Tradisi Ramadhan dan Lebaran di setiap tempat tentu berbeda, yang sama itu asyiknya. Seperti tradisi makan kolak, bubur candil sebagai pembuka puasa di Indonesia, ke manapun orang pindah, begitu Ramadhan yang dicari kolak atau bubur candil. Atau tradisi masa kanak-kanak yang mendadak rajin ke masjid karena ada acara takjilan di masjid. Memang ada konten ngajinya sih, tapi yang paling ditunggu ya makanan takjilnya. Begitu Ramadhan datang, ingatan melayang ke masa kecil saat mata berbinar melihat makanan takjil dibagi.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Di Timur Tengah, budaya buka puasa bersama masih terpusat di masjid dan rumah-rumah. Di rumah orangtua yang anaknya sudah menikah dan tinggal terpisah, acara bukber menjadi acara spesial keluarga. Mereka mengadakan bukber ini setiap hari atau sepekan sekali. Sedangkan di masjid, takjil sekaligus makan malam diadakan setiap hari. Karena penduduk asli kebanyakan memilih berbuka puasa di rumah, maka yang di masjid kebanyakan adalah para pekerja asing dan para musafir, atau orang lokal yang sengaja keliling ke masjid besar untuk bertarawih.

Demikian pula di Oman, yang memiliki sejarah yang panjang sebagai negara muslim. Pada tahun 629 M. Kanjeng Nabi MUhammad SAW mengirim surat melalui sahabat Amr bin Ash dan diterima dengan baik oleh penguasa Oman saat itu, Abd dan Jaifar bin Julanda. Oman menerima Islam dengan damai, bahkan Julanda bersaudara mengirimkan utusannya ke Madinah, untuk menemui Rasulullah. Rasulullah pun mendoakan agar negri ini aman dan damai dari serbuan asing, selamanya. Sebuah doa yang diijabah Allah hingga kini.

Betapapun damai di bawah panji Islam, suku-suku di Oman tetap memiliki tradisi berbeda. Seperti menu buka puasa yang disajikan tiap suku berbeda-beda. Menariknya, di antara sub-sub suku pun ada perbedaan menu.

Contohnya Ramadhan di Keluarga Al Ismaily di MUscat, salah satu putranya menikah dengan perempuan asli Betawi, maka kita bisa mendapat cerita lengkap tradisi Ramadhan keluarga mereka. Keluarga Al Ismaily berasal dari Ibra, daerah interior di Oman yang dulu terkenal dengan alim ulamanya. Kekerabatan keluarga Al Ismaily, sebagaimana keluarga lain di Oman, masih sangat lekat dan kental. Di hari ketiga lebaran, biasanya mereka berkumpul dari seluruh penjuru Oman ke Ibra, tanah leluhur mereka, untuk merayakan lebaran bersama-sama.

Sorba untuk Buka Puasa, Shuwa untuk Lebaran

Selama bulan Ramadhan, keluarga Al Ismaily biasa berkumpul di rumah salah satu anggota keluarga tiap Jum’at, bergantian di rumah anggota yang ingin menjadi tuan rumah. Di hampir semua keluarga Omani ini sudah menjadi acara keluarga rutin dan mereka akan berusaha keras untuk hadir. Berbeda dengan kita yang kadang tinggal di kota yang sama tapi kadang sulit bertemu dengan saudara dan orangtua. Orang Arab memiliki tradisi kuat dalam hal berkumpul dengan keluarga besar yang masih diikuti oleh generasi mudanya.

Dalam acara buka puasa bersama inilah menu tradisional Oman tampil komplit di majlis (ruang duduk). Diawali dengan laban (susu fementasi) atau Omani qohwah (kopi yang dicampur dengan Omani spices) dan kurma. Kalau bersamaan dengan datangnya puncak musim panas, maka ruthab (kurma setengah matang) akan menjadi pilihan, tetapi jika tidak, kurma khalas tetap menjadi pilihan utama. Kurma khalas (done/riped) adalah jenis kurma yang paling mahal di Oman, nutrisinya makin banyak pada kurma yang paling tua, dan seringkali diberikan kepada tamu spesial. Setiap tahun kami pun kebagian kurma khalas ini dari tetangga sekomplek atau teman kantor suami.

Kalau di Indonesia selalu ada gorengan di antara kita, di Oman mereka mengenal luqaimat, semacam donat bulat yang dicelup gula cair atau safron, sambusa dan cutlet isi ayam/ikan. Setelah itu barulah mereka menyantap sorba, semacam bubur cair, terbuat dari beras atau tepung semolina, dimasak dengan kuah daging kambing atau ayam. Untuk perut orang Indonesia, seperti kawan saya ini, hidangan ifthar ini sudah sangat mengenyangkan, setelah shalat maghrib sudah tidak mampu mengisi perut dengan hidangan lainnya yang lebih wah. Tapi untuk orang Arab, hidangan pembuka tadi tentu cuma ngilik-ngilik doang.

Bayangkan, nasi pilau ayam, kari kambing, ikan saus merah (ahmar marak) atau ikan bakar dengan tambahan japati, kari, maharage (kacang merah), daun singkong cacah, terong, salad dan humush (aneka kacang yang ditumbuk menjadi semacam saus). Lengkap dan mengenyangkan. Kalau masih tersisa, makanan akan dibawa pulang untuk sahur mereka. Ya, untuk sahur mereka juga makan nasi dengan lauk lengkap, sama dengan kita orang Indonesia, tiada hari tanpa nasi.

Lalu apakah Ramadhan cuma diisi dengan makan dan makan? Tentu tidak. Jamaknya, muslim di Bulan Ramadhan akan memperbanyak tilawah dan shadaqah. Ini adalah sunnah kanjeng Nabi yang terjaga sampai sekarang, di mana-mana.

Di mall-mall biasanya ada kotak amal besar, sekira 1.5 m x 2.5 m untuk menampung bantuan sembako. Diletakkan di depan supermarket, untuk memudahkan mereka yang ingin memberi. Sedangkan distribusinya diatur oleh lembaga resmi. Di Oman, kegiatan amal dikontrol oleh pemerintah, dan meminta sumbangan di jalan dilarang keras oleh pemerintah. Meskipun sudah mulai terlihat satu dua warga asing yang menyamar sebagai tukang lap mobil. Kalau tertangkap petugas ya biasanya akan berakhir dengan deportasi. Tetapi saat ini situasi serba sulit, kan?

Seperti halnya di Indonesia, kegiatan tilawah umumnya diramaikan oleh ibu-ibu yang tidak bekerja di kantor. Begitu pula di Oman. Kegiatan tilawah Quran dilakukan setiap pagi oleh ibu-ibu yang tidak bekerja di rumah salah seorang anggota yang dituakan.

Maka tak heran di bulan Ramadhan keramaian di pasar dan di mall sangat jauh berkurang. Café dan restoran dibuka menjelang buka puasa hingga jam 21.00 di masa pandemi, siang hingga sore hari semua tutup. Tidak ada yang makan minum di tempat terbuka, bahkan wisatawan pun menghormati aturan ini.

Sebelum pandemi, kegiatan tarawih berjalan seperti di Indonesia, hanya saja mereka biasanya melanjutkan acara kumpul keluarga sambil minum Omani qohwah atau Vimto, sirup buatan Arab Saudi kesukaan mereka. Tahun ini pemerintah menetapkan jam malam dimulai jam 21.00-04.00 untuk menghindari kerumunan, karena gelombang kedua Covid memang sedang memuncak di Oman.

Menjelang lebaran, mereka menyiapkan shuwa. Makanan tradisional bangsa Arab, yang dimasak dengan persiapan cukup lama oleh karena itu umumnya disajikan di hari spesial seperti Idul Fitri, Idul Adha, resepsi pernikahan atau saat keluarga besar berkumpul saat liburan. Shuwa terbuat dari daging kambing, domba, unta atau sapi bone-in, diberi aneka bumbu khas daerah tersebut, lalu dibungkus dengan daun pisang, lalu dibungkus lagi dengan keranjang yang terbuat dari anyaman pelepah kurma.

Yang membuatnya istimewa adalah keranjang berisi daging berbumbu ini dioven di bawah tanah, dan kayu yang digunakan untuk membakar adalah kayu pohon sumr. Semakin lama shuwa dioven, semakin meresap bumbunya. Minimal shuwa bisa dinikmati setelah 24 jam. Dagingnya empuk, dengan bumbu yang meresap sampai ke tulangnya. Shuwa menjadi santapan yang ditunggu-tunggu seluruh keluarga dan tamu yang hadir.

Satu-satunya yang memutus tradisi berkumpul ini adalah virus Corona. Ya, sejak awal tahun lalu, sebagian besar tradisi ini hilang. Menyebalkan memang. Ifthar bersama keluarga besar, tarawih bahkan masjid pun sempat ditutup berbulan-bulan. Menu yang sama masih ada di rumah-rumah mereka, tapi kebersamaan dengan keluarga besar hilang. Kami pun sulit berkumpul dengan sesama warga Indonesia untuk melepas rindu dengan kawan, bukber ramai-ramai, dan berlebaran bersama opor dan sambal goreng udang.

Untung saja masih ada tradisi yang bisa dipertahankan selama Ramadhan : tadarus dan shadaqah. Masa iya mau dibuang juga?

Ade W. Wulandari

Ibu 4 anak, tinggal di Oman.