24895_71470.jpg
Sumber Foto: Dok. Pribadi
Buku · 4 menit baca

Mengkritik Orba ala Cak Nun
Ulasan Buku "Saat-Saat Terakhir Bersama Soeharto"

Dari sekian buku Cak Nun yang pernah saya baca—BH, Jejak Tinju Pak Kiai, Indonesia Bagian dari Desaku, dan lainnya—hanya buku ini yang mengupas secara mendetail tentang hubungan beliau dengan rezim Orba.

Awalnya, saya menganggap bahwa Cak Nun tidak bersinggungan langsung dengan Orba. Sebelum membaca buku ini, saya anggap Cak Nun sebagai sosok ulama yang fokus memberi ceramah di kawasan pinggiran perkotaan.

Anggapan awal saya ini terbantahkan karena Cak Nun memiliki peran besar selama rezim orde baru. Cak Nun, pada saat itu, lantang namun tetap santun mengkritik orde baru yang sudah berkuasa selama 32 tahun.

Namun patut disayangkan, hampir semua “suara” Cak Nun tidak dimuat media pada saat itu. Bagaimana dimuat, wong tulisan Cak Nun begitu jujur dan tanpa basa-basi langsung menyuarakan agar Soeharto segera lengser keprabon.

Media-media besar takut memuat buah pikiran Cak Nun karena rezim Orba sangat anti terhadap kritik. Pembredelan media bukan menjadi hal yang sulit bagi rezim Orba melalui departemen peneranganya—salah satu korbannya adalah Tempo pada tahun 80-an.

Isi buku ini, secara substansial, tidak beda jauh dengan buku-buku Cak Nun sebelumnya yang mengusung semangat kemanusiaan yang berjalin erat dengan relijiusitas. Buku yang berisi tulisan-tulisan pendek Cak Nun—dan ada pula tulisan dari Cak Nur—ini banyak membahas tentang problem gejolak kemanusiaan yang terjadi di era orde baru.

Tema-tema tentang degradasi moral para petinggi negara; culasnya para oportunis yang mencari untung di masa transisi kekuasaan pasca runtuhnya orde baru; susahnya rakyat membeli beras karena krisis moneter; dan masih banyak lagi.

Dalam tulisannya, Cak Nun selalu memposisikan dirinya sebagai wong cilik yang tidak begitu dipandang—kalau dalam istilah media, namanya tidak marketable. Cak Nun menganggap dirinya hanya sebagai rakyat biasa. Hal ini diutarakan Cak Nun dalam setiap tulisannya:

“Sebagai warga negara biasa dan rakyat kecil, saya hanya bisa berpendapat, mempertanyakan, dan mengusulkan…” (Hlm. 11)

“Tidak usah dianggap atau tidak dianggap tokoh reformis, wong kenyataannya saya memang bukan tokoh reformis.” (Hlm. 73)

“Itu semua saya lakukan bukan sebagai kiai, bukan ulama, bukan intelektual, bukan seniman atau apa pun. Saya tidak punya karier, tidak punya target untuk menjadi apa-apa, juga tidak pernah merasa terbatasi oleh label-label. Saya hanya selalu merasa bersalah kepada wong cilik.” (Hlm. 76)

Sebenarnya masih banyak ungkapan-ungkapan rendah hati Cak Nun dalam buku ini. Jika saya tuliskan semua bisa membuat ulasan ini terlalu panjang.

Sikap rendah hati Cak Nun ini, bagi saya, justru menunjukkan kualitas beliau. Saya menganggap bahwa Cak Nun, secara tersembunyi, ingin mengajarkan pada kita bahwa berbuat besar bagi Indonesia tidak harus digembar-gemborkan di depan umum.

Misalnya, isi pokok buku ini yang sesuai dengan judulnya Saat-Saat Terakhir Bersama Soeharto, yang ternyata Cak Nun memiliki peran penting untuk mendesak Soeharto agar lengser dari kekuasaanya. Ditemani dengan Cak Nur beserta anggota “tim 9”, Cak Nun berhasil mendesak Soeharto agar berkata “Gag dadi presiden, gag patheken.”[1] 

Pertemuan yang terjadi pada tanggal 19 Mei 1998 itu memantik polemik di tengah masyarakat, khususnya di kalangan para pejuang reformasi. Ada friksi yang terpecah antara pro-Cak Nun dan kontra. Pertemuan yang bersifat tertutup itu dianggap sebagai akal-akalan rezim Orba dan “tim 9” untuk melakukan kolusi.

Kekecewaan dari pihak kontra ini juga timbul karena Cak Nun dianggap sebagai tokoh pro-reformasi, tapi berkhianat setelah melakukan pertemuan tersebut. Di satu sisi, ada yang menganggap Cak Nun dan kawan-kawan patut diacungi jempol karena berani berhadapan langsung dengan sosok Soeharto untuk meminta Soeharto lengser.

Menanggapi gejolak itu, khususnya dari pihak kontra, Cak Nun dengan santai menjawab: “Atau, kalau memang kami punya karakter untuk kolusi, mestinya dulu-dulu dong, kenapa baru berkolusi ketika setiap orang Indonesia sudah meminta Pak Harto mundur.” (Hlm. 68)

Selain membahas seluk-beluk persinggungan Cak Nun dengan Orba, sejauh pemahaman saya, buku ini mengajarkan bagaimana cara mengkritik tanpa menyertakan unsur kebencian. Banyak kritikan Cak Nun terhadap kepemimpinan Soeharto, yang termuat dalam buku ini, yang justru tidak mengajak pembacanya untuk membenci Soeharto, tapi justru sebaliknya. Di sinilah letak dimensi humanisme seorang Cak Nun. 

“Sedangkan seekor kucing yang terperosok jatuh ke parit kotor kita akan datangi, kita ambil, kita mandikan, kita handuki, dan kasih makan. Apalagi Soeharto, saudara sesama hamba Allah, sesama khalifah fil-ardl. Kalau ia terperosok ke dalam parit kotor kezaliman, kita wajib mengambilnya, menariknya ke atas tanah yang bersih—melalui kritik, kecaman, saran, desakan, kalau perlu langsung bertemu dengannya dan mengemukakan semua muatan cinta kita itu demi keselamatannya di depan Tuhan.” (Hlm. 63) 

Tidak lupa, Cak Nun selalu menyelipkan ayat-ayat suci sebagai landasan beliau dalam mengutarakan isi pikirannya. Pencantuman ayat-ayat suci Al-Quran, menurut saya, justru memperkaya dan membuat tulisan Cak Nun lebih berbobot. Dan adanya kutipan-kutipan ayat suci ini tidak membuat buku ini bersifat eksklusif, atau untuk golongan tertentu saja. Buku ini bisa dibaca oleh siapa pun yang tertarik dengan pemikiran beliau.

Analisis-analisis beliau masih relevan, misalnya dalam tulisan bertajuk Sayap-Sayap Kerbau, yang dimuat buku ini. Tulisan tersebut membahas dua sudut pandang dalam melihat sebuah fenomena; ada beberapa orang yang cenderung bersifat memaksakan kehendaknya dan berpaling dari objektifitas; dan sebaliknya, ada orang yang menggunakan akal sehat dan objektifitas dalam memandang sebuah fenomena.

Pesan terakhir yang ingin disampaikan buku ini pada pembacanya adalah silakan kritik orangnya, tapi jangan permalukan orangnya. Mengkritik kesalahan adalah sunnah. Karena jika kita diam dengan keburukan, maka kita menjadi bagian keburukan tersebut.

Mungkin pesan ini, bagi sebagian pembaca, tidak memuaskan dan menganggap bahwa Cak Nun memang sosok yang pro terhadap Soeharto. Tapi, saran saya, sebelum Anda menghakimi Cak Nun, silakan baca buku ini sampai selesai dan renungkan sejenak.

Jika Anda masih menganggap Cak Nun sosok yang kontra terhadap reformasi, ya semua orang punya sudut pandangnya, seperti dua orang dengan dua sudut pandang berbeda yang ada dalam cerita Sayap-Sayap Kerbau yang dimuat buku ini.

Judul Buku: Saat-Saat Terakhir Bersama Soeharto
Penulis: Emha Ainun Nadjib
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: September 2016 (Cetakan Kedua)
Tebal: 189 halaman
ISBN: 978-602-291-206-4

[1] Ungkapan bahasa Jawa, kurang lebih artinya: tidak menjadi Presiden, tidak masalah.