1 tahun lalu · 285 view · 5 menit baca · Ekonomi 99070.jpg
www.merdeka.com

Menghitung Dampak Ledakan Nuklir di Semenanjung Korea

Letak semenanjung Korea memang cukup jauh dari Indonesia. Jaraknya mencapai 5280 kilometer, setara 6 kali bolak-balik dari Jakarta ke Surabaya. Perang Korea kali ini sangat berbeda bila dibanding Perang Dunia II yang berlangsung antara tahun 1939-1945.

Korea Selatan maupun Korea Utara, dua-duanya Negara sahabat Indonesia. Meski keduanya Negara sahabat, Indonesia lebih dekat dengan Korea Selatan. Selain TKI kita banyak bekerja di sana, kita juga lebih banyak melakukan kerjasama di bidang ekonomi dan militer dengan Korea selatan. Kedua Negara juga sama-sama negara demokrasi yang stabil.

Bila pecah perang, Korea Utara tidak segan-segan meluncurkan bom nuklir, senjata kimia dan biologi untuk menghancurkan Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat (AS). Kita tahu, AS adalah Pemimpin NATO dan mempunyai perjanjian pertahanan dengan Jepang, Australia, dan Selandia Baru. Bila Korea Utara nekat menyerang, pasti akan dikeroyok banyak negara.

Bukan menakut-nakuti, tapi untuk mengingatkan betapa perang tidak hanya merugikan Negara yang terlibat langsung. Perang masa modern pasti mempengaruhi negara lain yang letaknya sangat jauh sekalipun. Mari kita hitung dan prediksi dampak apa saja yang bakal menghantam Indonesia bila perang pecah di semenanjung Korea.

Pertama, jika terjadi perang Korea jilid II, maka sebanyak 70.000 TKI kita terpaksa pulang dan kehilangan pekerjaan. 70.000 orang pulang dengan status pengangguran akan menambah beban ekonomi Indonesia. Dengan pertumbuhan ekonomi kisaran 5,4 %, pemerintah akan kesulitan mencarikan pekerjaan bagi orang sebanyak itu.

Kedua, proyek bersama pembuatan jet tempur dengan kode program ‘’IFX/KFX’’ akan batal. Korea Selatan yang dilanda perang pasti membutuhkan ribuan triliun dana segar untuk membiayai perang. Sedangkan proyek pesawat tempur yang dikembangkan Indonesia-Korea Selatan, baru akan rampung tahun 2026.

Negara sedang dilanda perang, jangankan mendanai pembuatan pesawat dari nol, mampu bertahan dari gempuran bom nuklir saja sudah untung. Korea Selatan akan merogoh kocek dalam-dalam, utamanya untuk membeli pesawat, bom, rudal, dan alat perang yang sudah jadi dari negara lain, khususnya dari Amerika Serikat, sekutunya.

Menunggu pesawat bikinan sendiri jadi, terlalu lama dan hanya buang-buang waktu. Akhirnya, Indonesia yang menyetor minimal 15 triliun untuk pengembangan, mesti menghadapi kenyataan pahit; pesawat yang ditunggu-tunggu kandas di tengah jalan.

Sebanyak 300 teknisi pesawat kita yang dikirim dan berguru teknologi ke Korea Selatan akan pulang dengan tangan hampa. Pulang ke tanah air dengan hati kecewa, dan cita-cita ingin membanggakan bangsa pun tidak kesampaian. Proyek pembuataan jet canggih pun gagal, sia-sialah kita mengeluarkan uang rakyat triliunan pupiah.

Ketiga, usai perang meletus, selain mengincar tokoh politik dan petinggi militer, Korea Utara juga bakal membunuhi artis-artis korea. K-Pop dan drama Korea, adalah musuh kebudayaan nomor wahid yang sangat dibenci rezim Kim Jong-Un. Maka, seniman layar kaca Korea Selatan pun ikut diburu oleh agen dan tentara invasi Negeri Korea Utara.

Penggemar di Indonesia tentu tidak akan bisa menikmati film, drama, dan reality show seperti sebelum perang meletus. Ingat, Korea Selatan itu kecil. Ketika pecah perang, wilayahnya mudah sekali diinvasi sebagaimana perang tahun 1950 an. Tiap warga negaranya, termasuk artis mudanya, bakal ikut terjun ke medan perang.

Keempat, sejak masa Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, Pemerintah RI memiliki program Minimum Essential Force (MEF). Suatu program standar minimum guna memodernisasi dan pengadaan persenjataan TNI yang harus dipenuhi bila mau pertahanan Indonesia berada di titik aman ideal.

Salah satunya program pengadaan 3 unit kapal selam dari Korea Selatan. 1 kapal sudah jadi, yang kedua dalam proses produksi. Sedang yang ketiga masih dalam rencana akan dirakit di Surabaya dan dikerjakan PT PAL. Indonesia mengirim 206 Engineer perkapalan untuk belajar merakit dan dibantu tenaga ahli dari Korea Selatan.

Bila Korea Selatan diserang, atau minimal terpaksa berperang, maka industri perkapalannya akan sibuk membuat kapal selam sendiri untuk dipakai langsung berperang. Korea Selatan dituntut mati-matian menahan gempuran bom dari Korea Utara. Harapan tenaga ahli Korea Selatan mentransfer teknologi ke Indonesia, pasti batal dan tidak memungkinkan.

Bila suatu Negara berperang, saya tidak percaya perusahaan yang ada di negara tersebut bakal memindahkan produksinya ke luar negeri. Dalam beberapa kasus mungkin iya, tapi sedikit sekali kemungkinannya. Mengapa? Karena pemerintahnya akan memaksa pemilik perusahaan membantu pendanaan perang, dan itu tidak murah.

Perusahaan di negara yang dilanda perang, contohlah Suriah dan Irak, akan dipaksa membayar pajak lebih, dan mayoritas karyawannya akan terdampak perang. Infrastruktur hancur, pengangguran di mana-mana, pasar tidak aman, investasi lumpuh, dan anak mudanya akan dikirim ke medan perang membela negara yang sedang kacau-balau.

Bila itu yang terjadi di Korea Selatan sebagai negara investor terbesar nomor 3 di Indonesia, maka warga Indonesia akan kesulitan mencari barang-barang buatan Korea Selatan yang selama ini dengan mudah kita temukan. Minimal harganya akan meroket dan tidak terjangkau oleh kebanyakan orang Indonesia.

Kelima, produk-produk industri dari Korea Selatan di Indonesia, seperti mobil KIA, HYUNDAI, elektronik LG, SAMSUNG, atau produk gunting kuku, lem, dan perangkat komputer akan mengalami kenaikan harga. Perang membuat pabrik pusat produksi di Korea hancur dan rantai pasokannya mengalami gangguan total.

Keenam, perang akan menyebabkan perekonomian Korea Selatan mundur lebih dari 30 tahun. Pendapatan rakyat Korea akan turun 50% dalam rentang 1 tahun saja. Kerusakan bangunan, jalan, fasilitas umum yang terhantam nuklir diperkirakan mencapai 70%. Akibatnya, dana segar investasi Korea Selatan di Indonesia akan ditarik sekitar 30 triliun.

Ketujuh, Korea Utara mempunyai sekitar 70 bom nuklir siap luncur. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30 X bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima-Nagasaki tahun 1945. 20 nuklir sudah cukup menghanguskan seluruh wilayah Korea Selatan, termasuk area pangkalan militer AS. Tetapi, AS tidak akan tinggal diam, AS pasti juga meluncurkan nuklir.

Bila perang nuklir meletus di semenanjung Korea, seminggu pertama akan ada 16 juta tewas dari rakyat Kedua Korea, ditambah Tentara AS dan sekutunya. Juga akan ada 8 juta warga terluka, hilang, dan 5 juta mengungsi. Polusi dan radiasi nuklir akan membumbung setinggi 20 kilometer ke atmosfer. Bila ditambah tiupan angin, pencemarannya akan menyelimuti Indonesia dan Asia Tenggara.

Partikel nuklir dan radiasinya akan mengubah pola DNA dan sistem mutasi gen dalam tubuh manusia. Maka, bencana penyakit aneh, kanker, dan kelainan organ akan menimpa bayi-bayi penduduk yang udaranya tercemar. Bayi-bayi cacat dan tidak sempurna akan muncul di mana-mana. Dan tentu saja belum ada obat yang efektif menangkalnya.

Kita yang tidak berdosa, tidak tahu-menahu soal perang mereka (Negara dua Korea), mesti menanggung penyakit dan bahaya kanker. Permintaan energi dan pasokan makanan dunia pun bakal terganggu. Indonesia sebagai pengimpor minyak pasti bakal membayar lebih mahal untuk mencukupi bahan bakar dalam negeri yang diimpor dari pasar global.

Korea Selatan sebagai salah satu Negara maju dan perekonomian 15 besar dunia, bila ekonomi dan rantai produksinya hancur, akan menyumbang penurunan pertumbuhan ekonomi global sebanyak 0.6%. Itu artinya cukup untuk mengganggu dan mengkoreksi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Ekspor Indonesia akan anjlok.

Kedelapan, tanggal 31 Mei 2017 Presiden ke-5 RI, Megawati meresmikan Taman/Kebun Raya ’’Megawati Soekarnoputri Garden’’ di Jeju, kota sejuk di Korea Selatan. Bila perang pecah, taman simbol persahabatan dan penghormatan Bangsa Korea Selatan ke Pemimpin Indonesia tersebut tidak akan luput dari gempuran bom Korea Utara.

Monumen dalam bentuk taman indah tersebut akan hancur. Taman yang melambangkan hangatnya persahabatan kedua negara akan tinggal kenangan, padahal baru saja diresmikan tahun ini. Jejak keharuman nama tokoh Indonesia di Korea Selatan sirna seiring membabi-butanya pertempuran dalam sebuah perang konvensional.

Demikian dampak negatif bagi Negeri kita tercinta bila meletus perang di semenanjung Korea, Asia Timur. Mumpung belum terjadi, seharusnya ada gerakan anti-perang yang cukup berani di Indonesia untuk mencegah terjadinya tragedi kemanusiaan pada abad XXI ini.

Semoga tidak ada Pemimpin suatu Negeri congkak, gegabah, yang gaya-gayaan memprovokasi pecahnya perang, sedang dia tidak tahu bahwa perang hanya akan membuat semua pihak yang terlibat menjadi abu dan tenggelam dalam sungai darah.