Dalam masa pandemi covid-19, kita sering menyaksikan berbagai “inovasi” dalam hal keuangan yang baru sebagai dampak dari banyaknya pemutusan hubungan kerja dan pembatasan sosial masyarakat. Begitu banyak orang dalam berbagai ragam profesi atau latar belakang menawarkan-ditawarkan “peluang” keuangan baru berupa instrumen investasi seperti saham, reksadana, cryptocurrency, forex, peer to peer lending, dan lainnya yang kerap kali masih dianggap awam di tengah masyarakat. Tak jarang, pinjaman online menjadi masif untuk merealisasikan “investasi” tersebut.

Bursa Efek Indonesia misalnya (Sindonews.com, 26/02/2021), mencatat jumlah investor pasar modal sebanyak 3,9 juta Single Investor Identification (SID) atau melonjak 56% dibandingkan posisi di akhir tahun 2019. Keuntungan investasi yang besar terkadang membuat orang-orang (baca: investor) melakukan segala cara untuk dapat mengakumulasi modal untuk melakukan investasi, termasuk melalui pinjaman online. 

Padahal, investasi harusnya dimodali menggunakan uang yang tak terpakai (idle cash). Kurangnya literasi mengenai keuangan menjadi masalah tersendiri di tengah peningkatan volume investasi.

FoMO: Takut Ketinggalan “Kereta”

Gerakan masif memulai investasi di masa pandemi merupakan bentuk konfirmasi bahwa masyarakat Indonesia memiliki masalah finansial yang urgen untuk diperhatikan. Gerakan ini banyak diinisiasi oleh suatu trend di masyarakat yang membuat banyak orang takut ketinggalan kereta; takut kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan secara finansial, tanpa memiliki pemahaman yang komprehensif pada instrumen investasi terkait. Boom, masyarakat terjerat FoMO!!!.

Hodkinson & Poropat (2014) mendefinisikan Fear of Missing Out sebagai ketakutan individu untuk tertinggal dan kehilangan seseorang/sesuatu. Fear of Missing Out (FoMO) dalam kamus Oxford didefinisikan sebagai kecemasan akan adanya peristiwa menarik atau mungkin hal menarik yang terjadi di tempat lain. Kecemasan ini terstimulasi oleh hal yang ditulis di dalam media sosial seseorang. 

Menurut Przybylski dkk (2013), di dalam Fear of Missing Out, terdapat tiga komponen untuk mengungkapkan kepuasan hidup, yaitu ketakutan kehilangan peristiwa atau aktivitas berharga, ketakutan kehilangan pengalaman berharga, dan ketakutan kehilangan percakapan dalam lingkaran sosial.

Kasus bunuh diri yang terjadi di Jakarta Selatan, pertengahan Maret 2021 yang diduga akibat merugi di pasar modal, atau kasus yang menghebohkan dunia internasional, ketika seorang pria di China yang bunuh diri dengan menenggelamkan diri ke tungku api pembakaran baja pada medio April lalu merupakan segelintir dari rentetan kasus akibat merugi dalam investasi, dalam hal ini berupa saham atau pasar modal. Hal serupa juga terjadi pada instrumen lain seperti forex, criptocurrency, dan lain sebagainya.

Hemat penulis, FoMO (baca: mengikuti trend) dengan pengetahuan finansial  (investasi) yang rendah, baik berupa money management, mental, dan aspek pengetahuan dasar literasi keuangan lainnya yang menjadi penyebab masih maraknya kasus-kasus serupa terjadi dalam dunia investasi. Di sinilah pentingnya membangun kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.

Kolaborasi merupakan bentuk ejawantah dari pemerintahan partisipatif yang sering didengungkan para pakar. Pada tataran ini, maka sungguh diharapkan peran serta pemerintah dan lapisan masyarakat mengenai edukasi keuangan, terutama di saat trend investasi kian menjamur di hampir seluruh lapisan sosial masyarakat. Pemerintah, baik pusat maupun daerah, dituntut untuk kreatif dan inovatif mengoptimalkan literasi keuangan ini.

Optimalisasi Literasi Keuangan 

Adanya korelasi yang erat antara tingkat literasi keuangan dengan pengelolaan keuangan personal maupun institusional mengisyaratkan peningkatan pemahaman literasi keuangan yang komprehensif merupakan suatu keniscayaan. Optimalisasi literasi keuangan merupakan tanggung jawab dan tantangan tersendiri bagi para stakeholder dalam menentukan langkah-langkah yang tepat dan akurat menuju peningkatan pemahaman pengelolaan keuangan masyarakat.

Organisation for Economic Co-operation and Development atau OECD (2016) mendefinisikan literasi keuangan sebagai pengetahuan dan pemahaman atas konsep dan risiko keuangan, berikut keterampilan, motivasi, serta keyakinan untuk menerapkan pengetahuan dan pemahaman yang dimilikinya tersebut. Hal ini adalah dalam rangka membuat keputusan keuangan yang efektif, meningkatkan kesejahteraan keuangan (financial well being) individu dan masyarakat, dan berpartisipasi dalam bidang ekonomi.

Carpena et.al (2011) menyatakan ada 3 (tiga) dimensi dari literasi keuangan yaitu (1) keterampilan menghitung, (2) pemahaman tentang keuangan dasar, dan (3) sikap terhadap keputusan keuangan. 

Pengetahuan keuangan yang dimiliki oleh seseorang inilah yang kemudian berkembang menjadi keterampilan keuangan, dimana keterampilan keuangan ini yang menjadi kalkulasi seseorang dalam menentukan keputusan keuangan seseorang. Keterampilan keuangan memungkinkan seseorang untuk dapat mengambil keputusan yang rasional dan efektif terkait dengan keuangan dan sumber ekonominya.

Adanya literasi keuangan yang baik secara eksplisit akan mereduksi atau bahkan mengeliminasi kesalahan masyarakat terjebak dalam jeratan investasi tanpa kompetensi, baik dalam instrumen seperti saham, reksadana, forex, cryptocurrency, dan lain-lain. Literasi keuangan yang baik menjadi penangkal gerakan FoMo investasi karena pada dasarnya individu ataupun institusi telah memiliki keterampilan, pemahaman, serta sikap yang independen dalam menentukan pilihan investasinya.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana literasi keuangan ini bergerak secara optimal?. Hal mendasar yang harus dilakukan ialah membangun komitmen semua pihak untuk bahu-membahu meningkatkan literasi keuangan secara padu dan simultan.

Menuju Masyarakat Indonesia Well Literate

Kondisi masyarakat Indonesia saat ini dapat dikatakan belum sepenuhnya well literate. Hal ini ditunjukkan oleh hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan tahun 2019 yang menunjukkan indeks literasi keuangan hanya sebesar 38,03%. 

Angka ini dinilai masih sangat rendah jika dibandingkan dengan populasi penduduk Indonesia serta memiliki persebaran yang kurang merata. Tujuan keuangan masyarakat Indonesia juga masih berfokus pada kebutuhan jangka pendek dalam melakukan perencanaan dan pengelolaan keuangan.

Pemerintah dan berbagai instansi jasa keuangan terkait sebagai pemangku kepentingan sudah seyogyanya semakin meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan masyarakat terhadap sektor jasa keuangan melalui edukasi keuangan secara berkesinambungan dengan memprioritaskan kebutuhan wilayah, sasaran, dan/atau sektoral tertentu. Mensinergikan materi edukasi keuangan ke dalam kurikulum pendidikan nasional pada setiap jenjang pendidikan formal dapat menjadi core action dalam rangka meningkatkan indeks literasi keuangan di Indonesia.

Pengembangan infrastruktur penunjang seperti membangun database nasional materi literasi keuangan, mendorong penggunaan media berbasis teknologi informasi dalam edukasi keuangan termasuk pengembangan e-learning, memfasilitasi dan mendorong pendirian pusat riset literasi keuangan di berbagai perguruan tinggi/lembaga/ pemerintah baik pusat maupun daerah, dan lain sebagainya merupakan opsi absolut yang harus diaktualisasikan guna mencapai masyarakat Indonesia yang well literate.

Pada kondisi sekarang ini, dengan literasi keuangan yang well literate, setidaknya kita dapat meminimalisasi risiko investasi, ibaratnya kita tidak lagi membeli kucing dalam karung, sehingga FoMO yang menjamur saat ini bukan lagi menjadi suatu ancaman, melainkan peluang mengetahui dan mendalami instrumen investasi dan keuangan yang baru, dengan catatan diiringi dengan literasi; kompetensi keuangan yang mumpuni dan komprehensif. Semoga