Perjalanan mencari hakikat eksistensi azali manusia telah berkembang setua cerita tentang manusia itu sendiri. Filsafat sebagai suatu metode berfikir kritis manusia telah memulai pencarian tersebut. Implikasi berfilsafat melahirkan dua bentuk proyeksi pengetahuan, pengetahuan ontologis (scientifik) dan pengetahuan metafisik (agama).

Pengetahuan ontologis mengobjekkan segala realitas empirik, sedangkan agama menitikberatkan realitas transendental sebagai suatu kesatuan mikro-makro kosmos. Agama sendiri, sebagai sistem kepercayaan tertua manusia, telah mencoba menjabarkan prihal asal mula kehidupan, hakekat fungsi manusia dan kehidupan setelah mati.

Pertanyaan itu bermuara pada adanya Sang Kebenaran sebagai jawaban absurd yang dipaksa final oleh manusia. Na'asnya, semakin gencar manusia mencari hakikat Sang Benar itu, semakin hakikat itu menjadi selubung misteri yang maha dalam.
Seperti "melihat sumur yang tak berdasar", begitu aforisma Nietzche. Nietzche sendiri menyarankan, oleh karena tiada yang mampu mengetahu secara empirik sumber atau dasar sang Kebenaran itu, saran Nietzche untuk pecinta Sang Sumur (kebenaran) adalah bersikap sopan didepannya (kebenaran).

Sopan bagi Nietzche, tafsir saya, adalah tidak angkuh dengan mengklaim bahwa " Akulah yang paling benar", atau mengaku "yang mengetahui kebenaran". Dasar sumur dalam anggapan saya adalah tuhan. Sedangkan sumur adalah kebenaran itu sendiri.

Dengan ini, Nietzche bermaksud mendistribusikan setiap kebenaran menjadi milik setiap personal manusia. Jadi bukan hal yang penting untuk mempersoalkan siapa yang paling tahu soal Tuhan sebagai Yang Memiliki Kebenaran, kebenaran mana yang paling sahih, atau adakah Tuhan itu secara empirik. Tetapi yang ditekankan adalah bagaimana kita (pecinta kebenaran) dalam menghadapi realitas sumur (kebenaran) yang tak diketahui dasarnya itu (Tuhan).

Mungkin bagi banyak orang ini terkesan anarkis. Memang bukan sekedar kesan, tetapi secara eksoterik Nietzche menunjukan konstruk metafisik yang menjajikan surga dunia bagi setiap individu manusia melalui pemerdekaan ide menuju merdeka sosial . Dalam istilah Albert Camus, memberontak metafisis menuju memberontak hostoris.

Ekspresi pemikiran Nietzhce diatas tidak lahir dari suatu pertapaan maha panjang dalam kuil, atau proses pengayaan keilmuan yang rumit dalam bangku kuliah. Dalam Sabda Zarathustra, Zaratustra sendiri diperankan Nietzche, menghadapi realitas masyarakat yang kacau balau.

Ia melihat manusia zamannya saling berperang oleh karena kedudukan "Sang Kebenaran" sebagai yang misterius, telah di ambil alih modernisasi dengan positivisme pengetahuan sebagai hukum objektif yang berlaku universal. Kebenaran distandarisasi oleh asas objektivisme sehingga berlaku hukum tunggal. Keadaan ini menjadi buah gelisah sang Nietzche untuk mengembara mengumpulkan pluralitas kebenaran hingga muncul aforisma "Tuhan telah mati".

Setelah melalui pengamatan realitas eksternal yang panjang, Nieztche lalu menginternalisasikan segala pengalaman realitas itu pada suatu bentuk refleksi diri hingga mencapai tahapan nihil. Nihilistik berarti suatu keadaan dimana identitas, ideologi, definisi, norma-norma yang terkonstruk dalam struktur berfikir lama di hancurkan sedemikian rupa sehingga yang ada hanya keadaan ketiadaan. Di sinilah kemerdekaan metafisis itu direngkuh. Merdeka metafisis Nietzche ini kemudian mejadi salah satu ilham bagi lahirnya aliran Postmodernisme.

Implikasi dari konstruk berfikir sang Nabi ini menjadikan cara pandangnya terhadap realitas inderawi menjadi berbeda. Baginya, atau orang-orang sepertinya, realitas dibiarkan telanjang sehingga interpretasi atasnya menjadi plural. Penghargaan terhadap pluralitas menjadi konsekuensi logis atas pandangan ini.

Kesadaran akan pluralitas perbedaan melahirkan etos yang memandang kesetaraan sebagai hukum sejarah yang tak terbantah, bahwa setiap orang berhak atas kebenarannya dan keseragaman adalah penindasan sistemik yang dibangun oleh kelas kuasa. Bentuk institusionalisme ditolak mentah-mentah.

Kelas kuasa berusaha menyeragamkan kelas dibawahnya dengan membentuk birokratisasi alih-alih keadilan dengan struktur institusional. Segala bentuk institusionalisme nilai mensyaratkan adanya hirarkis kekuasaan. Hirarkis kekuasaan menandakan adanya penindasan. Penindasan mengakibatkan keterasingan diri. Keterasingan diri menyebabkan perbudakan. Perbudakan menjadi sumber kebiadaban. Kebiadaban tidak pernah selaras dengan peradaban.

Saya tidak menganjurkan pada kita untuk menjadi murid atau pengikut Nietzche. Nietzche pun membenci setiap orang yang mengklaim sebagai pengikutnya. Bagi Nietzche, kenali diri mu maka engkau sebarisan denganku. Tetapi pelajaran berharga dari Nieztche adalah tentang konsep pluralitas diatas.

Membaca tulisan-tulisan Nietzche, kita diajarkan untuk membenahi konsep pluralitas kita, bahwa pluralitas bukan hanya soal cara pandang, bukan hanya soal bagaimana menyikapi perbedaan. Pluralitas, bagi Nietzce, bermula dari proses dekontruksi metafisik yang maha dahsyat tentang nilai-nilai yang diinternalisasikan masyarakat terhadap individu manusia. Proses dekonstruksi ini dimulai dengan hal yang paling sensitif berupa Tuhan, Sang Benar, atau dalam metafora Nietzche adalah Sang Sumur Tak Berdasar.

Kemisterian Sang Benar bersifat an sich. Ketakberpisahan Tuhan dan selimut misteri menimbulkan konsekuensi tidak adanya klaim kebenaran atasnya yang pada perwujudannya muncul kebenaran-kebenaran subjektif. Ini melahirkan konsekuensi bahwa keberagaman merupakan kepastian semesta sehingga penghargaan atas perbedaan tidak sekedar muncul dalam skema politik, namun terekspresi dalam setiap ruang manusia.

Adalah tidak tepat jika pluralitas dianggap sebangun dengan penghisapan dan sumber bagi lahirnya perbedaan kelas. Justeru pluralitas menjamin kebebasan ekspresi ekonomi dan kebutuhan setiap individu tanpa terbentur otoritarianisme, institusionalisme dan birokratisasi. Pluralisme menjamin setiap manusia bebas melakukan perikatan dan asosiasi terhadap siapa saja serta meninggalkannya tanpa masalah.

Nieztche mengajarkan pada kita bahwa pluralisme menjadi modal utama dalam membangun kemerdekaan individu maupun kemerdekaan sosial. Pluralisme membangun garis yang linier antara paham metafisis tentang keesaan tuhan menuju keesaan manusia sebagai yang independen.

Sayangnya, sebagian penganut agama konvensional justeru menganggap pluralisme sebagai pengganggu bagi eksistensi keyakinan keberagamaannya. Sedang segolongan lainnya hanya menempatkan pluralisme terjauh sebagai suatu cara pandang dalam menyikapi realitas keberagaman.

Ada juga yang menjadikan pluralisme sebagai dalih bagi ambisi dalam memenuhi kebutuhan pribadinya. Pluralitas masih ditafsirkan sebagai suatu hal di luar diri manusia. Padahal pluralitas merupakan konsekuensi logis dari keyakinan terdalam manusia akan kemanunggalan Tuhan. Padahal, pluralisme merupakan inti keimanan.