/1/

Saat jemariku terpanggil untuk menuliskan suara hati, aku sadar bukan pujangga, bukan pula penyair hebat, aku sangat sadar dengan 'kebukan siapa-siapaan'ku. 

Akhir-akhir ini aku sering sekali menghanyutkan diri dalam heningnya malam, mendengarkan lagu 'denting'nya Melly Goeslaw sambil menatap langit-langit kamar. Tidak tidur, tapi setengah sadar. 

Sebenarnya aku benci mengakui, gengsi menuliskan suara hati yang terkesan melow, ini bukan seperti diriku. Tapi di sela-sela itu, aku juga menyadari bahwa perasaan tidak bisa disangkal. 

Kenapa manusia seringkali tidak jujur dengan perasaan sendiri? Sudah tahu sedang tidak baik-baik saja, tapi malah memaksa untuk terus baik-baik saja. 

Ini bukan soal dramaturgi, pakai topeng di depan orang lain itu memang perlu. Tapi topeng itu tidak berlaku bagi diri sendiri. Sampai kadang aku bingung.

Aku bingung soal cinta dan benci, dua hal yang berbeda, tapi perbedaannya sangat tipis. Kadang aku berpikir kalau aku membenci diri sendiri. Namun setelah dipikir-pikir, bisa saja itu bukan benci, sebaliknya; aku terlalu mencintai diri sendiri. 

Satu sisi, aku terus memenuhi kebutuhan hidupku, merawat diri dan memanjakan diri. Tapi di sisi lain, aku merendahkan diri sendiri, tidak menghargai dan tidak mempercayai diri sendiri. 

Ah, sudah jam 01.00 malam. Aku masih saja mengetik, hitung-hitung terapi melawan sepi. Bahkan setiap malam aku bersahabat dengan kenangan, ini bukan lelucon ataupun hal menyedihkan. 

Aku tidak sedang terpuruk atau menyelami kesedihan. Aku sendiri yang membiarkan diri menikmati semua ini. Apapun itu, dari mulai madu sampai racun, aku sendiri yang mengizinkan mereka masuk dalam kerongkonganku.

Tentu saja hakikatnya Tuhan yang mengizinkan. Kita tidak punya daya untuk menolak apa-apa yang datang pada hidup, tapi bukankah kita punya kendali untuk menanggapi? Kita punya kebebasan untuk menganggap dunia itu serius atau bercanda. 

Syair puisi yang tidak puitis ini menjadi refleksi, bahwa aku sedang menjalani proses belajar tanpa akhir, kecuali mati.

/2/

Hujan turun, aku tidak ingin mengeluh ataupun bersyukur. Saat ini aku sedang ingin menuruti perasaanku saja. Kasihan dia, selama ini ku tepis terus-menerus, kuusir dia, kusingkirkan dia dengan rasio-rasio yang angkuh dan rapuh. 

Dulu, aku sempat memaki diriku hanya karena pikiran dan perasaan yang sulit dikendalikan, "Pikiran itu memusingkan dan perasaan itu melemahkan". 

Bahkan saat itu aku berharap 'ingin tidak punya perasaan saja'. Ah, setelah dipikir-pikir, pengecut sekali diriku. Aku terlalu takut dengan kekacauan, aku takut dengan luka. 

Melelahkan sekali, sekarang aku mengizinkan pikiran dan perasaan berjalan bebas. Kalian merdeka sekarang, kali ini aku adalah tuan rumah yang menerima suka duka dengan penuh kesadaran. 

/3/

Ini ruang publik, sejujurnya aku merasa tidak pantas untuk meluapkan emosi yang sedang kurasakan ini. Di tengah hiruk-pikuknya kehidupan, aku malah bersenandung dan mengadu di balik puisi.

Juga tidak berharap siapapun meresapi tulisanku. Percayalah, setiap manusia memikirkan banyak hal dalam hidupnya. Soal keluarga? harapan? cita-cita? Pendidikan/karir? Jiwa sosial? Atau bahkan urusan negara? Bukankah semua itu melibatkan pikiran dan perasaan juga?

/4/

Sudah 462 kata, boleh jadi aku menyesal setelah tulisan ini terbit. Bukan bukan, bukan aku, tapi sisi rapuhku. Dia selalu saja berbisik-bisik, "kesampingkan saja urusan rasa, itu akan membuatmu terlihat lemah".

Huft seperti setan. Tapi aku memilih meluapkan emosi dan menjadikannya karya, itu lebih baik dibanding hanya melakukan komunikode di story WhatsApp. Siapa juga yang akan peka? Yang ada hanya terlihat seperti mengemis perhatian.

/5/

Sebetulnya perasaan selalu tahu apa yang kita butuhkan. Coba tanyakan saja, dia mengetahui meski sering kita sangkal. Bukan sedang memihak perasaan, hanya saja kita perlu kenal. 

Seberapa sering kita melakukan kopi darat dengan diri sendiri? Mengintrogasi diri sendiri? Mewawancarai diri sendiri? Kalau belum seakrab itu, kenalan saja dulu. 

Silahkan berkenalan, tidak perlu membingungkan kenapa tulisan ini berjudul 'mengizinkan diri penuh luka'. Kemungkinannya, ketika kamu klik tulisan ini:

Satu, kamu sedang penuh luka. Dua, kamu sedang kesepian. Tiga, bisa jadi kamu orang terdekatku. Empat, mungkin kamu bukan orang terdekatku dan cuman penasaran saja.

Jujur saja, manusia itu selalu tertarik jika ada apa-apa yang berhubungan dengan dirinya. Kadang, membicarakan diri sendiri lebih menarik dibanding mendengarkan cerita orang lain. Bukan begitu?

/6/

Ironi sekali jika kita hidup setengah sadar. Memiliki mata tetapi buta, memiliki telinga tetapi tuli, memiliki mulut tetapi bisu. Dan 'keadaan' seringkali menjadi kambing hitam. 

Keadaan adalah tersangka utama dalam kekejaman hidup. Padahal bisa saja kita tak sadar; lupa mengunci pintu dan memberi peluang maling masuk. 

Sekali disakiti orang? salahkan saja orang yang menyakiti itu. Dua kali, tiga kali dan seterusnya masih disakiti orang? apakah berarti dirimu berhati malaikat? 

Hei tidak! Kamu yang bodoh, kamu sendiri yang mengizinkan orang lain untuk menyakiti dirimu. Silahkan berpikir keras untuk ini, aku tidak sedang menyindir siapapun. Ini hanya analogi sayang. 

/7/

Terakhir, aku ingin sekali menyampaikan salam pada seseorang. Tapi untuk menyapanya saja aku tidak berani, baik-baik di sana. Ini juga luka yang mendapat izin dan fasilitas ruang tersendiri. 

Bersenandung soal luka. Persetan dengan ukuran besar atau kecil, luka tetaplah luka dan itu terasa. Dan lagi, siapa yang bisa mengukur kedalaman luka seseorang? Setiap insan penuh dengan luka.

Meski begitu, dengan menulis ini berarti aku masih hidup. Aku tidak redup dan akan terus menyala. Luka tidak membuatku patah dan menyerah. Semoga kalian juga begitu. 

Kita manusia, memiliki pikiran dan perasaan, mari tetap hidup dan saling memantik. Tentukan saja, 'seserius' atau 'sebercanda' apa arti hidup ini bagi kita?

Sekali lagi, kita hanya sedang menjalani proses belajar tanpa akhir, kecuali mati!