Kehidupan pesantren jarang sekali mengenalkan bagaimana tata cara menggunakan media digital secara baik. Kebanyakan pesantren melarang santri-santri untuk membawa barang-barang elektronik. Akses media digital hanya digunakan oleh para pengajar atau hanya dipakai santri ketika memasuki ruang laboratorium komputer.

Minimnya akses belajar-mengajar menggunakan media digital membuat para alumni yang baru keluar dari pesantren mempunyai tugas besar untuk dapat beradaptasi dengan dunia digital tersebut. Tidak dapat dimungkiri bahwa media digital ini sudah memasuki tahap wajib dipelajari oleh pemuda era milenial. Karena jika tidak dipelajari dengan baik, maka penggunaannya hanya sekedar mencari hiburan yang tidak bermanfaat dan bahkan memasuki ranah yang dilarang.

Dalam website Wikipedia dijelaskan, milenial adalah kelompok demografi setelah Generasi X (Gen-X). Tidak ada batas waktu yang pasti untuk awal dan akhir dari kelompok ini. Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran. Generasi ini umumnya ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital.

Pengalaman ketika belajar di salah satu pesantren, seorang pengajar putri yang akrab dipanggil ustazah sedikit demi sedikit mengenalkan media online. Akses informasi yang sedikit, kita sebagai santri sangat antusias menerima informasi mengenai dunia digital. 

Salah satu ketertarikan santri, khususnya saya sendiri adalah jual beli buku online. Beliau menawarkan kami beberapa buku yang akan dipesan oleh beliau lewat akun Facebook. Dari situlah kami mengenali bahwa media online dapat mengembangkan ekonomi masyarakat. 

Ketika para alumni sudah keluar dari pondok, banyak yang mengabdi pada suatu Lembaga untuk menyalurkan ilmu. Para alumni tersebut dididik oleh Pak Kiai untuk hidup mandiri tanpa meminta imbalan dari mengajar. Karena prinsip yang disalurkan, yaitu mengabdi harus ikhlas. 

Oleh karena itu, banyak alumni yang berjualan untuk menunjang kebutuhan hidup. Salah satu yang paling mewarnai kegiatan tersebut adalah berdagang lewat media online atau terkenal dengan olshop.

Ustazah yang mengenalkan olshop kepada kami juga memiliki bisnis yang lumayan mapan dan dapat mengajak alumni yang lain turut andil dalam bisnis tersebut. Salah satu di antara alumni tersebut sudah sukses dan memberi pengaruh positif terhadap teman yang lain.

Dalam media cetak Jawa Pos radar Solo, Sabtu 9 Juni 2019, alumni tersebut menyalurkan pengalamannya dalam berjualan online shop outfit syar’i yang hanya modal dari uang saku dapat pelanggan sampai luar Jawa. Di situlah peran besar media digital terlihat jelas.

Generasi milenial adalah generasi produktif yang dikabarkan menempati posisi paling banyak pada tahun 2020 hingga 2030 mendatang. Bonus demografi yang besar ini harus dimanfaatkan untuk menggali inovasi demi pengembangan perekonomian masyarakat. Salah satunya melalui media digital.

Tidak dapat dimungkiri bahwa di era milenial ini masyarakat tidak bisa lepas dari menggenggam smartphone. Oleh karena itu, inovasi pengembangan perekonomian tidak dapat mengesampingkan media digital tersebut.

Bisnis pasar online di Indonesia muncul pertama kali sekitar tahun 2005. Pada masa itu banyak sekali bisnis-bisnis yang ditawarkan di media online. Antara tahun 2005-2010 mulai ramai program periklanan seperti Google Adsense, Facebook Ads, Twitter Ads, dan lain sebagainya. Produk yang meyakinkan akan berjaya ketika sudah banyak ditawarkan ke media sosial. Tetapi banyak juga berbagai penipuan yang mewarnai periklanan online tersebut.

Berbagai penipuan yang ada, sebagian masyarakat sudah dapat memilih mana bisnis yang meyakinkan. Oleh karena banyaknya penipuan, kepercayaan terhadap pasar online semakin mengabur. 

Maka dari itu, pada tahun 2010 ke atas adalah masa persaingan yang ketat. Banyak sekali bisnis-bisnis yang menelurkan reseller, dropshipper, dan lain sebagainya. Jika tidak memiliki inovasi yang bagus, sudah dipastikan sedikit yang menghampiri toko online-nya. Beragam permasalahan yang mewarnai pasar online ini diharapkan para generasi muda dapat membuat inovasi kreatif untuk mengembangkan perekonomian, baik untuk diri sendiri maupun masyarakat.

Persaingan yang semakin ketat ini membuat banyak pemuda yang memilih mundur dan mencari kegiatan lain. Seperti merekam vlog untuk video kegiatan yang mereka lakukan lalu mengirimkan ke channel YouTube-nya. Banyak konten kreatif yang mereka hasilkan hingga subscriber yang berjuta-juta. Para pebisnis pun turut andil mempromosikan barangnya lewat mereka. Itulah gambaran penggunaan media digital yang sedang ramai dibuat oleh pemuda milenial.

Tidak hanya ramai di aplikasi YouTube,media sosial Instagram pun juga ikut mengisi konten kreatif tersebut. Tetapi yang sangat disayangkan, yaitu sebagian yang belum siap menghadapi fenomena tersebut ikut membagikan konten-konten yang hanya membuat terkenal saja. Seperti kasus ditutupnya aplikasi Tik Tok. Di samping tidak berisikan ilmu pengetahuan juga tidak memiliki konten moral yang baik. 

Jika dilihat dari beragam fenomena yang membuat citra media online semakin buruk, seharusnya diperbanyak edukasi membuat konten-konten kreatif. Edukasi ini juga perlu masuk ke sekolah, khususnya pesantren, yang sebagian besar pemuda-pemuda yang harus dijaga ketat dalam pemakaian media digital, seperti membuat acara workshop membuat konten kreatif di media digital.

Festival konten kreatif kini sudah banyak diadakan di berbagai wilayah. Tujuannya tidak hanya mereduksi konten negatif, melainkan menyalurkan ilmu untuk pengembangan ekonomi. 

Seperti contoh, Festival Pembuat Konten yang akan diadakan di Yogyakarta. Festival tersebut memiliki acara talkshow kreatif yang akan diisi oleh pembicara sesuai dengan tema-tema yang diusung. Untuk tema “Revolusi Industri 4.0, Berani Tolak Ide Besar?” diharapkan pemuda milenial dapat mengisi pembangunan tersebut dengan konten-konten yang berdampak baik dalam perkembangan perekonomian.

Media digital sekarang ini diwarnai beragam fenomena yang dihasilkan oleh tangan-tangan para pemuda milenial. Untuk itu, perlu kita sadari akan ada generasi selanjutnya yang akan mewarnai fenomena yang lebih hebat lagi, yaitu generasi Z. Mereka kini menduduki bangku sekolahdan sebagian besar pemuda milenial-lah yang mengajarnya. 

Maka dari itu, pemuda milenial harus terus mengedukasi generasi selanjutnya dengan memberikan pengaruh positif agar citra media digital semakin baik dan bermanfaat. Semoga generasi Z mendatang dapat terjun ke perkembangan media digital yang lebih baik.