Mahasiswa
1 tahun lalu · 801 view · 5 min baca menit baca · Perempuan 50560.jpg
authoritylabs

Mengintip dari Bawah: High Heels dan Tubuh Perempuan

Bagi saya, salah satu fashion wanita yang dalam sejarah kemunculannya hingga sekarang menunjukkan hal yang kontroversial selain korset dan jilbab ialah sepatu high heels (stiletto). Tak hanya dimaknai sebagai simbol penindasan dan penaklukan tubuh perempuan, tapi postfeminisme justru memaknainya sebagai simbol pembebasan dan modernitas.

Penanda yang Menyakiti Tubuh Perempuan 

Citra kecantikan dengan kaki indah, jenjang, dan punggung kaki yang melengkung sehingga membuat pemakainya nampak genit sexy telah menempatkan high heels dalam berbagai situasi, justru membatasi gerak, menindas, dan menyakiti tubuh perempuan. Risiko terjatuh, kaki lecet, dan gangguan kesehatan juga mengintai akibat penggunaan high heels yang terlalu lama.

Beberapa hari lalu jagad sosial media sempat dihebohkan oleh ceramah seorang ustaz di sebuah stasiun televisi yang mengatakan bahwa wanita susah hamil karena memakai sepatu hak tinggi. Warganet secara massive langsung mengomentari isi ceramah sang ustaz, tak sedikit pula yang menghujatnya.

Sebenarnya bukan sesuatu yang baru jika sepatu high heels dikaitkan dengan kehamilan. Jika kita menarik garis ke belakang, sebenarnya sepatu memang sering digunakan sebagai simbol kesuburan alat reproduksi dan seksualitas seorang perempuan yang sering ditujukan untuk memikat agresivitas dan erotisme laki-laki. Semakin tinggi heels yang dipakai, semakin memperlihatkan daya pikat, tingkat kesuburan, dan juga kematangan seksual.

Namun, dalam praktiknya, sepatu sebagai simbol kesuburan dan seksualitas berlangsung dengan menaklukan dan menyakiti tubuh perempuan. Dahulu, ada tradisi di China yang dikenal dengan istilah lotus feet, di mana sepatu perempuan dibuat dengan ukuran sangat kecil.

Sepatu didesain untuk membentuk kaki perempuan agar terlihat indah dengan cara-cara yang menyakitkan dengan merusak tulang secara paksa dan membuat jari-jari terlipat ke bawah telapak kaki. Semakin kecil ukuran kaki, maka semakin dinilai indah dengan harapan agar bisa dinikahi oleh laki-laki dari kelas bangsawan.


Pada jaman Victoria, di kalangan aristokrat penggunaan sepatu berhak tinggi dengan punggung kaki yang terlihat melengkung juga dianggap sebagai lambang keindahan dan seksualitas perempuan, sedangkan kaki-kaki yang berukuran besar dimaknai sebagai simbol penderitaan dan perawan tua.

Simbolisasi high heels sebagai penanda seksualitas terus menerus dilanggengkan hingga era kontemporer seperti sekarang ini. Tentunya, kita tidak asing dengan satu kisah dongeng berwajah maskulin ala Disney yang menempatkan sepatu perempuan sebagai daya pikat untuk memenangkan hati seorang pangeran seperti kisah Cinderella dan sepatu kacanya, bukan?

Sang Pangeran berusaha mencari pemilik sepatu kaca dengan ukuran kaki yang mungil, kaki dengan ukuran besar tidak akan muat bila mencoba sepatu tersebut.

Pernahkan terlintas dalam pikiran kenapa sepatu menjadi bagian terpenting dalam kisah Cinderella? Kenapa bukan gaun pesta yang dia pakai atau kereta labu saja yang menjadi titik penekanan alur atau judul dalam cerita dongeng tersebut? Sepatu memang tak bisa lepas dari citra perempuan, begitu juga dengan balutan seksualitas Cinderella dalam high heels yang bertujuan untuk menarik perhatian atau memikat sang pangeran.

Dalam perkembangannya, sepatu berhak tinggi juga mengalami transformasi bentuk dan desain hingga saat ini bentuk high heels dengan ujung runcing (stiletto) menjadi salah satu favorite kaum hawa selain sepatu model wedges.

High Heels dan Modernitas

Sebuah wacana akan terus bergulir menemukan ruang-ruang baru untuk terus memproduksi pengetahuan, maka sepatu high heels yang awalnya dimaknai sebagai fashion yang menyakiti dan simbol penaklukan tubuh perempuan seiring waktu diyakini sebagai simbol pembebasan, berekspresi, kelas atas, otoritas, kemandirian, dan modernitas.

Makna high heels sebagai fashion yang dianggap menindas tubuh perempuan mulai kehilangan popularitasnya. Perempuan mulai punya otoritas dalam menentukan pilihannya untuk memakai sepatu high heels atas dasar pilihannya sendiri.


Pernah nonton Sex and the City? Dalam postfeminisme, film besutan tahun 2008 ini menunjukkan bagaimana para wanita berlomba-lomba memakai sepatu high heels bermerk dengan harga mahal. High heels tak hanya membuat si pemakai terkesan lebih tinggi dan kaki terlihat jenjang, namun juga nampak sexy, anggun dan percaya diri, sekaligus sensual.

Tokoh dalam film ini bernama Carrie Bradshaw (diperankan oleh Sarah Jessica Parker), digambarkan sebagai wanita karir yang mandiri, matang, cerdas, dan penuh obsesi untuk membeli koleksi sepatu high heels mahal dan ia akan terus berburu high heels sebanyak yang ia mau. Bahkan, dalam satu adegan, Carrie kehilangan sepatu dalam acara pesta dan menuntut si pembuat pesta untuk mengganti sepatunya.

Melalui film Sex and the City, setidaknya kita dibawa ke suatu era postfeminisme di mana sepatu high heels lewat tokoh Carrie Bradshaw dianggap sebagai simbol modernitas dan pembebasan tubuh perempuan melalui pandangan yang mengedepankan perbedaan dan cara bagaimana mendefinisikan diri sendiri pada tataran subyektifitas.

Carrie merasa dirinya punya otoritas penuh terhadap high heels yang dia beli dengan uangnya sendiri tanpa peduli dengan pandangan orang lain. Carrie bebas berekspresi menggunakan high heels miliknya, ia bisa bekerja, pergi ke pesta, bergaul, dan bercinta.

High heels tidak menjadikan aktivitas Carrie menjadi terganggu atau pun membatasi ruang geraknya sebagai perempuan, tapi justru ia nampak memiliki citra diri yang passionate dan terlihat menarik. Hal yang menekankan pada pilihan-pilihan rasional yang datang dari dalam diri individu seperti Carrie Bradshaw yang demikian ini menandakan situasi yang bersifat liquid, sesuatu yang cair.

Dalam era industri, penampilan seperti sekarang ini, sejumlah selebriti pun menjadi kiblat dan ikon dalam menampilkan kegandrungan perempuan terhadap high heels, contohnya saja penyanyi Rihanna. Selain karyanya, urusan sepatu high heels juga menjadi sorotan utama dari diri seorang Rihanna. Ia didaulat sebagai artis yang dalam beberapa pemberitaan media digambarkan sangat piawai dan lihai menggunakan high heels walaupun di kondisi jalan berlubang atau gorong-gorong.

Kita digiring untuk ikut merasakan sensasi kecemasan seandainya Rihanna terjungkal atau ujung high heels sepatunya yang runcing masuk ke lubang. Bahkan, dalam konser, Rihanna pun tetap mengandalkan high heels untuk menunjang penampilannya di atas panggung tanpa takut terjatuh. Atau kalian akan takjub dan berdecak kagum bagaimana girls band korea SNSD menari koreografi dengan lincah di atas panggung dengan high heels tanpa terpeleset?

Pada akhirnya, high heels yang awalnya dianggap sarat dengan simbol penundukkan yang menyakiti tubuh perempuan, kini menempati makna yang sama sekali berbeda.


Tak peduli seberapa sakit tumit yang ditopang oleh high heels, seberapa perih lecet kaki, risiko terjatuh, atau gangguan kesehatan lainnya yang mengintai akibat dari penggunaaan high heels yang terlalu lama. Saat ini, high heels menjadi penanda baru pilihan rasional perempuan modern atas kemandirian, otoritas dan pembebasan tubuhnya.

So, hey ladies…apa pun pilihanmu, entah ingin memakai sepatu high heels maupun sepatu heel less, menurut saya, membebaskan tubuh dari penundukan perlu dilakukan karena otoritas tubuh sepenuhnya adalah milik kita sendiri.

Artikel Terkait