Sebagai negara yang dilimpahi dengan laut yang luas nan indah, Indonesia ternyata justru menjadi negara penyumbang sampah plastik ke lautan terbesar kedua sedunia. 

Dilansir dari National Geographic Indonesia, Lautan Indonesia tercemari 1,29 juta metrik ton sampah plastik setiap tahunnya. Jika ditimbang, sampah-sampah itu memiliki berat setara dengan 215 ribu gajah Afrika jantan dewasa yang masing-masing memiliki rata-rata berat 6 ton.

Di antara banyaknya sampah plastik yang dihasilkan, jenis limbah yang paling banyak ditemukan adalah sampah dari sedotan plastik sekali pakai. 

Catatan Divers Clean Action menyebut masyarakat Indonesia menggunakan 93.244.847 batang sedotan plastik sekali pakai per harinya. Batang-batang itu, jika direntangkan memanjang, maka akan berbaris rapi sepanjang 16.784 km. Dalam seminggu, panjang barisan sedotan plastik ini sudah cukup untuk digunakan mengelilingi bumi.

Jumlah ini, meskipun begitu mencengangkan, seharusnya sudah mudah disadari. Hampir setiap kali membeli minuman, baik untuk dibungkus maupun diminum di tempat, minuman-minuman tersebut selalu disajikan dengan sedotan plastik. 

Tak hanya untuk minuman dingin, beberapa warung atau rumah makan tetap ngeyel ‘menyemplungkan’ sedotan plastik ke dalam gelas minuman panas. Ini menunjukkan betapa sebagian besar masyarakat kita begitu bergantung pada sedotan plastik tanpa menyadari potensi bahaya yang muncul di kemudian hari.

Kesadaran tentang pentingnya mengurangi atau bahkan menghilangkan sama sekali penggunaan sedotan plastik sebenarnya sudah muncul sejak lama. Salah satu yang sempat menyedot perhatian publik adalah gerakan #NoStrawMovement di 2017 lalu yang ditujukan untuk menyebarkan kesadaran kepada masyarakat untuk berhenti mengotori lautan dengan sampah sedotan platik. 

Sebab, sampah yang menyesaki laut tak hanya merusak penghuni dan ekosistem laut saja, tetapi juga manusia. Apalagi, sampah sedotan plastik membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat terurai secara alami.

Untuk itu, diperlukan kesadaran dari segenap warga untuk mengurangi penggunaan sedotan plastik. 

Masalah kita saat ini bukan lambatnya petugas kebersihan mengangkut sampah di lautan, tetapi kebiasaan nyampah dengan sedotan plastik yang kian menggila. Sebab, jika kita masih terus menggunakan sedotan plastik sekali pakai seperti yang kita lakukan sekarang, maka sebarapa pun banyaknya petugas kebersihan yang diterjunkan, lautan kita tak akan bisa diselamatkan.

Ini bukan berarti sedotan itu buruk. Dalam beberapa hal, sedotan tetap sangat diperlukan. Karenanya, masalah bukan terletak pada sedotannya, tetapi bahan yang digunakan untuk membuat sedotan tersebut, yakni plastik. Sebagai masyarakat modern, kita seharusnya memang lebih bijak dalam menggunakan barang-barang berbahan plastik.

Selamat Datang, Era Kertas

Di tengah makin tingginya tingkat polusi yang diakibatkan oleh sampah berbahan plastik, kita sesungguhnya sedang dilimpahi dengan banyak kabar baik. Salah satunya datang dari kertas. 

Kertas di masa sekarang tak hanya digunakan untuk kebutuhan menulis saja. Kertas telah diproduksi untuk berbagai jenis kebutuhan lain, mulai dari kantong belanja, bungkus makanan, hingga sedotan. 

Ya, Anda tidak sedang salah membaca. Kertas telah diproduksi untuk menjadi sedotan pengganti plastik.

Sedotan berbahan kertas tentu lebih ramah lingkungan dibanding sedotan yang menggunakan plastik sebagai bahan utamanya. Maka tak heran, mengutip laporan Fox Bussines yang disadur Liputan6 pada 16 Desember 2018 lalu, penjualan sedotan berbahan kertas mengalami kenaikan hingga 4.900 persen.

Salah satu penyebab terjadinya lonjakan ini adalah kebijakan sejumlah raja waralaba di dunia makanan, seperti McDonald’s, KFC, Starbucks, dan Goldman Sachs Group yang tak lagi menyediakan sedotan plastik. Sebagai gantinya, mereka kini menyediakan sedotan yang lebih ramah lingkungan, yakni kertas. 

Kebijakan tersebut diikuti pula oleh banyak ritel di Indonesia. Kompas pada Februari lalu mencatat sudah ada 49.000 ritel yang sepakat untuk mengurangi penggunaan bahan plastik.

Kertas sejatinya memang bahan yang turut menjembatani manusia membangun peradaban. Di atas kertaslah peradaban manusia dirancang dan direkam. Melalui kertas pula, berbagai penemuan penting dimulakan, disebarluarkan, dan kemudian dikembangkan. Tak hanya soal ilmu pengetahuan, agama dan berbagai nilai-nilai luhur lainnya juga sampai ke masyarakat melalui kertas dalam bentuk buku dan naskah. 

Kini, saat informasi dapat mudah diakses melalui gawai, peran kertas nyatanya tak juga tergeser. Buku-buku yang dicetak di atas kertas tetap memberikan sensasi membaca yang tak akan bisa digantikan gawai.

Malahan, kertas kini memainkan peran yang lebih penting. Jika dulu kertas menjalankan misi untuk melawan kebodohan dengan memanggul berbagai ilmu pengetahuan di pundaknya, kini kertas mengusung misi untuk berperang melawan kehancuran bumi akibat tumpukan sampah-sampah yang kian menyesaki. 

Baca Juga: Monster Plastik

Kertas masih terus memainkan perannya dalam membangun dan merawat peradaban, salah satunya dengan turut menjadi solusi untuk permasalahan sampah plastik yang kian mengkhawatirkan.

Perlahan namun pasti, produk-produk berbahan plastik harus segera ditinggalkan. Kita semua harus turut bertanggung jawab atas berbagai kejadian buruk yang disebabkan oleh sampah yang terus menumpuk. Menggunakan barang-barang yang berbahan kertas adalah salah satu caranya.