Orang bisa memilih untuk hidup menyendiri atau berpasangan, walaupun kadang-kadang pilihan-pilihan itu melewati satu situasi: keterpaksaan. Tetapi setelah melewatinya, masing-masing akan memiliki argumen mengapa ia memilih yang pertama atau yang kedua. Masing-masing merasa nyaman (atau terpaksa nyaman) dengan posisinya.

Menjomblo bagi sebagian orang, bisa menghindari ramalan spekulatif pernikahan yang tak tentu seperti yang dikemukakan Socrates: jika memiliki istri baik, sang suami akan bahagia. Tapi jika tidak, ia akan menjadi filsuf.

Proyeksi Socrates ini mudah dipatahkan dengan melihat kasus Nietzsche misalkan. Untuk menjadi filsuf akbar sepertinya, ia tak perlu hidup berpasangan. Ia hidup menyendiri, bahkan soliter sepanjang hidupnya setelah gagal menjalin cinta dengan Lou Salome. Di sini, argumen Socrates pun runtuh.

Kaum yang memiliki pasangan pun tak akan mau kalah. Ia akan berargumen semacam ini: Nietzsche memang menjadi filsuf besar. Tetapi, apakah kesendiriannya menyenangkan? Apakah kesoliterannya yang telah menghasilkan karya Die Geburt der Tragödie hingga yang fenomenal, Also sprach Zarathustra, telah membuatnya bahagia?

Bukankah karya-karya itu justru lahir dari penderitaannya sebagaimana dinarasikan dengan baik dalam film When Nietzsche Wept (2007) karya Pinchas Perry? Ah, silakan tonton sendiri film ini sedetail mungkin.

Yorgos Lanthimos, sutradara asal Yunani, rupanya berada di pihak kedua ini. Ia punya cara tersendiri untuk mengkritik kojombloan itu. Baginya, hidup bukan hanya apakah setelah memiliki pasangan akan menjadi bahagia atau menjadi filsuf saja. Tetapi kehidupan yang serba rumit ini akan lebih mudah dijalankan dengan hidup berpasang-pasangan: terlepas apakah pasangan heteroseksual atau homoseksual.

Narasi-narasi satire yang diperuntukkan bagi kaum jomblo pun ditonjolkan dalam scene-scene (adegan-adegan) film yang digarap Yorgos: The Lobster (2015). Di dalam film ini, kaum jomblo diolok-olok sedemikian rupa, sehingga mudah mucul dalam bayangan penonton: betapa menyedihkannya hidup menyendiri itu!

Alkisah, di sebuah kota, diberlakukan peraturan yang mengharuskan bagi siapa saja yang hidup sendirian untuk segera mencari pasangan. Mereka—sebut saja kaum jomblo—digiring ke sebuah hotel di mana mereka bebas memilih pasangan yang dirasa cocok untuk dirinya.

Tetapi, tak mudah menentukan pasangan yang cocok. Karena yang ada di dalam hotel itu, orang—orang yang sedari awal semacam terbuang dari kehidupan dengan keganjilan-keganjilan yang dimiliki seperti wanita-wanita yang ditemui oleh David (Colin Farrell), di mana wanita-wanita itu di antaranya: ada yang mimisan (Jessica Barden), ada yang tak memiliki perasaan (Angeliki Papoulia), dan seterusnya.

Tragisnya, keserasian-keserasian (baik dalam hal fisik maupun karakter) seolah menjadi pertimbangan-pertimbangan mendasar untuk menentukan pasangan, seperti terlihat bagaimana susahnya seorang John (Ben Whishaw) yang berusaha menyerasikan dirinya dengan gadis mimisan. Ia harus membenturkan hidungnya ke tembok atau bangku agar hidungnya berdarah seperti gadis itu.

Dari sinilah para jomblo mulai diolok-olok dengan nada satire yang menggelikan. Mereka diolok dengan peraturan-peraturan hotel mulai dari yang sederhana sekali (dilarang masturbasi) sampai paling berat (hanya tenggang waktu 45 hari untuk mendapatkan pasangan. Jika tidak, akan diubah menjadi hewan, sekalipun bisa memilih akan menjadi hewan apa).

Yorgos menjadikan hidup seorang jomblo benar-benar kehilangan daya tariknya. Betapa tidak, sekalipun cerita filmnya absurd, tetapi keabsurdan itu justru menjadi kritik (lebih tepatnya menjadi olok-olok) tersendiri. Akan diubah menjadi hewan bagi siapa yang tak berhasil mendapatkan pasangan merupakan sesuatu yang menyedihkan bukan?

Lobster, hewan yang dipilih David jika kelak tak berhasil mendapatkan pasangan. Baginya, menjadi lobster menjadi daya tarik tersendiri. Sebab, satu ekor lobster bisa berumur panjang, bahkan bisa mencapai 100 tahun; berdarah biru seperti aristokrat; dan karena alasan pribadi: perenang.

Namun bagi sang sutradara, Yorgos, menjadi lobster pun sama menyedihkannya seperti jomblo. Kalau tidak beruntung, hewan akan menjadi santapan lezat manusia di restoran-restoran mewah. Tak ada pilihan lain di dunia ini selain hidup berpasang-pasangan.

Saya pikir, sepanjang 118 menit, film ini tak menyisakan satu scene pun bagi para jomblo untuk membayangan keindahan. Adagium “menyendiri itu lebih indah” seolah terhapus dalam kamus Yorgos. Ia menutup rapat-rapat setiap celah yang memungkinkan bayangan “keindahan menjomblo” muncul dalam filmnya, sekalipun satu detik.

Olok-olok Yorgos tak hanya berhenti di situ saja, dan yang paling parah menurut saya saat sutradara itu dengan menohok menampilkan adegan paling nyinyir ini: dalam satu kesempatan, di hotel itu, dikumpulkanlah semua jomblo. Perkumpulan itu bisa diduga sebagai ajang motivasi agar sesegera mungkin mereka mencari pasangan.

Motivasi itu berupa tampilan drama pendek. Menampilkan orang tua yang sedang makan di meja restoran, lalu keselek. Namun betapa susahnya mengakhiri kemalangan itu, sebab di hadapannya tak ada pasangan yang bisa membantu.

Di lain kesempatan, orang tua itu makan lagi, tapi kali ini dengan pasangannya, saat keselek lagi, dengan mudah pasangannya membantu mengakhiri derita keseleknya dengan cara yang lazim dilakukan, yaitu menepuk punggungnya: sesuatu yang tak bisa dilakukan dalam kondisi sendirian. Sangat nyinyir bukan?

Memang kesannya sederhana. Kita—eh, maksud saya mereka yang jomblo—dengan mudah bisa mengatakan: tanpa pasangan pun derita keselek itu bisa diatasi dengan meminta bantuan orang lain, sekalipun bukan pasangan.

Tetapi, bagaimana kalau berada di rumah yang memang benar-benar menuntut bantuan pasangan seperti kasus David yang tak bisa menjangkau punggungnya untuk diolesi salep karena seringkali dihinggapi rasa nyeri?

Bagi kaum yang berpasangan, kaum jomblo pun bisa beralasan semacam ini: situasi semacam itu juga bisa dialami kaum berpasangan saat pasangannya tidak lagi bersama dirinya. Ah, kaum jomblo memang banyak bicara; banyak alasan; terutama yang jomblonya sudah bawaan orok.

Perlu dicatat, apa yang saya tulis ini, bukan semacam serangan bagi dia atau mereka yang memilih untuk menjomblo. Sebab, saya bisa menduga betapa sakitnya dinyinyirin semacam itu. Saya tak mau menyakiti siapa pun.

Saya hanya menarasikan apa yang tak terungkap dari film yang digarap Yorgos tadi, atau barangkali, akan menjadi gambaran diskursus yang mungkin terjadi jika kaum jomblo dan kaum berpasangan dihadapkan secara oposisional. Sekian.

Judul: The Lobster | Negara/Bahasa: Inggris/Prancis | Sutradara: Yorgos Lanthimos | Para Aktor: Colin Farrell, Rachel Weisz, Ben Whishaw, Lea Seydoux, John C. Reilly, Ashley Jensen, Michael Smiley, Jessica Barden, Olivia Colman, Ariane Labed, Angeliki Papoulia | Durasi: 118 menit | Tahun: 2015