Salah satu hobi yang digandrungi orang adalah mengoleksi buku. Ada yang mengoleksi buku untuk dibaca demi kebutuhan nutrisi intelektualnya; ada yang mengoleksi buku hanya untuk dipajang dan dipamerkan di media sosial melalui fotonya. Sedangkan, saya tipe yang hobi mengoleksi buku tapi tak tahu kapan membacanya.

Buku merupakan sesuatu yang akrab bagi kehidupan manusia. Bahkan, kemajuan sebuah bangsa sering diukur dari perkembangan penulisan buku. Di sekolah-sekolah maupun kampus-kampus ternama, orang-orang yang berkecimpung di dalamnya sering diperhatikan dari tokoh-tokoh yang mampu menuliskan pemikirannya dalam bentuk buku.

Karena itu, buku merupakan sesuatu yang identik dengan tingkat pendidikan atau tingkat literasi sebuah bangsa. Bahkan, Marcus Tullius Cicero berujar, “A room without books is like a body without soul.” Ruangan tanpa buku bagaikan tubuh tanpa jiwa. Kita mungkin bisa mengubahnya menjadi, “A nation without books is like a body without soul.” Bangsa tanpa buku bagaikan tubuh tanpa jiwa.

Berbicara tentang buku, ada beberapa pengalaman menarik untuk disampaikan. Di antaranya, pengalaman di masa santri. Ketika itu, ada semacam kelakar di antara para santri tentang buku atau kitāb (dalam Bahasa Arab).

Di pesantren, ada semacam disiplin berbahasa yang mewajibkan berbahasa Inggris dan berbahasa Arab. Biasanya, satu pekan berbahasa Arab dan dua pekan berbahasa Inggris. Hal ini dilakukan demi memunculkan kepercayaan diri para santri menggunakan bahasa asing, terutama Bahasa Inggris. Karena itu, setelah menunaikan salat subuh berjemaah, mereka dituntut bercakap-cakap (muhādatsah) demi kelenturan lidah-lidah mereka.

Salah satu kewajiban disiplin berbahasa adalah menghafal kosakata Arab maupun Inggris, entah itu bentuk tunggal maupun plural (jamak) seperti wisādah (bantal) dalam bentuk tunggal dan wisādāt dalam bentuk plural. Kata “kitāb” merupakan hafalan favorit karena hafalan tersebut sering dibumbui kelakar para santri. Kami, para santri, sering bersenda gurau, “Kitāb-un, kitābān-i, wisādat-un.”

Senda gurau tersebut muncul karena kami sering membawa banyak buku untuk belajar di kelas maupun di masjid tapi akhirnya tertidur karena rasa kantuk yang tak tertahankan. Sehingga, banyaknya buku yang dibawa bisa ditumpuk, difungsikan sebagai bantal untuk kepala dan kami tak tahu kapan akan membacanya kembali.

Selain pengalaman tersebut, ada pengalaman lain yang juga berarti. Di kalangan mahasiswa, ada orang-orang yang memang hobi menyimpan coretan-coretannya pada saat kuliah. Entah itu coretan tugas kuliah atau mungkin hanya sekadar coretan iseng yang pada suatu saat bisa dibaca kembali sambil tersenyum. Sebabnya, coretan-coretan tersebut menggambarkan bagaimana kemampuan kita dulu menulis.

Saya masuk ke dalam kelompok tersebut. Bagi kami, menyimpan coretan-coretan kuliah sangat berarti. Sebab, coretan-coretan tersebut mungkin dapat kami sempurnakan kembali untuk dikompilasi menjadi sebuah buku. Paling tidak, untuk makalah di jurnal atau media-media daring.

Karena hobi tersebut, kami terdorong melengkapi koleksi buku yang dapat diunduh secara cuma-cuma dari internet demi tambahan referensi coretan-coretan kami. Lagi-lagi, kami tak tahu kapan membaca buku-buku tersebut saking keranjingan. “Sudahlah! Yang penting, punya dulu daripada gak sama sekali,” sebuah bentuk apologi kami.

Selain kalangan mahasiswa yang hobi menyimpan coretan-coretan mereka, ada juga kalangan yang sudah menyelesaikan kuliahnya namun masih hobi mengoleksi buku. Hal itu didasari kecintaan terhadap buku semasa kuliah dulu. Dengan kata lain, mereka mengoleksi buku bukan karena kebutuhan kuliah semata tapi karena memang hobi membaca.

Pernah saya berbincang dengan beberapa teman setelah berdiskusi tentang buku yang ditulis Hanna Rambe, Mirah dari Banda (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010). Karena diskusinya yang menarik dan sempat mengobrol dengan Ibu Rambe, saya pun membeli buku tersebut sambil berkata, “Saya sering membeli buku, Bu, tapi gak tahu kapan membacanya. Buku Ibu pun mungkin gak segera saya baca.”

“Gue juga sama, Kang. Yang penting, punya dulu,” sahut Blessty yang kebetulan mendengar percakapan kami. Seketika saya teringat kakak kelas yang pernah mengungkapkan bahwa buku itu bisa dibaca siapa pun, kapan pun dan di mana pun. Bahkan, anak-cucu kita. Terus terang, buku itu memang belum saya baca sampai esai ini ditulis.

Ada satu pengalaman lagi yang tak terlupakan meski saya lupa tanggal, bulan, dan tahunnya. Pada intinya, seorang teman baik, Billy Bismarak, memberi kabar bahwa ada banyak buku kiriman dari Australia yang bisa disumbangkan ke perpustakaan pesantren. “Taz, ada banyak buku nih, buat para santri,” pesannya di WhatsApp. Pada malam itu juga, saya datang ke kantornya yang masih berada di Jalan Irian No. 7, Menteng, Jakarta Pusat.

Sesampainya di sana, begitu banyak buku bagus berserakan dan saya meminta izin ke Billy untuk membawa beberapa demi koleksi pribadi. Saya cuma bilang, “Sayang banget kalau buku-buku ini gak diambil. Gue bawa, ya.” Lagi-lagi, di antara buku-buku tersebut masih ada yang belum dibaca.

Salah satu buku yang dibawa adalah karya George Saliba, A History of Arabic Astronomy (New York and London: New York University Press, 1994). Terus terang buku itu tidak saya baca segera. Saya hanya ingin mengoleksinya semata dan sempat asal menyimpannya. Namun, siapa sangka bahwa buku itu memberikan kesan tersendiri?

Di masa mengerjakan tesis tahun lalu tentang sains Islam dalam pandangan Ziauddin Sardar, ada catatan Sardar yang mengutip Saliba secara serius. Pada saat membacanya, tebersit dalam pikiran, “Sepertinya buku ini ada di rak buku deh.” Dan ternyata buku yang hampir terbengkalai itu memang ada dan menjadi rujukan penting dalam menyempurnakan tesis yang sedang dikerjakan.

Sejak saat itu, saya semakin yakin bahwa mengoleksi buku (dahulu) itu penting meski membacanya entah kapan.