Akhir-akhir ini sering sekali kita mendengar istilah moderasi di berbagai media, mulai dair media sosial, sampai seminar khusus yang berisikan ajakan untuk bermoderasi khususnya dalam beragama.

Pertanyaannya, apa itu moderasi? Apa tujuan dari wacana moderasi? Dan pertanyaan akhirnya adalah apakah bermoderasi adalah solusi atau permasalahan baru? Mari kita bahas. Sebelumnya, tulisan ini berisikan keresahan pribadi seorang mahasiswa yang masih gagal faham dengan visi misi yang dibawa setiap kali ada kajian tentang moderasi, khususnya dalam beragama. Karna memang secara fakta yang saya temukan, tidak ada satu orang pun didunia ini yang bermoderasi secara kaffah.  

Mereka (yang saya temui tulisannya di media sosial bahkan yang menjadi pemateri di beberapa seminar yang saya ikuti) yang mengkampanyekan moderasi pun, menganggap dirinya dan kelompoknyalah yang benar dan hal itu menurut hemat saya hal tidak bisa dibantah. Mengingat bahwa setiap penafsiran adalah karya manusia dan sifatnya subjektif (cocok-cocokan).

1.Apa itu moderasi?

Moderasi sendiri  dapat diartikan dengan “sikap atau pandangan yang tidak berlebihan, tidak ekstreem dan tidak radikal. Hal ini merujuk pada QS. 2:143 yang artinya “Dan demikianlah pula Kami telah jadikan kamu (umat islam) ‘umat pertangahan’ agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad ﷺ ) menjadi saksi atas perbuatan kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu, sungguh, allah maha pengasihm maha penyayan kepada manusia”.salah satu pesan yang terkandung dalam ayat ini menurut hemat penulis adalah umat islam diciptakan sebagai umat “yang pertengahan” atau umat yang tidak condong ke kanan atau kiri.

Selain pengertian diatas, Moderasi juga bisa diartikan dengan sinergi antara keadilan dan kebaikan. Ungkapan ini timbul karna adanya kepercayaan bahwa umat islam adalah umat yang berlaku adil dan baik. Hal ini diperkuat dengan hasil penafsiran dari para penafsir klasik, yang sepakat bahwa kata wasathan dengan orang-orang yang adil dan baik.

2.Pertanyaan selanjutnya adalah, apa tujuan dari wacana moderasi?

Salah satu tujuan moderasi yang sering saya dengar diberbagai pertemuan dan baca di berabgai artikel adalah untuk mewujudkan masyarakat yang damai, anti kekerasan, dan toleran terhadap oarng lain.

Dari definisi tujuan diatas, selintas tidak ada yang salah dari visi dan misi yang dibawa oleh faham ini. Akan tetapi, jika kita lihat dari sisi lain, praktik dari wacana moderasi sendiri menjadi diluar dari jalurnya. Mengapa demikian? Karna menurut hemat penulis, praktik moderasi di lapangan hanyala mematikan ruang diskusi public dengan alasan salah satu tujuan moderasi adalah kedamaian dan kenyamanan. Damai dan nyaman adalah sesuatu yang haram hukumnya untuk makhluk yang bisa berfikir. Menganggap semua golongan benar bisa saja menjadi boomerang bagi mereka yang menganut faham tersebut. Kita ilustrasikan saja dengan asumsi berikut :

Amir adalah orang yang berfaham “kanan”, dan Arjun adalah adalah orang yang berfaham “kiri”. Jika mereka menganggap tiap golongan itu baik, maka mereka mungkin enggan saling berkenalan karna “kenyamanan” yang mereka dapatkan. Dan menurut hemat penulis, itu sangatlah berbahaya bagi kualitas keilmuan keduanya.

Berbeda jika mereka tidak saling kenal dan tidak menganggap tiap golongan itu baik. Mereka mungkin akan mencari alasan mengapa mereka berbeda? Dan itu juga akan menciptakan ruang diskusi yang sangatlah radikal. Meskipun saya juga tidak bisa menafikkan kalau ada kemungkinan terburuk.

Dari ilustrasi diatas, yang mereka butuhkan adalah sikap toleran terhadap golongan lain. Dan menurut hemat penulis, itulah yang harusnya dikampanyekan dan bukan faham “tiap golongan itu benar”.

3.Dan pertanyaan terakhir Moderasi : solusi atau masalah baru ?

Pada akhirnya, saya sendiri tidak bisa menentukan apakah wacana dari moderasi ini bisa menjadi solusi atau hanya akan menambah masalah baru. Akan tetapi, jika setiap kampanye tentang moderasi yang dibawa adalah faham “setiap golongan itu benar”, maka saya rasa itu hanya akan mematikan ruang diskusi karna rasa nyaman yang diberikan. Dan akan bebeda jika yang dikampanyekan adalah “toleran terhadap kepercayaan orang lain”, maka saya rasa wacara untuk bermoderasi sendiri bisa menjadi solusi.

Perbedaan dari 2 hasil tersebut adalah, jika yang dikampanyekan adalah “setiap golongan itu benar” maka sebagai umat yang berfikir, hal itu membuktikan "tipisnya keimanan orang tersebut" terhadap apa yang diyakini. Dan jika memang yang dikampanyekan adalah “toleran terhadap kepercayan orang lain”, maka saya rasa itu bisa menjadi salah satu implementasi dari QS.2:256 tentang “tidak ada pemaksaan dalam beragama...” yang mana dalam ayat ini saya artikan dengan beragama secara kepercayaan dan beagama secara tindakan,

Bagaimana dengan anda? Apakah moderasi adalah bisa jadi solusi atau hanya menjadi masalah baru? Anda yang menentukan itu dari sekarang!