1 tahun lalu · 1312 view · 4 menit baca · Media 43019.jpg

Mengkritik Penjahat Kok Dibilang Jahat? Apaan Coba? Dasar Ndeso!

Mau mati ketawa saya mendengar pemberitaan soal pelaporan Kaesang Pangarep, anak Presiden Joko Widodo. Hanya karena mengkritik para penjahat, baik yang berkerah maupun yang berjubah, Kaesang lalu dikelompokkan sebagai yang jahat juga.

Berbekal bukti video blog (vlog) Kaesang bertajuk #BapakMintaProyek, seorang warga bernama Muhammad Hidayat melaporkan anak orang nomor satu di negeri ini ke Polres Bekasi Kota pada Minggu, 2 Juli 2017. Dalam surat pengaduannya bernomor LP/1049/K/VII/2017/SPKT/Restro Bekasi Kota, Hidayat menuduh Kaesang telah berbuat jahat, persis sebagaimana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang sebelumnya juga dituduh berlaku demikian.

“Dalam video itu, patut diduga ada tindakan pidana. Ini terkait dengan Pasal 156a tentang penodaan agama,” klaim Hidayat.

Selain itu, Hidayat juga mempersoalkan penyebutan “ndeso” dalam ujaran Kaesang. Ndeso, dalam makna Hidayat, adalah ujaran yang mengkerdilkan orang-orang desa. “Jangan masyarakat desa itu dianggap rendahan,” lanjutnya.

(Seruput kopi dulu, ah...)

Pelapor Kaesang, Hidayat, tentu tak mampu melihat upaya Kaesang yang mencoba memberi kritik secara kreatif. Mulai dari soal perilaku korup para pejabat, yang memang kerap meminta proyek-proyek triliunan di pemerintahan, ujaran-ujaran kebencian, pengkafir-kafiran, sampai pada ancaman tidak akan disalatkannya jenazah muslim pendukung Ahok. Semua Kaesang kritik dengan niat dan upaya membersihkan negeri ini dari segala macam bentuk kekerdilan berpikir.

Lantas, bagaimana mungkin bangsa ini bisa maju jika yang berbuat kebajikan saja harus diamputasi di mana-mana? Para koruptor dibiarkan. Yang gemar menebar teror didiamkan. Apaan coba? Dasar ndeso!

Tapi saya jadi curiga, jangan-jangan Hidayat sebagai pelapor itu tidak menyimak vlog Kaesang secara utuh. Jikapun iya, saya yakin ia menontonnya secara buta-buta. Ia menyimaknya hanya dengan membelalakkan mata, tanpa kecenderungan mengoperasikan nalarnya secara sehat. Benar-benar ndeso, bukan?

Taruhlah jika Kaesang benar-benar harus kita tuduh telah melontarkan ujaran kebenciannya di media sosial. Pertanyaannya, apakah ujaran kebencian tersebut adalah fitnah alias hoax? Bukankah itu adalah fakta yang benar-benar terjadi di lingkungan sekitar kita?

Dalam kasus pejabat minta proyek misalnya, atau kasus “papa minta saham” atau “papa minta pulsa”, bukankah itu benar sebagai fakta? Meskipun ujarannya tergolong membenci, tapi yang dibenci Kaesang adalah perilaku korup para pejabat, membenci para penjahat.

Belum lagi soal ujaran pengkafir-kafirkan kepada mereka yang dianggap berbeda. Hanya karena berbeda secara agama atau pilihan politik, yang berbeda itu lalu dinilai halal darahnya.

Di kasus Ahok, bukankah ujaran para preman berjubah pada mantan Gubernur DKI Jakarta ini adalah juga satu fakta yang nyata? Tengok kembalilah realitas Pilkada DKI yang telah silam itu, apalagi sampai melibatkan anak-anak kecil untuk ikut menggaungkan lirik-lirik seperti “bunuh-bunuh Ahok”. Apa ini bukan fakta-fakta ke­-ndeso-an?

Kemudian soal tidak mau mensalatkan jenasah muslim yang terbukti mendukung Ahok, apakah ini juga bukan fakta yang pernah terjadi di Ibu Kota? Ah, Hidayat mungkin sudah lupa, atau mungkin pura-pura lupa, dibutakan oleh kepicikan berpikirnya sendiri. Semoga saya salah. Dan saya siap disebut ndeso jika memang saya yang salah.

Untuk soal ndeso sendiri, apaan lagi coba ini? Kata ini kan bermakna “kampungan”, bukan? Kok malah dibilang merendahkan masyarakat desa? Aneh!

Asal Hidayat tahu, ndeso atau kampungan itu adalah satu macam sifat kerdil manusia. Ia bermakna “ketinggalan zaman”, cenderung berpikir ke hal-hal yang masih tradisional, padahal zaman sudah berkembang pesat alias modern. Dan Kaesang mengilustrasikan itu. Seperti katanya, bukan jamannya lagi seorang anak minta proyek triliunan kepada orangtuanya yang duduk di pemerintahan. Itu ndeso namanya.

Terlepas dari itu, yang membuat saya hampir mati ketawa lagi adalah soal pengalaman hidup si pelapor. Tahukah Anda jika yang melaporkan Kaesang itu adalah orang yang juga pernah terlibat, bahkan sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik, dalam kasus ujaran kebencian sendiri?

Jika tak percaya, silakan tanya langsung ke Polres Bekasi Kota. Tanya apakah Hidayat pernah ditetapkan sebagai tersangka karena menyebarkan video Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan pada saat aksi bela Islam, 4 November 2016. Tanyakan apakah perbuatannya tersebut dijerat dengan UU ITE Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Dan jangan lupa, tanyakan pula apakah penyidik juga bahkan sempat menahan Hidayat pada 15 November 2016. Tetapi karena alasan-alasan tertentu, dilakukan penangguhan penahanan atas dirinya. Kasusnya sendiri sampai hari ini tetap masih berjalan apa adanya.

Jadi, dalam kasus pelaporan Kaesang oleh Hidayat ini, terang jelas nuansa “maling teriak maling”-nya. Maksud saya, membantu penegakan hukum sih boleh-boleh saja. Terlepas apakah si pembantu itu bersih atau tidak dari jerat hukum, tapi yang terpenting adalah bukti atau alasan harus disertakan secara kuat.

Pada vlog Kaesang, apakah bukti-bukti itu memang nyata terlihat? Benarkah Kaesang telah menistakan ajaran agama (Islam), mengujarkan ujaran-ujaran kebencian melalui upaya dirinya mengkritik secara kreatif para pelaku utamanya?

Tapi tak masalah. Orang bisa berbeda paham. Cara penggunaan nalar tak melulu harus sama. Hanya saja, satu hal yang pasti dari unggahan Kaesang adalah mengritik para penjahat, baik yang berkerah maupun yang berjubah, justru adalah bukti bahwa Kaesang punya niatan membangun bangsa ini dari kekerdilan. Meski sayangnya Hidayat tak mampu menilik itu secara bijaksana. Dan ini sekaligus menjadi bukti bahwa cara penggunaan nalar tak melulu harus sama.

(Seruput kopi kembali...)

Benar kata Kaesang, membangun Indonesia harus dimulai dengan cara mendidik generasi penerus bangsanya. Ketika mereka (anak-anak kecil) malah diajarkan mengintimidasi dan meneror orang lain, mau jadi apa bangsa ini ke depan? Secuplik video yang juga tayang di vlog Kaesang merupakan penampakan yang jelas seberapa buruknya generasi masa depan kita.

Ketika Kaesang bertanya itu ajaran siapa, tentu, jika kita mau berpikir maju bukan ndeso, sama-sama akan kita katakan: bukan ajaran Islam; itu ajaran para pembenci Islam, penista Islam. Jadi, mengkritik penista kok malah dituduh menista? Mengkrik penjahat kok dibilang jahat?

Lagi-lagi Kaesang benar, untuk membangun Indonesia, yang kita butuhkan adalah kerja bersama. Ya, kerja bersama, bukan malah saling menjelek-jelekkan, mengadu-domba, mengkafir-kafirkan orang lain, apalagi hanya karena perbedaan agama atau perbedaan dalam pilihan politik.

 Kita itu Indonesia. Kita itu hidup dalam perbedaan. Pesan ini yang menunjukkan bahwa Kaesang sebenarnya tidak mengujarkan ujaran kebencian, melainkan menyeru ujaran perdamaian. Maka jangan ndeso lagi ya!