka kontraknya bisa diperpanjang.

Sebagai wanita, para TKW tentu tidak bisa lepas dari naluri kewanitaannya. Mereka pasti punya libido, sehingga ketika nanti di kampung orang saat jauh dari suami yang biasa menemani mereka, mereka pasti akan berpikir keras dalam urusan pemenuhan libido tersebut. Siapa yang akan memuaskan hasrat kemanusiaan mereka?

Seperti yang pembaca lihat sendiri di YouTube, umumnya TKW itu akan pergi kepada pria-pria Bangladesh yang dikenal memiliki senjata yang besar yang merupakan idaman siapa pun wanita. Tapi yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah mereka harus keluar rumah tiap hari untuk menemui para pria Bangladesh tersebut tanpa mendapatkan protes dari si majikan?

Beberapa sumber yang saya tanyai mengatakan bahwa biasanya TKW itu diberi keleluasaan dari si majikan untuk keluar rumah sekali dalam seminggu. Dan ini biasanya yang digunakan oleh para TKW dalam memenuhi hasrat seksualnya untuk menemui pria-pria Bangladesh tersebut.

Namun bagaimana dengan hari-hari lainnya? Apakah para TKW ini berpuasa? Bukankah jauh lebih baik jika kita melakukan hubungan seksual setiap hari?  Ini tentu adalah pertanyaan yang bisa dijawab oleh pembaca sendiri.

Jika bernasib baik para TKW akan mendapatkan majikan yang mampu memuaskan libido mereka dan ini menjadi alasan bagi mereka untuk memperpanjang kontraknya berkali-kali hingga puluhan tahun dengan majikan yang sama. Sementara jika bernasib kurang beruntung, mereka akan mendapatkan majikan yang sama sekali tidak memuaskan, dan ketika masa kontrak dua setengah tahun itu terlewati, mereka lantas memutuskannya untuk mencari majikan yang baru.

Sebagian pembaca pasti protes dengan mengatakan bahwa jika TKW tersebut benar dijadikan pemuas nafsu, lantas apakah mereka nanti tidak takut hamil? Atau kalimat sejenis semisal, jika para TKW tersebut dijadikan pemuas nafsu, sudah pastilah mereka hamil dan menanggung malu?

Bukti bahwa jarang terjadinya kasus para TKW yang pulang hamil, menandakan bahwa apa yang saya utarakan sebelumnya tidak benar. Saya hanya bisa memberikan sedikit gambaran kepada pembaca bahwa saat ini penyebaran penyakit kelamin semacam sipilis dan HIV sudah begitu merebak bahkan di perdesaan.

Sudah bukan hal yang aneh bahwa dalam suatu komunitas di kampung-kampung banyak pemudanya yang berbadan kurus dengan sangat mencolok, padahal untuk dikatakan menderita gizi buruk mereka sama sekali tidak mungkin. Sekarang saja program pemerintah berupa dana desa bisa mencapai miliaran rupiah tiap tahunnya, lantas bagaimana mungkin dalam suatu kampung ada begitu banyak pemuda yang kekurusan akibat kurang gizi? 

Demikian pula dengan para wanita, begitu banyak wanita yang mengalami penurunan berat badan dan kemudian terbukti divonis HIV, namun sama sekali tidak pernah sekalipun mengandung janin di dalam kandungannya. Apakah virus tersebut diinjeksikan ke dalam tubuh mereka melalui suntikan di pembuluh darah? Tentu jawabannya bisa ya, bisa juga tidak, tergantung situasi dan kondisi. Tapi intinya adalah hubungan seksual itu tidak harus identik dengan kehamilan. 

Dewasa ini banyak metode yang dilakukan oleh wanita untuk mencegah kehamilan. Entah itu dengan pil kontrasepsi atau juga dengan memuntahkan kembali sperma yang sudah telanjur masuk ke dalam liang kemaluannya. Konon ada pula yang menggunakan kekuatan supranatural untuk mencegah kehamilan tersebut.

Saya sendiri berpendapat bahwa kehamilan merupakan mahakarya dari Tuhan. Tanpa dibuahi, wanita bisa hamil seperti dalam kasus Nabi Isa.

Demikian pula pasangan suami istri yang sudah puluhan tahun berumah tangga namun belum juga dikaruniai keturunan, lantas apa yang aneh? Para wanita bahkan bisa mengatakan dengan pasti bahwa anak yang sedang dikandungnya merupakan anak dari si suami, kendatipun yang menyetubuhi si wanita bisa banyak orang. Sepertinya si wanita sudah punya feeling mana sperma yang bisa melewati mulut rahimnya, mana yang tidak.

Jadi perbudakan seksual terhadap para TKW ini sudah begitu menjamur tanpa sekalipun diliput oleh media massa atau diangkat ke dialog-dialog di TV. Hanya sekali-kali saja terdengar berita seorang TKW harus menunggu maut akibat divonis hukuman pancung.

Biasanya si TKW membunuh bukan karena dia tidak ingin diperkosa oleh si majikan. Yang menjadi masalah adalah majikannya menaruh rasa berlebih kepada si TKW melebihi seharusnya yang ditandatangani pada kontrak (yakni sebagai pemuas nafsu). Sehingga ketika si TKW merasa tidak puas dengan si majikan dan mencari pelampiasan di luar rumah, si majikan over-protektif atau cemburu dan melakukan tindakan-tindakan di luar kewajaran. 

Terjadilah pertengkaran yang berujung pada nyawa yang harus melayang. Tentunya hal ini tidak perlu terjadi jika kedua belah pihak diberi pengertian. Hal yang sering diliput di TV adalah para TKW yang sudah begitu betah di rantau hingga oleh si majikan diberi kesempatan untuk naik haji berkali-kali. Media seperti lupa atau bahkan tidak peduli untuk mengangkat para TKW-TKW yang begitu asyik berburu pria Bangladesh

Seperti begitu banyaknya kebohongan yang ditutup-tutupi di tanah air saat ini, tentu ini bukan tanpa alasan. Mengatakan bahwa TKW berkencan dengan pria Bangladesh adalah sebuah aib yang harus dikubur rapat-rapat. Karena ini pasti akan mencoreng muka departemen tenaga kerja Indonesia yang menjadi motor para TKW selama ini.

Sudah begitu miskinkah Indonesia ini sehingga seorang wanita yang seharusnya mengurus rumah tangga, melayani suami dan membesarkan anaknya, harus sendirian di negeri orang guna menjadi babu di tengah orang-orang Arab yang sama sekali bukan muhrimnya dan seperti orang kehausan harus menjajakan dirinya ke tangan pria-pria Bangladesh?

Saya yakin di antara para pembaca ada yang pernah mendengar hadis Nabi yang melarang seorang wanita untuk bepergian keluar rumah tanpa ditemani muhrimnya.

Di Arab Saudi saja ada kebijakan yang berlandaskan hukum Islam bahwa seorang wanita tidak boleh menyetir tanpa ditemani muhrimnya. Menyetir yang sebentar saja tidak boleh jika tidak ditemani muhrim, lantas bagaimana pria-pria di Arab sana membiarkan wanita-wanita Indonesia hidup bertahun-tahun dalam rumah mereka tanpa ditemani oleh muhrimnya? Apalagi kalau bukan budak namanya (baca: human-trafficking)?