Bentala pendidikan tidak pernah sepelik ini. Serangkaian krisis ekologi, teknologi, politik, dan pandemi tampaknya membuat segala sendi kehidupan tidak berdaya termasuk dunia pendidikan. Meski begitu, kita telah berusaha mendorong proses pendidikan ke level yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. 

Masalahnya, mampukah pendidikan di masa depan menjadi lebih humanis tanpa mereduksi peran-peran transendental ilmu pengetahuan. Esai ini berupaya untuk menelaah dan memikirkan ulang masa depan pendidikan yang lebih bermakna dan humanis, alih-alih sebagai instrumen pemenuhan kebutuhan material semata.

Revolusi Pendidikan

Revolusi pendidikan idealnya beriringan dengan filosofi pendidikan. Apa arti penting pendidikan yang ditanamkan dari semangat mendidik itu sendiri. Satu kerancuan selama ini adalah, menyamakan arti antara ukuran-ukuran pemenuhan kebutuhan sosial dengan pendidikan. Kita bekerja selalu dikaitkan dengan perkembangan diri, secara pribadi tentunya. 

Pendidikan seolah terjebak ke dalam satu tuntutan kebutuhan individu dilihat dari paradigma materialisme. Proses interaksi dialektis individu dengan lingkungannya diukur atas dasar reproduksi kebutuhan dalam masyarakat serta kebutuhan aktualisasi diri sebagai pelajar.

Jalan panjang pendidikan di mulai sejak ratusan tahun lalu. Pendidikan kala itu tepatnya Abad ke-16 hingga 18 masih didominasi oleh institusi agama. Pengajaran moral lebih ditekankan berdasarkan dogma-dogma agama, serta peran akal budi diabaikan. Baru menjelang awal abad 19, semangat rasionalitas dan humanisme melahirkan tatanan sosial baru di masyarakat Eropa, termasuk dunia pendidikan. 

Setiap individu berhak menalar ilmu pengetahuan melalui pendekatan yang humanis dan mengandalkan rasio ketimbang hal berbau metafisik. Semangat itulah yang mendorong Abad Pencerahan menuju masyarakat modern. Sementara, kemajuan yang ditandai oleh pesatnya perkembangan industri meninggalkan masalah baru, terutama bagi tujuan pendidikan.

Mengutip Durkheim (1956), bahwa dalam masyarakat industri, pendidikan memiliki peran dan fungsi menopang keberlangsungan kegiatan industri di masyarakat. Meski begitu, kondisi perkembangan pendidikan tentu tidak lepas dari masalah baru yang muncul pada masyarakat industri. 

Marx menganggap pendidikan pada masa itu hanya diposisikan sebagai objek kapitalis. Anak-anak sekolah sebenarnya hanya disiapkan sebagai calon tenaga kerja yang dieksploitasi di bawah kendali kapitalis (Martono, 2014).

Kultur Digital dan Otokritik Pendidikan Abad 21

Kegelisahan dilematis transformasi pendidikan era modern, ketika teknologi baru hadir menggantikan kehidupan tradisional. Relasi antara industri dan pendidikan begitu jelas. Jika kita berharap universitas-universitas dan sekolah sebagai penyumbang tenaga kerja, maka mereka harus siap selangkah lebih maju dari perkembangan dunia kerja. 

Sebab, biasanya kurikulum pendidikanlah yang menyesuaikan belakangan dengan kondisi industri. Welliver (dalam Beckwith, 1988) pernah menyinggung bagaimana seharusnya sekolah-sekolah itu berperan.

“Yang kita butuhkan adalah transformasi, bukan hanya reformasi sistem pendidikan. Kita seharusnya mempersiapkan siswa Master untuk pekerjaan yang belum ada dan mencari sistem sekolah dengan visi untuk mempekerjakan mereka.” (Welliver, dalam Beckwith, 1988)

Peluang dunia pendidikan pascamoderen bergantung pada perpaduan bioteknologi, teknologi informasi, dan algoritma yang menghasilkan kemajuan pesat pada cara manusia berinteraksi. Jika di Abad 20 tidak ada yang memiliki pengetahuan dan daya komputasi yang cukup, di Abad 21 saat ini segalanya tergantikan oleh kemampuan komputasi dan Artificial Intelligence (AI). 

Begitu penting kesadaran revolusi digital, bukan sekedar teknologi menjadi lebih cepat dan efisien. Mekanisme dan terobosan sosial serta ilmu pengetahuan semakin mampu menganalisis perilaku manusia, memprediksi emosi dan keinginan, serta potensi tergantikannya tenaga manusia. 

Ini jelas berarti teknologi bukanlah sekedar dimaknai sebagai perpindahan aktivitas tradisional ke platform digital. Lebih dari itu, teknologi algoritma dan AI memaksa terciptanya jarak antara manusia dengan kehidupan sosialnya. Jika meminjam istilah Marx, maka manusia mengalami keterasingan pada dunia sosialnya sendiri.

Sebab itu, pendidikan masa depan, atau barangkali kita telah memulainya, tidak cukup hanya dengan mendidik potensi keahlian kasar semata. Bagaimana memahami dan menciptakan algoritma mobil otomasi tanpa kemudi, meminjam analogi Harari;

"Ketika di jalan si mobil bertemu anak kecil yang tiba-tiba melintasi jalan mengejar bola. Apakah mobil akan terus berjalan dan menabrak si anak? atau mundur kemudian menabrak kendaraan lain di belakangnya?"

Pertanyaan-pertanyaan filosofis ini penting menjadi bekal para engineer di masa depan. Di sisi lain kemampuan mempertanyakan itu ada dalam wilayah kurikulum yang tak hanya mengedepankan hard skill seperti rancangan Kampus Merdeka. Ilmu pengetahuan seharusnya berperan penting terutama dalam pendidikan kritis untuk menghindari bias pada teknologi yang kita ciptakan.

Catatan Kritis

Pada akhirnya, suka tidak suka, kita berharap optimisme pada cakrawala pendidikan seperti pendidikan progresif. Pendidikan progresif mengandaikan sebuah kurikulum yang tidak hanya mempersiapkan murid sebagai tenaga kerja kapitalis. Namun, juga menawarkan mata pelajaran atau mata kuliah dengan tujuan para murid bebas menjadi dirinya sendiri. Mendorong daya kreativitas yang koheren dengan kompetensi anak. 

Bagaimana mereka terkungkung dalam norma-norma struktur sosial yang dibangun dalam sekolah seperti seragam, tata aturan, dan relasi murid-guru. Kebanyakan dari para lulusan sekolah ini, akan jauh lebih baik ketika masuk perguruan tinggi. Mereka bebas menentukan jurusan dan mengembangkan kompetensi yang sesuai dengan minat diri masing-masing. 

Oleh sebab itu, pendidikan progresif menawarkan tantangan bagi pendidikan masa depan agar mengedepankan kematangan berpikir serta melahirkan kembali kaum intelektual bukannya tenaga kerja individualis. Pendidikan yang tak kenal gagasan kebebasan akan sulit mengejawantahkan arti pendidikan itu sendiri – tentu saja konsep kebebasan ini lebih masuk akal ketimbang metafora “kampus merdeka”. 

Sedang pendidikan melupakan peran utamanya, yakni membentuk individu yang merdeka atas pilihannya menentukan cara berpikir dan bertindak, tanpa takut tak berpenghasilan, tanpa takut dilabeli “pengangguran” oleh orang lain.

Ketakutan itu seakan berlipat ganda di Abad 21 ini.  Kesenjangan kebutuhan dunia industri dan ketertinggalan kurikulum di kampus-kampus. Bagaimana otomasi menggantikan fungsi manusia sebagai sumber daya utama bagi industri. Banyak pekerjaan lama hilang dan mewujud dalam bentuk yang sama sekali baru. 

Lebih jauh, ketidaksiapan itu justru akibat dari pendangkalan ilmu pengetahuan yang hanya berfungsi sebagai instrumen mencari kerja. Ada yang dilupakan dalam proses mendidik kita. Dengan sangat jelas, itu nampak pada pengabaian pendidikan kritis dan kurangnya muatan mata pelajaran/kuliah yang mengajarkan berpikir kritis baik sebagai metode berpikir ataupun melalui pedagogi kritis. 

Mengutip World Economic Forum, kompetensi yang paling dibutuhkan di masa depan adalah kreativitas dan berpikir kritis menjawab pertanyaan-pertanyaan filosofis (etika) di balik kebermanfaatan sekaligus peran teknologi. Keduanya tentu – paling tidak hingga saat ini – belum dapat digantikan oleh mesin.

Kepustakaan:

Beckwith, D. (1988). The future of educational technology, 89.

Durkheim, E., & Sartre, J. P. (1956). Education and sociology. Simon and Schuster.

Marshall, J. D. (1996). Michel Foucault: Personal autonomy and education (Vol. 7). Springer Science & Business Media.

Martono, N. (2014). Sosiologi Pendidikan Michel Foucault. Jakarta: Rajawali Pers.