Bayi yang lahir ke dunia tak dibekali apapun oleh Tuhan kecuali organ-organ, tulang yang lentur, dan suara tangis yang menggelegar. Tak ada watermark agama dari Tuhan Sang Pencipta. Jika kebetulan ia lahir dari pasangan Muslim seperti kedua orantua saya, ia akan lantas dibisiki azan di telinga kanannya dan iqomah di telinga kirinya, seperti saya ketika lahir.

Bayi baru lahir tak sempat memilih apa yang ingin ia dengar di kedua telinganya untuk pertama kali, seperti pun dengan agama yang kemudian dianutnya. Sebagai penganut agama Islam dan membesarkan saya dengan penuh harapan, tanpa memberi kesempatan bertanya, agama apa yang ingin kau yakini? Ayah saya menuliskan “Islam” di kolom agama saat pendaftaran sekolah.

Tak ada prolog apapun hingga ayah ibu membayar biaya TPQ mengaji Al-Quran di dekat rumah. Tidak pernah ada pertanyaan kepada Ustad dan Ustadah mengapa saya harus duduk mengantri hingga tiba giliran mengeja huruf-huruf hijaiyah. Saya diwarisi tradisi mengaji tanpa bertanya untuk-apa hingga lulus SD.

Jika ingin berkata jujur, bukankah sebagian besar kita main meyakini begitu saja agama yang dipilihkan orangtua kita? Saya percaya bahwa sebagian besar bayi yang lahir yang mungkin hingga kini menganut agama yang telah diinternalisasikan ke dalam dirinya sejak kecil, hampir tanpa pergolakan.

Keyakinan agama di lingkungan tinggal saya tumbuh besar di tengah tradisi dan kebiasaan, karena sejak dulu telah begitu maka dilanjutkan seperti itu. Semenjak memiliki dunia yang lebih luas, kehidupan beragama saya menjadi lebih berwarna-warni. Banyak hal baru yang saya temui ketika berinteraksi, bahwa kemudian saya menemukan jika perjalanan spiritual tak melulu bisa diperoleh dari kegiatan-kegiatan ibadah.

Teman-teman saya mengajarkan saya menjalani setiap kegiatan dengan cinta dan kritis spiritualisme. Di sana saya menemukan gelora spiritual setiap saya berdiskusi tentang kemanusiaan, tentang pluralisme, tentang perbedaan. 

Hingga suatu waktu, salah satu teman dekat saya memilih berhijrah—mejadi pemeluk agama yang puritan. Saya turut berbahagia dengan jalan yang akhirnya ia tempuh. Ia menutup rapat tubuh dan wajah, menghindar dari hiruk pikuk dan memilih tinggal dalam kesunyian. Merapal dzikir hingga air mata terburai dan enggan terganggu perihal yang kini mereka sebut sebagai goda duniawi.

“Kehilangan” salah satu teman terbaik menggiring saya menyusuri jalan spiritualisme saya sendirian. Dalam perjalanan itu, saya kembali menemukan pengalaman relijius versi saya. Saya belajar tak hanya dari malaikat, dalam perjalanan itu juga, saya belajar pula dari setan. Sesuatu yang tak mungkin saya alami jika saya hanya berdiam diri dan mewarisi segala kepasrahan.

Saat itu misalnya, saya memetik pelajaran dari setan yang tak mau menyembah Adam, menunjukan sisi monoteis sejatinya. Setan tak menyejajarkan Tuhan dengan apapun. Dari sana, saya kini mulai belajar menyusuri jalan yang tidak biasa.

Salah seorang teman, di akun twitternya menjelaskan tentang pengalaman spiritualnya yang berbeda. Ia kerap mempertanyakan Sabda dan Hadist, namun tak lantas menentangnya. Ia berpikir jernih dan mencari tahu. Bagi saya, memutuskan menjadi Islam puritan mungkin akan lebih mudah sebab Tuhan menisbahkan Islam sekaligus dengan petunjuknya.

Jalan yang teman saya pilih ini lebih berliku, tetapi hampir di setiap likunya itu saya yakin akan menambah mantapkan keyakinannya. Bahwasanya Tuhan mengirimkan kekuasaanNya di setiap molekul, maka seharusnya tak pantas kita mengkotak-kotakkan lingkungan dan pergaulan, sebab setiap lingkungan dan pergaulan itu pula adalah ciptaan Tuhan.

Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan maksud tertentu. Lantas, jika telah diciptakan Tuhan, mengapa kita saling membatasi?

Kritis akan agama tak lantas menjadikan seseorang menjadi kafir. Menurut saya, iman itu harus dipupuk dengan jalan boleh saja membongkar tanahnya terlebih dahulu, menambahkan air, mengaduk humus, dan baru memadatkannya lagi. Memutuskan untuk memilih jalan ini bukan tidak akan menjadikan seseorang kurang relijius. Tergantung bagaimana seseorang memaknai relijiusitas itu sendiri.

Jika relijiusitas hanya dimaknai dengan atribut-atribut ortodoks dan simbol keagamaan, maka akan banyak sekali kita temukan kaum relijius yang menyuarakan “seruan” Tuhan dengan bom dan seruan kebencian. Namun, jika jiwa relijius telah mencapai level yang lebih “tinggi”, maka tak akan ada lagi perbedaan bagi pemeluk setiap jalan keagamaan.

Mengkritisi spiritualisme adalah hal yang sah-sah saja, melihat spiritualitas itu telah tertanam dalam diri kita sejak lahir. Bukankah kritis spiritualisme adalah usaha pemekaran keimanan?