59735_38925.jpg
Ilustrasi: Google.com
Agama · 5 menit baca

Mengkritisi Aturan (Hukum) Hidup Beragama
Belajar dari Yesus Sang Pembebas Kemanusiaan

Bagi kaum kristiani pada umumnya, Yesus dipahami sebagai penyelamat sekaligus penebus dosa manusia. Kehadirannya menjadi tanda kasih Allah yang nyata bagi manusia, khususnya untuk membebaskan manusia dari dosa.

Selain itu, dia merupakan sosok yang istimewa karena memiliki hubungan khusus dengan Allah. Ada banyak julukan yang dapat diberikan baginya. Dalam Alkitab, khususnya Injil, kita dapat menemukan julukan-julukan seperti Putra Allah, Mesias, atau Sabda itu sendiri.

Julukan-julukan seperti ini kiranya akan sulit “diterima” dalam pandangan agama lain yang sangat menekankan keesaaan Allah (Tauhid), misalnya saja dalam tradisi Yahudi maupun Islam. Namun, saya tidak akan menguraikan lebih jauh mengenai julukan-julukan itu.

Pembaca dapat melihat dalam artikel saya sebelumnya yang berjudul Menjawab Pertanyaan Habib Rizieq. Kali ini, saya ingin menunjukkan sosok lain dari Yesus yang tidak melulu seorang utusan Allah atau nabi.

Perlu diingat bahwa Yesus adalah seorang Yahudi sejati. Dalam masa hidupnya, dia menegaskan bahwa dirinya datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, tetapi ingin menyempurnakannya.

Namun, bagi orang Yahudi, khususnya para Imam, kaum Farisi, dan ahli Taurat, dirinya merupakan sosok kontroversial. Layaknya seorang pejuang dan pembebas kemanusiaan.

Dia sering kali mengkritik pemuka agama Yahudi waktu itu yang hanya tahu perihal perintah dan ajaran dari Allah, namun sikap dan tindakan mereka tidak sesuai apa yang mereka ajarkan. Mereka menuntut umatnya menjalankan hukum Taurat dengan segala bentuk konsekuensinya. Jika seorang kedapatan berbuat zinah, maka selayaknya dia harus dirajam.

Namun, Yesus menawarkan hal yang lain. Ketika para Imam dan beberapa Petuah Yahudi menyerahkan padanya seorang wanita yang berzinah, Yesus bertindak seolah-olah “melawan” hukum Taurat. Menurut hukum Taurat, wanita itu mesti dihukum rajam.

Yesus malah bertindak sebaliknya. Dan inilah yang menjadi bukti Yesus sebagai tokoh pembebas kemanusiaan dari segala kungkungan peraturan keagamaan yang malah mencederai kemanusiaan.

Yesus mengatakan kepada para Imam dan Petuah Yahudi: “Jika di antara kalian ada yang tidak pernah berbuat dosa, hendaklah dia yang pertama kali melempari perempuan ini dengan batu” (Yoh. 8:2-11).

Akhirnya, tak satu pun berani melempari perempuan itu dengan batu. Yesus malah mengampuni dan menasihati perempuan itu agar tidak berbuat dosa lagi.

Di hadapan aturan Hari Sabat (hari ibadah orang Yahudi) yang menuntut orang tidak melakukan aktivitas apa pun, Yesus malah bertindak melampui aturan itu. Baginya, apakah dengan demikian kita berarti tidak boleh melakukan tindakan sekalipun itu sungguh menunjukkan rasa kemanusiaan kita?

Misalnya, Yesus pernah menyembuhkan orang sakit pada Hari Sabat dan menurut aturan orang Yahudi dia telah melanggar aturan Hari Sabat. Demikian pun, ketika Yesus membolehkan para muridnya untuk memetik gandum pada Hari Sabat karena rasa lapar yang mereka alami.

Yesus tidak rela seorang sakit menderita atau orang mati kelaparan hanya karena mentaati aturan keagamaan. Yesus sering kali mengatakan bahwa manusia lebih mulia dan luhur dari aturan-aturan keagamaan. Manusia bukan untuk aturan, tetapi aturan itulah yang mesti menyesuaikan diri dengan manusia.

Orang Yahudi merasa geram dengan tindakan para murid yang bagi mereka melanggar tradisi Taurat. Namun, Yesus menjawab bahwa sikap batiniah lebih penting daripada kebersihan ragawi. Demikian pun ketika Yesus berhadapan dengan orang kusta dan beberapa kelainan lahiriah seperti tuli, buta, atau gagap.

Dalam keyakinan orang Yahudi pada masa itu, orang-orang seperti itu dianggap mendapat kutukan akibat dosa, entah dirinya ataupun keluarganya. Maka dari itu, mereka mesti dijauhi dan menjadi najis. Sementara Yesus malah mendekati dan bahkan menyembuhkan mereka.

Keangkuhan orang Yahudi sebagai bangsa terpilih membuat mereka merasa lebih. Tetapi, Yesus mengajarkan sebaliknya, yaitu mengasihi orang apa pun latar belakang dan sukunya.

Ini sangat nampak dalam perumpamaan yang diberikan Yesus tentang “Orang Samaria yang Baik Hati” (Luk. 10: 25-37). Orang Samaria merupakan bangsa kafir, terutama karena ras mereka tercampur baur dengan bangsa asing.

Di hadapan pemahaman yang eksklusif terhadap bangsa lain (Samaria sebagai bangsa kafir karena tidak murni Yahudi), Yesus mengajarkan sebuah persaudaraan universal. Sesama saudara tidak hanya terbatas pada kelompoknya saja, tetapi meluas kepada seluruh umat manusia.

Beberapa contoh di atas merupakan teladan hidup Yesus yang kiranya waktu itu membuat para pemuka agama Yahudi merasa disaingi. Seolah-olah tradisi Taurat dinodai dan dilanggar oleh Yesus. Hukum Taurat yang dipandang sebelumnya begitu sakral kemudian “dilanggar” oleh Yesus. Namun, tentu kita sadar bahwa tindakan Yesus bukan suatu yang tidak berdasar.

Untuk itulah, saya melihat Yesus sungguh sebagai seorang tokoh pembebas kemanusiaan. Akhirnya, gebrakan-gebrakan Yesus ini juga menjadi alasan dia dimusuhi oleh pemuka agama Yahudi sehingga disalibkan oleh bangsanya sendiri.

Relevansi bagi Kehidupan Beragama 

Cara hidup dan teladan Yesus sungguh menunjukkan keberpihakannya pada kemanusiaan. Saya pikir ini mengingatkan kita agar aturan dan hukum keagamaan benar-benar tidak membebani manusia, apalagi harus mencederai kemanusiaan bahkan menghilangkan nyawanya.

Yesus mengajarkan suatu yang melampui aturan dan hukum. Setidaknya, ini dapat menjadi pedomaan bagi kita, khususnya agama Kristen itu sendiri, yang menyakini dirinya sebagai utusan Allah. Tentu juga dapat menjadi inspirasi bagi aturan agama yang lain.

Kita pun (khususnya orang Kristiani) mesti sadar dan melek bahwa dalam karya dan masa hidupnya, Yesus tidak pernah secara eksplisit untuk mendirikan suatu institusi agama tertentu dengan berbagai aturan dan hukum. Dia hanya menegaskan hukum Cinta-Kasih yang menjadi sintesis seluruh ajarannya. Mengasihi Tuhan dan sesama seperti kita mengasihi diri sendiri. Tidak hanya sesama dalam arti sahabat, tetapi musuh pun mesti kita kasihi (ampuni).

Aturan dan hukum ataupun dogma agama kiranya ada demi memperkuat kesadaran akan kemanusiaan, bukan sebaliknya atau membebani manusia itu sendiri. Kiranya kritikan Marthin Luther terhadap institusi Gereja Katolik pada masanya menjadi masuk akal. Tuntutan harus membeli “surat dosa” (praktik simoni) justru membebani umat, khususnya orang miskin. Aturan dan dogma yang begitu banyak membuat hidup beriman menjadi sulit dan kaku.

Demikian pun dengan dogma-dogma agama yang sifatnya eksklusif. Yesus mengajarkan sebuah persaudaraan yang melampaui suku dan latar belakang sosial lainnya.

Apakah dibenarkan jika dogma agama akhirnya harus membenarkan pembunuhan pada sesama manusia? Yesus telah menjawabnya. Perempuan yang hendak dirajam oleh pemuka agama Yahudi demi taat pada hukum taurat akhirnya diselamatkan Yesus.

Selain itu, Yesus mengkritik hidup berkeagamaan yang hanya dilihat dari cara bersikap dan pembawaan diri yang lahiriah. Misalnya, orang-orang farisi (munafik) sering memamerkan diri saat berdoa atau berpuasa, sementara sikap batiniahnya penuh dengan kebusukan.

Mungkin relevan dengan saat ini ketika iman dan kekudusan seseorang hanya dilihat dari cara berpakaian. Seolah-olah jika dia berpakaian seperti ini atau seperti itu dapat mencerminkan iman dan sikap batiniahnya. Semoga.