Sebagian besar dari kita pasti pernah merasakan berada dalam titik terendah di dalam hidupnya masing-masing. Moment dalam hidup dimana kita merasa segalanya menjadi amat berat dan sukar untuk diselesaikan. Masa dimana kita merasa tidak ada satupun orang yang mengerti dan bisa menolong kita. Masa dimana kita merasa sangat tidak berarti dan tidak memiliki kemampuan apapun untuk maju.

Yes, itu adalah mentally break down. Rapuh. Saat jiwa yang dliliputi kekuatan emosi dan spiritual yang mestinya bisa bekerja optimal, malah berada dalam titik terendah. Dan setiap orang pasti pernah mengalaminya. Merasa rapuh, tidak lagi kura menghadapi dunia.

Tingkat kerapuhan hati yang dirasakan tiap orang tentu amat beragam. Ada yang hanya merasa rapuh sesaat dan masih mampu menjalani hidup dengan normal, ada pula yang sudah merasa amat rapuh, hati dan jiwa terkoyak berkeping hingga menarik diri dari lingkungan sosial, bahkan bersifat destruktif dengan menyakiti diri sendiri. Pada fase medium keatas, kerapuhan jiwa yang kita alami tidak hanya merusak jiwa kita, tetapi bahkan bisa merusak segala koneksi sosial kita. Konflik dengan keluarga, dengan teman, dan sebagainya. At the worst case, orang pada titik terendah bisa dengan mudah ingin segera mengakhiri hidupnya.

Inilah yang harus benar-benar kita sadari, bahwa kerapuhan jiwa bisa menerpa siapa saja, kapan saja. Dan ia tidak pernah memandang seberapa hebat materil dan fisik yang dipunya. Karena itu guys, isu ini menjadi penting banget. Apalagi relevansinya terkait mental health yang sangat kompleks.

Siapa sih yang enggak mau hidup bahagia? Iya kan, semua pasti ingin happy, ingin hidup dengan tenang dan ikhlas. Dan untuk memperolehnya, tentu saja jiwamu harus kuat.

So guys, misalkan kalian sudah sering banget merasa mentally down, kehilangan motivasi dan arah hidup, merasa tidak bahagia sama sekali, atau membenci diri kamu sendiri, be careful! Itu tanda bahwa jiwamu sedang rapuh! Dan haram hukumnya untuk membiarkan jiwamu tenggelam dalam kerapuhan. Hayukk move on!

  • Find A Place to Talk

Seringkali rapuh yang terjadi pada diri kita disebabkan oleh berbagai problematika hidup yang menerpa. Skalanya menyesuaikan dengan kemampuan dan kematangan jiwa kita tentunya. Apabila madalah yang kita hadapi semakin bertumpuk dan tidak terselesaikan, maka siap-siap ia akan menjadi bom waktu yang mengancam mental stability kamu.

Nah, ketika hidup kita dalam fase dirunding berbagai beban dan masalah, ingatlah untuk mencari tempat untuk menumpahkan seluruh isi hati dan pikiran kita. Find a place, yang tidak akan pernah mengkhiantimu dan selalu setia mendengar setiap keluh kesahmua. Yes, Find Your God Almighty. Karena tidak ada satu tempatpun yang bisa mendengar setiap resah kita selama 24 jam nonstop kecuali dalam dekapan Yang Maha Esa.

Siapapun kalian, when you face great problems, please find Your God. Karena di situlah tempat berbaik, tempat ternyaman untuk menceritakan, mencurahkan, dan menumpahkan semua sesak yang menghancurkan jiwamu. Jangan malu untuk menangis dan meraung meminta pertolongan pada Tuhan, karena dititik itulah kita bisa memindahkan beban hidup dari Pundak kita ke dalam kuasa-Nya.

Dalam kondisi rapuh seperti ini, jiwa kita sedang membangun social block dari sekitar. Kita akan merasa tidak ada seorangpun yang peduli, yang mau mendengar, atau bahkan menolong. Kita pun sulit mempercayai orang pada kondisi rendah seperti ini. Karena itu, hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa kita bisa bersandar dan melepaskan segala penat dalam hati dan pikiran kita.

  • Forgive Others

Dalam kondisi jiwa yang amat rapuh, mudah sekali bagi kita menghakimi orang lain. Menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi dalam hidup kita. Menyalahkan orang tua, menyalahkan saudara kita, menyalahkan guru kita, lingkungan, dan sebagainya. Kita menganggap mereka sebagai penyebab kerapuhan mental yang kita rasakan. Padahal jelas, kita meyakini bahwa We Are The Master of Our Soul. Kitalah pusat kendali jiwa kita.

Untuk itu, disaat kondisi mental kita rendah dan lemah, dan kemudian muncul hasrat untuk menyalahkan orang lain atas apa yang kita rasakan. Stop there! Ambil jeda, atur nafasmu perlahan, kemudian yakinkanlah dirimu untuk memaafkan mereka. Susah, iyes, ngerti! Tapi cobalah berulang. Katakan kepada dirimu “I forgive them, I forgive them”. Katakan ini berulang pada diri kita sendiri, sampai rasa memaafkan itu muncul dalam hati. Dengan melepaskan emosi negative seperti marah, blaming, dan dendam, jiwa kita akan menjadi lebih kuat.

  • Be thankful to your own self

Saat hidupmu mulai terasa amat rapuh, apapun terasa tidak beres dan berantakan, please don’t blame yourself. Kamu mungkin belum memiliki kemampuan seperti orang lainnya, tetapi bukan berarti kamu tidak berusaha. Hargai dan cintai dirimu terlebih dahulu. Saat jiwa kita mulai terasa down, coba ingat kembali betapa luar biasa dirimu. Kamu bisa melewati berbagai masalah, kamu sudah bertumbuh besar, kamu masih bisa bergerak dan beraktifitas, maka syukuri segala yang masih melekat pada dirimu.

Berkacalah, dan pandangi dirimu baik-baik. Bersyukurlah pada setiap helai rambut yang masih tetap setia melindungi kepala. Bersyukurlah atas mata yang masih mampu merekam gambar, bersyukurlah pada setiap jengkal fisik yang masih melekat pada dirimu. Bersyukur akan membantu kita untuk mencintai diri kita apa adanya. Jangan lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada diri kita sendiri karena telah melalui banyak hal dalam hidupmu.

Semakin rapuh sebuah jiwa, maka akan semakin mudah untuk membenci diri sendiri. Kalau saat ini kalian merasa gampang banget insecure, please cek-cek lagi seberapa sering kalian bersyukur dan berterima kasih pada diri kalian. Berterima kasihlah pada jiwa kalian yang sudah terus bertahan dalam hidup apapun kondisinya. Dengan melatih kebiasaan ini, maka jiwa kalian akan menjadi lebih kuat dan tidak gampang rapuh.

  • Find An Escape

Saat hidup terasa sangat berat, coba temukan sesuatu untuk menjadi escape getaway kita. Bukan untuk melarikan diri dari masalah, tetapi saat jiwa kita terasa sangat rapuh, menemukan tempat peralihan menjadi salah satu cara untuk take a space dan mengumpulkan sisa kekuatan jiwa kita untuk bangkit.

Nah, yang terpenting adalah menemukan pelarian yang bersifat positif! Karena, banyak juga yang menjadikan langkah ini sebagai pertolongan pertama sebelum menemukan tempat untuk bercerita, memaafkan orang lain, dan berterima kasih pada diri kita sendiri. Alhasil, pelarian yang dipilih adalah jalan sesat, shortcut untuk membawa kehancuran lainnya, seperti pergaulan bebas, narkoba, dan sebagainya. Ini bukanlah solusi untuk menguatkan jiwa yang rapuh, ini justru merusak jiwa dan hidup kalian. So please, hati-hati.

Kamu bisa mencoba melakukan hal-hal positif untuk mengalihkan fokus dan pikiranmu sesaat sehingga kamu mampu untuk berpikir jernih dan menyelesaikan masalahmu. Kamu bisa mulai pelarian kamu dengan menuliskannya ke dalam jurnal, kamu bisa mengalihkan rasa suntukmu dengan berkarya, menciptakan lagu, melukis, ataupun berolahraga. Alihkan fokusmu sesaat untuk mengumpulkan energi positif baru yang bisa kamu gunakan untuk move on dari situasi berat yang kamu alami.

Yuks, perhatikan kondisi jiwa kita baik-baik. Hati yang rapuh bukan menjadi pertanda lemahnya jiwa, tetapi ia hanyalah sinyal agar kita tidak lalai memberikan hak pada jiwa. Sadarlah dan bergeraklah, karena saat jiwamu sudah hancur berkeping, dunia dan hidupmu pun akan padam dalam kegelapan. That is why, please don’t ever forget to nourish ourselves and keep ourselves sane!