Menjadi sabar dan ikhlas memang tidak mudah, tetapi itu harus. Terima kasih telah mengajarkan berbagai arti, seperti kepedihan, kejatuhan dan kehilangan. Sesak rasanya, seperti ada lubang besar yang tiba-tiba terbuka dalam diri ini, ingin sekali berteriak ‘Ya Tuhan, apa salahku?’.”

Kehilangan merupakan suatu keadaan di mana seseorang mengalami suatu perpisahan pada sesuatu yang sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada. Sejak lahir seseorang sudah mengalami kehilangan selama rentang kehidupan dan cenderung akan mengalaminya kembali dengan wujud yang berbeda. 

Kehilangan dapat terjadi secara tiba-tiba maupun secara bertahap. Kehilangan dibagi dalam dua tipe, yaitu aktual dan persepsi. Aktual merupakan tipe kehilangan yang mudah dikenal atau diidentifikasi oleh seseorang, misalnya amputasi atau kematian orang yang sangat berarti. 

Tipe kehilangan persepsi hanya dialami oleh seseorang dan sulit untuk dapat dibuktikan, misalnya seseorang yang berhenti bekerja atau PHK yang dapat menyebabkan perasaan kemandirian dan kebebasannya menjadi menurun. Adapun jenis-jenis kehilangan yakni dikategorikan dalam 5 jenis, sebagai berikut:

Pertama, kehilangan seseorang yang dicintai. Kehilangan seseorang yang dicintai dan sangat berarti bagi kita adalah salah satu hal yang paling membuat stress dan mengganggu dari tipe-tipe kehilangan, yang mana harus ditanggung oleh seseorang.

Kedua, kehilangan diri sendiri (loss of self). Kehilangan diri atau anggapan tentang mental seseorang. Anggapan ini meliputi perasaan terhadap keatraktifan serta kemampuan fisik dan mental. Beberapa aspek lain yang dapat hilang dari seseorang misalnya kehilangan pendengaran, ingatan, atau fungsi tubuh.

Ketiga, kehilangan objek eksternal. Kehilangan objek eksternal misalnya kehilangan milik sendiri atau bersama-sama, perhiasan, uang atau pekerjaan. Kedalaman berduka yang dirasakan seseorang terhadap benda yang hilang tergantung pada arti dan kegunaan benda tersebut.

Keempat, Kehilangan lingkungan yang sangat dikenal. Kehilangan diartikan dengan terpisahnya dari lingkungan yang sangat dikenal dari kehidupan latar belakang keluarga dalam waktu satu periode secara permanen. Misalnya pindah ke kota lain, maka akan memiliki tetangga baru dan proses penyesuaian baru.

Kelima, kehilangan kehidupan/meninggal. Seseorang dapat mengalami mati baik secara perasaan, pikiran, dan respon pada kegiatan dan orang disekitarnya, sampai pada kematian yang sesungguhnya. Sebagian orang berespon berada tentang kematian.

Setiap orang pernah merasakan kehilangan seseorang, baik kehilangan orangtua, sahabat, pacar, atau kolega. Mengalami kehilangan memang bukan hal yang mudah. Perasaan sedih pasti dirasakan saat kehilangan seseorang yang dicintai. Hal itu dikarenakan kehadiran orang-orang yang kita cintai sangat berarti. 

Wajar rasa sedih, terpuruk, takut, dan hampa melanda saat orang yang dicintai tiba-tiba pergi bahkan bertanya-tanya kenapa takdir begitu kejam mengambil orang yang dicintai.

Tidak ada yang lebih percuma selain menyumpahi takdir. Marah, menyumpah langit beserta seluruh takdir yang sudah tertulis di lauhul mahfudz, dan berharap segalanya berjalan sesuai dengan keinginan. 

Manusia terlalu bebal dan egois berkesimpulan sebelum benar-benar paham padahal pengetahuannya hanya seujung kuku. Saya tahu bagaimana rasanya kehilangan. Kehilangan satu dari tiga orientasi hidup saya, entah bagaimana saya menggambarkan perasaan saya kala itu. 

Meneguhkan hati menerima segalanya dengan sekuatnya menahan air mata dan meraba-raba makna ‘ikhlas’ yang sesungguhnya. Harus saya akui saya belum ikhlas saat itu meskipun mungkin hingga kini pun sama. Tetapi seiring berjalannya waktu, saya tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. 

Kehilangan memang sangat menyayat hati, bahkan tidak bisa terlupakan sepanjang hidup. Namun, kehidupan terus berjalan dan kita hanya bisa berdoa agar ia tetap berbahagia. Kita juga harus yakin bahwa kebahagiaan kita adalah yang ia inginkan.

Melepaskan kepergiannya dan mengalah pada takdir yang memang sudah usai baginya. Satu-satunya hal yang menguatkan saya: karena saya meyakini seluruh takdir ini adalah kehendak-Nya. Penulis skenario terbaik tidak mungkin salah, tidak mungkin pula ingkar walau satu huruf pun atas semua janji-Nya. 

Saya berjanji bahwa saya akan baik-baik saja demi semua mimpi yang sudah dititipkan kepada saya dan demi Tuhan semesta alam yang selalu baik. Sebelas Juni lalu adalah tepat seratus hari kembalinya kepada-Nya. Saya menulis ini karena saya sedang didekap rindu yang teramat kepadanya. 

Sampai di akhir kalimat tulisan ini, sungguh saya hanya merindukannya. Sebagai penutup, izinkan saya mengutip kata-kata dari salah satu buku tulisan Darwis Tere Liye. Buku yang juga sedikit banyak membuka mata hati dan otak tentang ikhlas, kerelaan dan kehilangan.

Semua kehilangan itu menyakitkan. Apapun bentuk kehilangan itu, ketahuilah, cara terbaik untuk memahaminya selalu dari sisi yang pergi Bukan dari sisi yang ditinggalkan. Kalau kau memaksakan diri memahaminya dari sisimu, maka kau akan mengutuk Tuhan, hanya mengembalikan masa-masa gelap kala waktu itu.' –rembulan tenggelam di wajahmu, darwis tere liye.