Blogger
1 tahun lalu · 681 view · 3 min baca menit baca · Kesehatan 47323smoking-1418483_640.jpg.jpg
Ilustrasi: pixabay.com

Menghindarkan Generasi Muda dari Bahaya Merokok

Di Indonesia, seorang perokok aktif semakin mudah ditemui. Dari kalangan muda-mudi, mulai anak usia sekolahan sampai mahasiswa tak canggung untuk memamerkan kebiasaan buruk itu di depan umum. Sebatang rokok dihisap dengan nikmat tanpa sadar kesehatan tengah mengancam mereka. Tak terkecuali mereka yang masih belum pantas membelinya, yaitu anak di bawah umur yang sehari-hari masih meminta uang jajan dari orangtua.

Sosialisasi tentang bahaya rokok yang dilakukan pemerintah belum mampu mengurangi jumlah perokok aktif di Indonesia. Dikutip dari Solopos.com, menurut Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LDFEBUI) menyatakan saat ini perokok laki-laki dewasa meningkat dari 53% menjadi 66%. Sedangkan tingkat perokok perempuan cukup drastis peningkatannya, dari 1,7% menjadi 6,7%.

Anehnya, kenaikan ini terjadi ketika harga rokok terus meningkat. Hal ini menegaskan bahwa perokok aktif tidak begitu berpengaruh dengan harga. Pelarangan tentang iklan di tempat umum, media cetak, dan media visual lainnya sebenarnya tak berpengaruh besar bagi seorang perokok.

Ada yang mencoba menakut-nakuti dengan gambar seram di bungkusan rokoknya sampai iklan televisi yang memperlihatkan mantan perokok yang akhirnya mengalami komplikasi penyakit. Bagi perokok aktif memang bisa menimbulkan ketakutan. Tapi ketakutan itu senantiasa hilang dengan sendirinya oleh kenikmatan rokok yang tiada duanya.

Bagi perokok pasif, sosialisasi maupun iklan yang bertebaran memang sedikit banyak berpangaruh. Tapi ini kembali lagi pada bagaimana lingkungan lebih mempengaruhi seseorang untuk memilih menjadi perokok aktif atau pasif.

Setidaknya ada 3 cara bagaimana kita dapat memutus rantai perokok aktif agar generasi muda terutama kalangan generasi Z tidak tertular dengan kebiasaan perokok ini.

1. Peran Keluarga

Kontrol dari orang tua sangat diperlukan. Tidak peduli orang tuanya perokok sekalipun. Orangtua dapat memutus kebiasaan merokok itu agar tidak menular pada anak. Berikan pemahan bahwa rokok adalah sesuatu yang berbahaya.

Namun memang akan sangat sulit jika si anak masih mempertanyakan tentang bahaya rokok tetapi orangtuanya sendiri masih merokok. Inilah tugas berat bagi orangtua. Ini tanggung jawab besar mereka agar kebiasaan merokok tidak menurun ke anak-anak.

Ada beberapa orangtua yang lebih memilih mendidik dengan cara-cara yang demokrasi. Diberi kebebasan yang luas namun dengan batasan sewajarnya. Jadi si anak dibiarkan memilih untuk menjadi apa dan bagaimana ia akan menjalani kehidupannya, termasuk memberi opsi apakah seorang anak ingin menjadi perokok atau tidak.

Padahal, penting bagi orangtua untuk menjaga kesehatan seorang anak baik itu untuk sekarang maupun untuk waktu jangka panjang ke depan setelah anak tumbuh dewasa. Jadi bukan alasan bagi orang tua untuk membiarkan.

Penyampaian atau metode pendidikan pada anak tentang bahaya merokok bisa menyesuaikan bagaimana orangtua punya pola pengajarannya tersendiri. Yang terpenting adalah semuanya harus kembali pada tujuan utama, yaitu anak sebagai penerus generasi harus bisa dicegah agar tidak menjadi perokok aktif.

2. Peran Lingkungan Sosial

Dalam hal ini pergaulan seorang anak dengan teman-temannya. Ini masih menyangkut poin pertama, yaitu perlu ada keterlibatan orangtua dalam mengawasi seorang anak agar tidak salah-salah memilih teman dalam bergaul. Bukan berarti orangtua harus mengekang anak untuk bersosialisasi, akan tetapi mereka dapat diajak untuk lebih terbuka dan bercerita siapa saja teman mereka dan kegiatan apa yang mereka lakukan.

Mereka juga harus sama-sama mengingatkan tentang bahaya merokok. Biasanya kebiasaan merokok dimulai dari interaksi anak dengan temannya yang merokok. Maka mereka juga perlu mawas diri dan tidak tergoda atau tertarik dengan rayuan untuk ikut merokok dari teman-temannya.

3. Peran Institusi Pendidikan

Sekolah harus mampu memberi sosialisasi yang intens tentang betapa bahayanya merokok. Ini harus dilakukan sedini mungkin agar pemahaman tentang merokok dapat membuat mereka takut untuk jadi seorang perokok.

Peran pengajar atau guru di sekolah menjadi sangat besar karena selain memberi materi pelajaran, seorang pengajar punya fungsi fundamental untuk mendidik siswa-siswi mereka agar bisa hidup lebih sehat. Termasuk menghindari kebiasaan merokok.

Prinsip dasar yang perlu di tanamkan pada seorang anak adalah hindari rasa penasaran mereka bagaimana rasanya merokok, karena sekali mereka berani mencoba atau bahkan sampai ketagihan maka akan sulit bagi mereka untuk melepaskannya.

Sebenarnya efek negatif rokok tidak akan dirasakan sekarang. Efek itu akan terasa setelah 10-30 tahun mendatang. Itu tergantung pada diri setiap orang. Ada beberapa orang yang masih tergolong muda sudah merasakan efek penyakitnya, namun ada juga yang baru merasakan berbagai penyakit akibat merokok saat umur sudah menua.

Kesehatan adalah segala-galanya. Maka penting bagi semua orang terutama generasi muda agar berani hidup sehat. Segala penyakit memang bukan berasal rokok. Tetapi rokok jadi salah satu pengantar penyakit yang mematikan. Memutuskan untuk menjadi perokok pasif adalah sesuatu yang harus dilakukan bagi banyak orang.

Artikel Terkait