Kampung Ketandan merupakan sebuah kawasan pecinan atau chinatown yang berhasil hidup sejak puluhan tahun lalu di tengah kentalnya kebudayaan Jawa dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta.

Kampung Ketandan ini terletak di Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta dengan pintu masuk berupa gapura besar bernuansa Tionghoa dan tulisan ‘Kampoeng Ketandan’.

Ketika mengunjungi Jl. Malioboro, wisatawan akan melihat pintu masuk ke kawasan pecinan yang menyimpan banyak kehidupan multikulturalisme dan kenangan ini pada sisi kiri jalan. Tepatnya, gapura atau pintu masuk Kampung Ketandan ini terletak di perempatan Jl. Malioboro, Jl. Margo Mulyo, Jl. Pajeksan, dan Jl. Suryatmajan.

Sebelumnya, apakah kamu masih ingat akan viralnya keberadaan ‘Shanghai’ di tengah Jalan Malioboro pada tahun 2019 silam?

Pada pertengahan tahun tersebut, gapura Kampung Ketandan menjadi topik hangat pembicaraan publik. Gapura ini diabadikan dan diunggah ke akun instagram shanghai.explore pada tanggal 10 Juni 2019, sedangkan akun instagram tersebut sesungguhnya hanya bertujuan untuk memperkenalkan dan mempromosikan berbagai destinasi wisata di Shanghai, China.

Pengelola akun instagram shanghai.explore menilai gapura tersebut sebagai salah satu daya tarik wisata yang ada di Shanghai. Ia melihat foto gapura Kampung Ketandan dari akun instagram orang Indonesia yang menandai akun instagramnya dan mengunggah kembali foto tersebut dengan keterangan berupa “Peaceful days in Shanghai”.

Karena tuntutan publik, pengelola akun tersebut telah menulis ulang kembali keterangan foto tersebut menjadi “This photo of Indonesia was mistakenly geotagged as Shanghai. Thank you for all the messages identifying the error” hingga saat ini.


Sejarah

Perjalanan Kampung Ketandan tidak dapat dipisahkan dari keberadaan suku Tionghoa di Yogyakarta sejak masa lampau. Popularitas eksistensi Kampung Ketandan diangkat oleh Tan Djin Sing, seorang penduduk beretnis Tionghoa yang disegani dan dipercayai oleh sultan yang memimpin pemerintahan saat itu.

Tan Djin Sing diangkat menjadi Bupati Nayoko pada tahun 1813 dan mendapat gelar khusus, yaitu Kanjeng Raden Tumenggung Setjadiningrat dari keraton. 

Terlepas dari sejarah sebelumnya, Kampung Ketandan rutin mengadakan festival tahunan sejak 2006 yang berangkat dari keinginan seorang dosen Fakultas Pertanian di Universitas Gadjah Mada untuk menulis sebuah buku mengenai resep makanan khas budaya Tionghoa. Keinginan dosen tersebut mendapat dukungan penuh dari Sri Sultan Hamengku Buwono X dan masyarakat Kampung Ketandan hingga memprakarsai adanya festival yang memperkenalkan sekaligus melestarikan resep makanan Tionghoa yang ada sejak zaman dahulu sehingga mendapat pengaruh dan berakulturasi dengan budaya di Yogyakarta.

Festival tahunan tersebut dikenal sebagai Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta atau yang sering disingkat menjadi PBBTY. Pada masa kini, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta telah menjadi acara rutin pariwisata yang resmi dari Pemerintah Kota Yogyakarta.

Telusur Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta

Kehidupan sehari-hari di kawasan pecinan ini biasanya tidak terlalu ramai akan wisatawan, keramaian yang ada hanya berasal dari kendaraan yang berlalu lalang dan aktivitas perdagangan setempat. Berbeda pada masa perayaan Imlek atau tahun baru Cina, Kampung Ketandan ini selalu dipenuhi oleh para pengunjung dari Yogyakarta bahkan luar daerah yang menjelajahi Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) setiap tahun.

Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) di Kampung Ketandan telah menjadi perayaan Tahun Baru Imlek khas Yogyakarta yang secara rutin diselenggarakan dengan nuansa Tionghoa selama satu minggu penuh.

Festival ini diselenggarakan dengan membuka berbagai kios kuliner maupun cendera mata dari berbagai negara. Meskipun didominasi oleh pengenalan makanan Tionghoa yang identic dengan daging babi atau haram, banyak kios kuliner lainnya yang turut memperkenalkan kuliner yang halal dari negara lain, seperti Arab Saudi dan Turki.

Selain itu, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati pameran budaya di Rumah Budaya Ketandan & Dreamlight beserta sejumlah perlombaan, seperti lomba kaligrafi Tiongkok, lomba mewarnai bagi anak-anak, lomba desain batik, lomba melukis kepala wayang kotehi, lomba Chinese Paper Cutting, dan lomba mendongeng dalam bahasa Mandarin.

Keberagaman Masyarakat Lokal

Ornamen-ornamen yang mencerminkan kebudayaan suku Tionghoa, seperti lampion menjadi dekorasi sekaligus arsitektur berbagai bangunan di Kampung Ketandan. Namun, masyarakat Kampung Ketandan berasal dari berbagai suku yang didominasi oleh orang Jawa dan orang Tionghoa.

Kehidupan sehari-hari masa kini antara kedua suku tersebut selalu jauh dari kabar burung mengenai konflik akibat perbedaan yang ada. Bahkan, kepengurusan wilayah RT dan RW beranggotakan masyarakat setempat tanpa memandang suku maupun latar belakang.

Selain itu, arsitektur bangunan di Kampung Ketandan merupakan wujud akulturasi dari tiga kebudayaan, yaitu budaya Jawa, budaya Tionghoa dan kolonial. Salah satu wujud akulturasi lainnya yang tampak jelas adalah adanya angkringan yang identik dengan nuansa Yogyakarta, tetapi berwarna merah dan kuning yang bernuansa kebudayaan Tionghoa.

Tidak hanya multietnik, kehidupan masyarakat di kawasan pecinan terdiri dari multiagama yang dapat terlihat dari sebuah toko penyewaan motor dengan sistem syariah dan toko yang menjual patung-patung Bunda Maria yang biasanya digunakan dalam agama Kristen Katolik.

Kegiatan Wisatawan di Kampung Ketandan

Sebagai kawasan pecinan di Yogyakarta, Kampung Ketandan mempunyai daya tarik tersendiri. Banyak hal yang dapat dilakukan, salah satunya adalah berfoto-foto pada desain arsitektur bangunannya yang unik.

Wisatawan juga dapat menjelajahi kuliner di sejumlah tempat makan berupa toko maupun angkringan yang menyajikan berbagai macam makanan dan minuman. Selain hidangan yang menyajikan babi sebagai bahan hidangan mereka, seperti bakmi dan bakcang, kuliner halal turut dapat ditemukan di Kampung Ketandan. 

Tempat kuliner yang banyak direkomendasikan oleh masyarakat Yogyakarta adalah sebuah toko roti kuno berusia hampir 100 tahun yang menjual berbagai jenis roti dengan nilai sejarahnya yang tetap dipertahankan, yaitu Toko Roti Djoen dengan kue bantalnya yang legendaris.

Untuk menyimpan kenangan dan membeli buah tangan, Jl. Malioboro tentunya menjadi tempat yang lebih cocok dibanding Kampung Ketandan karena toko perdagangan barang di area pecinan ini didominasi dengan toko-toko emas dan perhiasan.

Sebagai tambahan yang perlu diingat, sejumlah pengusaha toko emas dan perhiasan di Kampung Ketandan mengaku tidak nyaman bila mereka menjadi objek fotografi yang dipotret oleh wisatawan. Untuk itu, wisatawan yang akan menghabiskan waktu di Kampung Ketandan harus tetap memperhatikan kenyamanan masyarakat lokal. Sampai jumpa di Kampung Ketandan!