Setiap orang dalam hidupnya pasti punya target dan pencapaian. Juga dituntut berusaha mencapainya dengan segala upaya dan cara. Tapi ingat, yang penting baik caranya. Jangan menghalalkan segala cara untuk mencapai target yang sudah kita kalkulasi jauh-jauh hari. Nggak boleh itu.

Apalagi ketika masih menjadi mahasiswa. Target yang masuk wishlist, ditulis di binder hingga diukir dan ditempel di sterofoam dinding selalu menghantui pikiran sejak bangun tidur hingga kembali bermesraan dengan kasur. Wajar, mahasiswa kan usia remaja, harap dimaklumi kalau capaiannya ini itu, tetek bengek.

Lagian mahasiswa adalah usia di mana kadar intelektual lagi meletup-meletupnya je. Apa-apa yang sekiranya nggak sesuai dengan jalan pikirannya langsung sikat. Nggak pandang bulu. Realistis dan idealis, itu lah ciri khas mahasiswa. Pun hal itu juga berpengaruh terhadap cita-cita yang ingin mereka capai setelah lulus menjadi sarjana nanti.

Misalnya, mahasiswa Hukum Tata Negara ketika sudah menjadi sarjana, prospek kerjanya ya menjadi hakim kalau nggak ya pakar hukum. Oh iya jelas itu, masak mahasiswa HTN kalau sudah lulus jadi modin. Ya nggak masalah sih, cuman nggak keren plus sedikit konyol saja.

Itu bagi mahasiswa normal dan menginginkan hidup dalam batas standar. Beda dengan saya. Sebagai mahasiswa baru 2020 di salah satu universitas negeri di Semarang dan mengambil jurusan yang kata mas Miftakhul Falah, Jurusan Auto-surga tapi Diingat Pas Ramadan dan Lebaran Aja, sontak saya plonga-plongo dan seketika: kayaknya saya salah mencet deh ketika pendaftaran SPAN-PTKIN.

Pasalnya gini, kita terlanjur nyaman dengan asumsi orang bahwa jurusan kuliah menentukan prospek kerja. Kuliah di kedokteran lulus jadi dokter. Kuliah di ilmu komunikasi lulus kalau nggak jadi presenter ya jadi creative director. Lha saya? Jurusan Falak, yang menurut logika ngawur saya, mungkin lulus ntar jadi kyai di kampung. Kalau nasib lagi mujur bisa saja menjadi Menteri Agama.

Untung saja dulunya saya santri. Pasrah total mengembalikan semua kepada empunya. Jadi nggak perlu risau dengan masa depan mau bagaimana. Wong santri saja ditanyain ntar mau jadi apa kalau sudah lulus jawabnya malah, “Wes manut gusti wae lah, seng penting sek iso ngopi karo udud masa depan cerah.”

Jadi gini, sebagai remaja yang ingin bahagia seperti remaja lain pada umumnya. Di samping sebagai santri tulen cum mahasiswa jurusan yang bagi saya lumayan keren plus angel, saya lebih bisa bahagia dan nge-fly ketika kirim tulisan dan diterima daripada mendapatkan nilai ujian akhir semester A. Apalagi yang menerima tulisan adalah media yang cukup populer di Indonesia.

Pertama, sebagai orang yang hobi nulis ketika mood saja, tulisan yang dikirim, lolos kurasi hingga tayang dan dibaca banyak orang itu rasanya, ah mantab. Kalau kata senior LPM saya, rasanya seperti melebihi lebaran tiga kali. Malam menjelang lebaran saja itu lho bahagianya sudah luar biasa, lha ini tiga kalinya. Kayak orang main PUBG, sekali login langsung triple kill. 

Kedua, apalagi tulisan yang sudah tayang itu menjadi highlight dan menuai beragam tanggapan dan komentar. Entah tanggapan itu pro atau kontra, setuju atau tidak, tulisan trending jauh lebih menarik perhatian dan punya value tersendiri bagi saya dibanding mendapat nilai A yang mungkin bisa mudah didapatkan secara cuma-cuma; rebahan, copas punya teman, atau nyari di jurnal lalu di-paraphrase.

Pengalaman saya pertama dan menjadi tulisan kedua saya di terminal mojok, tentang "Tidak Ada Pentol di Semarang" menjadi trending dan menuai beragam komentar. Saya amati dan ikuti komentarnya, lha kok isinya pada kontra kabeh. Kaget tentunya iya, tapi juga bikin senang. Membuktikan kalau tulisan yang baik adalah tulisan yang dibaca sampai akhir serta meninggalkan komentar.

Ketiga, walaupun sebenarnya tugas kuliah numpuk kayak koran bekas dan deadline mepet, justru saya lebih semangat nulis untuk dikirim ke media luar. Walaupun pada akhirnya notif yang datang dari meja redaksi adalah penolakan, itu tidak sesakit dan tidak se-nyelekit ketika makalah yang sudah susah payah dikerjakan dan nyari referensi sana sini malah dikembalikan dan kena revisi berkali-kali.

Sebenarnya bukan masalah honor atau personal branding yang membuat jatuh cinta untuk suka menulis, hanya saja dengan menulis muncul kebahagiaan dan kenyamanan tersendiri yang bisa menyenangkan hati. Halah, kalau masalah honor, menjadi penulis tidak ada apa-apanya. Juga kalau masalah personal branding, mending nyaleg saja yang sudah jelas dikenal orang daripada jadi penulis.

Lebih membahagiakan lagi ketika tulisan diterima dan mendapatkan nilai A. Apalagi kalau mau buat makalah mau tidak mau harus nulis atau ngetik. Masa iya paraphrase jurnal orang lain. Jan tenan ra mashook.