"Nak, kenapa kamu mengobrak-abrik dompet Ayah?" gerutuku pada anakku. Saya pun lantas memberesi kartu ATM dan kartu lainnya. Di penghujung memasukkan kartu-kartu ke dalam dompet cokelat, saya mendapati masa berlaku SIM C yang telah kedaluwarsa.

“Waduh, SIM-ku mati! Padahal kemarin naik motor ke mana-mana dengan santainya. Untung saja gak ada razia,” batinku.

Ingin rasanya saya mengata-ngatai diri sendiri karena kelalaian ini. Namun, tidak tega, lantaran ibu bapak saya yang susah payah membesarkan saja tidak pernah melakukan itu.

Tanpa pikir panjang, saya bergegas ke atas ranjang lalu leyeh-leyeh. Saya ingat pepatah negeri antah berantah, "bila mengeluh akan mendatangkan keajaiban, maka mengeluhlah." Tersirat pepatah itu memberi petuah, bahwa daripada mengeluh, mending membesarkan hati dengan kalimat "ya sudah, slow saja."

***

Beberapa hari berselang, saya mendatangi kantor Polisi dengan membawa persyaratan pembuatan SIM baru dan uang 135 ribu rupiah. Karena bila terlambat memperpanjang SIM, maka sanksinya adalah membuat SIM baru. Sialnya, membuat SIM baru berarti harus melewati proses tes teori dan tes praktik.

Tes teori kali ini tidak seperti tes teori SIM saat saya mencari SIM waktu SMA dulu, sekitar tahun 2006, yang katanya tes teorinya menggunakan ujian tulis. Iya katanya orang-orang, karena waktu itu saya langsung foto SIM tanpa melewati tes teori itu, bahkan tes praktiknya pun juga tidak. Maaf, bagian ini please jangan ditiru ya.

Pada tes teori kali ini, setiap orang akan menghadapi satu komputer. Kita akan disuguhi berbagai video animasi berkendara, lalu kita disuruh menyimpulkan, apakah yang dilakukan pengendara pada layar tersebut sudah benar atau salah. Atau, ada juga yang disuruh memilih, mana di antara pengendara yang memiliki sikap paling benar di jalan raya.

Intinya, tes teori berupa soal opsional, lalu kita disuruh memilih dengan cara menge-klik. Meski sempat deg-degan, tes teori pun dapat dilewati dengan mudah. Saya mendapat nilai 94 dari nilai sempurna 100.

Hingga akhirnya tes praktik itu di depan mata. Sebuah lintasan dengan kayu-kayu disusun membentuk rintangan zig-zag, angka 8, dan lintasan berbentuk bidadari berparas cantik, atau berbentuk "U". (Iya, kamu!)

Dalam sekali tes praktik, hanya diberi dua kali kesempatan gagal. Bila kesempatan itu tidak dimaksimalkan, maka wajib mengulang minimal 7 hari berikutnya. Bila gagal lagi, mengulang 7 hari lagi. Begitu seterusnya. Jadi, tidak bisa terus maunya besok langsung mengulang. Tidak bisa.

Gagal di sini bukan hanya soal menjatuhkan balok kayu rintangan, tapi juga bila kaki kita menyentuh lintasan. Padahal, dalam kenyataan berkendara di jalan raya, ketika kita melewati katakanlah jalan yang sempit dan licin, toh kita juga tidak bakalan kena sanksi apa pun (dari pihak mana pun) apabila kaki kita menyentuh jalanan agar motor tidak tergelincir. Mungkin, karena saya terlalu submisif, jadi ya manut-manut saja tanpa ndakik-ndakik protes soal itu.

Untuk dua rintangan awal, rintangan zig-zag dan angka 8 susah payah saya melewatinya. Jangan tanya seberapa sempitnya kayu itu disusun. Bahkan, kayu sengaja ditata menjorok ke dalam dari cat lintasan yang telah dibuat.

Namun, dengan kehati-hatian saya berhasil melewati kedua rintangan itu. Saya pun menyelesaikan dua rintangan tersebut dengan sekali melakukan kesalahan. Jadi, saya masih memiliki satu kesempatan untuk rintangan terakhir.

Di rintangan terakhir, rintangan “U”, saya yakin bakal mudah melewatinya. Di atas motor sebelum melaju, saya sempat membayangkan, ternyata begitu gampang untuk mendapatkan SIM baru, tidak sesulit yang diceritakan orang-orang.

Dan benar, saya berhasil melewati rintangan belokan “U” itu, tapi ujung sepatu saya sempat satu detik menyentuh lintasan. Saya pun seolah-olah melakukan gimik selebrasi keberhasilan seperti pemain sepak bola (yang tahu sebenarnya dirinya terperangkap off-side) mencetak gol lalu melakukan selebrasi, yang tentu hal tersebut untuk mengelabui penilaian wasit.

Meski hanya ujung sepatupengamatan jeli Pak Polisi yang menjadi pengawas pun tidak bisa saya kelabui. Sial, saya harus mengulang di minggu selanjutnya. Rintangan yang saya kira paling mudah itu justru di situ saya gagal.

Setiap hari saya selalu memikirkan cara untuk menaklukkan "U". Setiap hari saya kepikiran "U". Mau makan teringat pada "U", mau minum teringat pada "U". Pokoknya sudah mirip seperti lagunya Evie Tamala yang judulnya Aku Rindu Padamu. Tiada hari di minggu itu luput dengan "U".

Dan, seminggu berlalu, saya pun kembali di medan pertempuran tes praktik pembuatan SIM C itu. Tentu, dengan membawa bekal pengalaman setiap hari telah mencoba berputar membentuk huruf “U”. Di parkiran tempat kerja, di halaman rumah, di halaman rumah teman, di mana pun. 

Saya pun lebih percaya diri. Dan benar saja, latihan saya setiap hari itu tidak sia-sia, saya berhasil di kesempatan tersebut.

Banyak pembuat SIM baru yang gagal pada tes praktik ini. Perkiraan sekilas saya, hanya sepertiganya yang berhasil dari total keseluruhan setiap sesi.

Tidak heran jika siapa saja yang berhasil menyelesaikan tes praktik ini, riuh tepuk tangan peserta lain terdengar. Begitu pula perasaan di dada ini, merasa bangga karena mampu menyelesaikannya dengan murni. Adrenalin yang tak didapat dari "nembak" SIM.

Cukup kali ini saja menikmati kealpaan memperpanjang SIM, masih banyak kealpaan yang belum dicoba. Dari sini saya sadar, ternyata ada yang lebih penting dari sekadar memberi ucapan selamat ulang tahun kepada teman, sahabat, atau handai tolan, yaitu mengingatkan masa berlaku SIM-nya.

Karena masa berlaku SIM yang per 5 tahun itu kebanyakan masih sesuai tanggal dan bulan hari lahir kita (meski aturan terbaru, masa berlaku SIM berdasar tanggal pembuatan). Dan, di antara kita pun sering lupa dengan masa berlaku SIM itu, contohnya ya saya.

I love "U".