Kecilkan nafsu keserakahan sampai ke titik nol, perbesar cinta kasih hingga ke seluruh jagat raya.

Ungkapan Master Cheng Yen tersebut mengajarkan kita untuk melepas sekat-sekat dalam diri. Yakni melepaskan ego individu, ego kelompok, dan bahkan lebih luas lagi yaitu ego keagamaan. 

Memperbesar cinta kasih dan mengedepankan rasa kemanusiaan. Pada Natal 2019 ini, masih ada saja segelintir orang yang mempermasalahkan boleh atau tidaknya mengucapkan selamat Natal kepada non muslim. 

Hal itu kebanyaan dituliskan dalam bentuk narasi dengan berbagai sudut pandang dan dipublikasikan melalui story, baik di WhatsApp, IG, Facebook, maupun di Twitter

Apakah mengucapkan selamat Natal itu haram atau tidak?

Gagasan yang cenderung eksklusifBahwa mengucapkan selamat pada perayaan keagamaan umat lain (Kristen, Hindu, dan Buddha) itu sama dengan kita merayakan perayaan tersebut. Jika demikian, maka kita akan dianalogikan sebagai bagian dari umat tersebut. 

Menurut hemat penulis, ucapan selamat natal adalah bentuk pengakuan terhadap keberadaan umat Kristiani dalam tatanan sosial kita. Bentuk penegasan ini adalah wujud konkret dari sikap toleran kita sebagai umat beragama. Bahwa kita menerima perbedaan sejauh apa pun nalar keimanan kita.

Ahmad Syafii Maarif adalah salah satu tokoh pluralisme abad 21 yang dimiliki oleh Indonesia. Ia dengan tegas menyuarakan konsep keislaman yang egaliter, non-diskriminasi, toleran, dan inklusif. Keislaman penganut beriman yang tidak meninggalkan nilai kemanusiaan serta mengedepankan keindonesiaan dalam bingkai kemajemukan dan persatuan.

Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah muslim terbanyak di dunia. Namun, memiliki culture masyarakat yang heterogen, baik dari segi budaya, bahasa, ras atau suku, dan bahkan agama. Kemajemukan inilah yang kemudian dilihat oleh Ahmad Syafii Maarif sebagai kekuatan bangsa ini. 

Kita diikat oleh nilai luhur Pancasila, yakni konsep Bhinneka Tunggal Ika. Walaupun berbeda-beda tetap satu jua.

Mengenal Ahmad Syafii Maarif

Ahmad Syafii Maarif lahir di desa Calau, Sumpur Kudus, Sumatra Barat, pada 31 Mei 1935. Ia adalah seorang negarawan dan juga cendekiawan muslim berbakat abad ini.

Oleh Damanruri, Musdah Mulia mengatakan bahwa Ahmad Syafi'i Maarif dianggap sebagai salah satu tokoh muslim Indonesia. Walaupun oleh Clara Joewono dan Luthfi Assyaukanie menggolongkannya sebagai the late Comer (Pendatang terlambat).

Hal inilah yang menjadi alasan mengapa Greg Berton tidak mengulasnya sebagai tokoh muslim Neo-Modernism dalam bukunya "Gagasan Islam Liberal di Indonesia; Pemikiran Neo-Modernisme Nurkholis Madjid, Djohan Effendi, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid".

Ahmad Syafii Maarif atau akrab disapa Buya adalah salah satu putra terbaik Minang yang tidak pernah lupa pada kampung halamannya di Sumpur Kudus, Sumatra Barat. 

Kecintaan pada kampung halamannya ditunjukkan melalui keterlibatannya pada pembangunan listrik masuk desa di Kabupaten Sawah Lunto, tanah kelahirannya di Sumatra Barat pada 2005. Melalui Muhammadiyah, ia ingin memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan di pelosok-pelosok tanah air.

Buya adalah salah seorang di antara Guru Besar dalam bidang sejarah. Mantan Ketua PP Muhammadiyah ini adalah sosok yang sangat sederhana, penuh dengan kewibawaan dan kelembutan. Sikap ini tercermin dalam bukunya yang berjudul Bengkel Buya. Ia bergaul dengan semua kalangan, mulai dari supir taksi, tukang bengkel, sampai dengan pengurus masjid.

Di usianya yang ke-84 tahun, Ahmad Syafii Maarif masih memperlihatkan sikap kritisnya atas masalah-masalah kebangsaan. Ia aktif mengkritik pola kerja pemerintahan, bahkan masih tekun menulis opini dikolom-kolom media. Sangatlah wajar jika pada tahun 2013 majalah Kompas menganugerahinya penghargaan cendekiawan berdedikasi.

Ucapan Selamat Natal dari Buya Syafii Maarif

Dalam wawancara eksklusif pada 23 Desember petang di koran Tempo, Buya mengutarakan: “Saya tiap tahun mengucapkan selamat Natal pada sahabat-sahabat saya. Apa keberatannya? Sama saja seperti mereka mengucapkan selamat Idul Fitri kepada kami. Biasa-biasa saja.” 

Buya pun mengkritik sikap Majelis Ulama Indonesia (MUI) wilayah Jawa Timur yang melarang pengucapan selamat Natal.

“Mbok lapang dadalah. Ini bangsa yang plural. Jangan persempit diri dengan yang bukan urusan agama menjadi urusan agama, Jangan dibawa terlalu serius. Jangan pakai teologi segala macam. Repot," ungkapnya.

Dengan mengetahui pandangannya tentang agama, maka setidaknya kita bisa melihat grand narrative yang hendak dicitrakannya pada publik. Di mana pemikirannya tentang Islam mewarnai pemikirannya tentang permasalahan lainnya.

Dalam bukunya, Alquran, Realitas Sosial, dan Limbo Sejarah (Sebuah Refleksi), Ahmad Syafii Maarif menuturkan bahwa Islam adalah agama yang secara tegas menawarkan prinsip equilibrium atau keseimbangan kepada manusia. Dia mengenal Islam sebagai pandangan hidup. Di mana proses Islamisasi itu sendiri bergerak dari tahap kuantitatif menuju tahap kualitatif dalam suatu pergumulan kreatif lagi kritis.

Sikap plural Ahmad Syafii Maarif dalam menyikapi perbedaan pandangan perihal Hari Natal adalah sebuah contoh ketauhidan yang nyata. Dia meyakini, nilai eksistensi manusia bertauhid ditentukan oleh intensitas awal kebajikannya terhadap umat manusia secara keseluruhan. Sikap ihsan yang terwujud dalam tegaknya keadilan, persamaan, persaudaraan, dan kedamaian dalam masyarakat indonesia itu sendiri.

Manusia yang menurut Alquran adalah sebuah keluarga besar. Dalam pandangan Buya, inilah pesan universal Alquran yang wajib direalisasikan oleh manusia beriman. Tidak semata-mata untuk diri individu, tetapi juga untuk manusia lain, sekalipun berbeda dalam iman.

Penulis sedikit mengutip nasihat hikmah Imam Ali Bin Abi Thalib: "Jika kita bukan saudara dalam iman, maka kita adalah saudara dalam kemanusiaan."

Tegasnya, Buya Syafii Maarif mengindikasikan bahwa manusia beriman adalah manusia yang mampu memberi arah moral bagi setiap perubahan sosial. Bahwa kita sebagai umat beragama harus mampu menunjukan sikap humanis yang menitikberatkan perbuatan pada moralitas, bukan sebaliknya malah meniadakan kebajikan dengan alasan keimanan.

Menurut Buya Syafii Maarif, salah satu indikator manusia beriman adalah hadirnya kepekaan nurani yang kritis terhadap masalah moralitas dan keadilan.

Kebenaran moral akan mengantarkan kita pada konsep yang adil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Demikianlah kita sebagai pemeluk yang beriman harus mampu bertumpu pada ajaran Rasulullah Saw, yakni perjuangannya dalam menegakkan kehidupan yang bermoral ini. Kehidupan yang bersinergi antara pemeluk agama yang satu dengan pemeluk agama lainnya. Kehidupan yang sarat akan nilai persatuan dan kemanusiaan.

Dalam pandangan Buya, proklamasi telah megantarkan manusia pada posisi yang sama di hadapan Tuhan dan sejarah terlepas dari tendensi budaya, suku, bahasa maupun agama.

Referensi

  1. Ahmad Syafi'i Maarif. 2016. Bengkel Buya (Belajar Dari Kearifan Wong Cilik). Jakarta: Maarif Institute For Culture And Humanity.
  2. Ahmad Syafi'i Maarif. 1985. Al-Qur'an, Realitas Sosial Dan Limbo Sejarah (Sebuah Refleksi). Bandung: Penerbit Pustaka.
  3. Buya Syafii Maarif: Tiap Tahun Saya Mengucapkan Selamat Natal
  4. Damanhuri. Islam Keindonesiaan, dan Kemanusiaan (Telaah Pemikiran Ahmad Syafi'i Maarif), dalam Jurnal Al-Banjiri, Vol. 14, No.1, Januari-Juni 2015