Hubungan kerja antara atasan dan bawahan ataupun dengan rekan sekerja idealnya dapat harmonis sehingga bisa mendorong kemajuan perusahaan. Namun apabila yang terjadi adalah kebalikannya, kita sebaiknya sedapat mungkin mampu menghindari lingkungan kerja yang sangat tidak kondusif tersebut. 

Bahkan kita dapat juga membuat sebuah keputusan tegas untuk keluar dari perusahaan yang memiliki budaya kerja yang buruk, terutama apabila kita sudah tidak bisa lagi memperbaiki sistem yang ada.

Salah satu konstruksi desain yang jelek dari lingkungan kerja adalah berasal dari hasil Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN). Tatanan KKN akan mewujud pada terbentuknya raja-raja kecil di kantor atau menciptakan klan sesuai dengan suku bangsa yang sama.

Kita perlu mengetahui ciri-ciri lingkungan kerja yang sangat tidak kondusif itu sehingga bisa menghindarinya karena apabila kita tidak mampu mewarnai sistem, kita akan ikut-ikutan terbawa pada pengaruh negatif dari tempat kerja kita.

Pada realitasnya yang terjadi di Indonesia adalah 'the system follows people', bukan 'people follows the system' sehingga atasan akan membuat aturan 'semau gue' karena berada di titik puncak kekuasaan perusahaan.

Atasan akan membuat jaringan yang dapat diatur sesuai skenarionya sehingga menempatkan orang-orang dari lingkaran keluarga atau pertemanan yang cenderung bisa mengikuti setiap kemauannya, atau juga yang berasal dari suku bangsa yang sama.

Unsur nepotisme dan kedaerahan yang kental tidak selalu jelek kalau memang memiliki keahlian dan kapabilitas yang relevan dengan bidangnya, namun kebanyakan praktek KKN di Indonesia sangatlah buruk dan harus dihilangkan.

Ada beberapa perusahaan yang terkenal atau bonafit, orang-orang yang berpengaruh di dalam perusahaan dengan gampangnya memasukkan sanak saudara atau permintaan relasinya untuk bekerja, padahal samasekali tidak mempunyai background kompetensi dan bahkan dengan tingkat pendidikan yang rendah.

Semua bisa diatur karena jalannya perusahaan dan pekerjaan keseharian digantungkan kepada segelintir orang yang dapat bekerja, sementara yang lainnya yang berada dalam lingkaran KKN tinggal mengklaim hasil pekerjaan orang lain dan mengambil hasil pekerjaan orang tersebut dengan mengatasnamakan koordinasi kerja.

Parahnya lagi, atasan hanya mengetahui bahwa yang bekerja adalah anak buahnya dalam lingkaran KKN ataupun bersikap masa bodoh siapa yang mengerjakan, yang penting semua bisa beres.

Ia juga hanya mempercayai sumber berita dan informasi dari lingkaran KKN nya saja, padahal informasi yang disampaikan oleh bawahan yang dipercayainya itu hanyalah setengah atau bahkan sok tahu karena sebenarnya selama ini mereka hanya melakukan klaim-klaim atas pekerjaan yang dilakukan.

Mereka mungkin saja bisa bekerja, tapi bermalas-malasan dan hanya mengambil hasil pekerjaan orang lain, kemudian menyudutkan pihak yang telah bekerja itu agar ia selalu berada di atas dan posisi yang mengerjakan senantiasa berada di bawah, mereka yang mengerjakan tidak akan mendapatkan nama, bahkan apresiasi kerja dari atasan.

Dalam lingkungan seperti ini, tingkat ambivalensi pasti sangat tinggi karena orang-orang melakukan kamuflase untuk menutupi tujuan sebenarnya dan bermanis-manis di dalam melancarkan jurus persuasif untuk membujuk orang  menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya dia sendiri tak bisa melakukannya sehingga hanya bisa menyuruh orang lain.

Namun karena kedekatan dengan kekuasaan, ketidakcakapannya itu ditutupi dengan segala cara, bahkan dipoles melalui keterampilan berbicara yang berbunga-bunga sehingga atasan akan menjadi senang dan langsung menaikkan jabatannya sehingga ia tidak perlu mengerjakan pekerjaan detail yang kemudian diserahkan kepada orang lain.

Atasan yang tidak bijaksana juga tidak akan melihat kebenaran dari sudut pandang yang lain, ia akan terpaku dan memasung keadilan dengan melihat pintu kebenaran absolut berada hanya pada lingkaran KKN.

Hal ini menjadi sangat buruk ketika satu pihak menjelekkan yang lain dan atasan langsung memvonis bahwa kebenaran adalah milik anak buah dalam jaringan KKN nya sehingga subyektivitas tersebut menghancurkan secara perlahan, namun pasti.

Nasib orang-orang yang mau bekerja dalam perusahaan tersebut adalah tetap menjadi prajurit saja, tidak lebih dari itu. Karena saat melakukan protes, atasan yang 'sudah ditutup matanya' akan memberikan penilaian jelek dan bahkan akan menghukumnya.

Orang tersebut disebutkan tidak mampu melakukan pekerjaan ini dan itu sehingga tidak cakap apabila menjadi leader dan posisinya digantikan oleh orang lain yang bisa disetir oleh atasan.

Permainan kotor semacam ini ternyata bukan hanya semata didesain untuk melanggengkan kekuasaan, bahkan lebih jauh lagi, yaitu: dalam praktek money laundring sebagai hasil korupsi yang merajalela. Apalagi jika itu melibatkan jumlah uang yang sangat besar.

Kepercayaan atasan kepada lingkaran KKN nya memang begitu kuat demi menjaga praktek korupsinya yang berprinsip bagi-bagi jatah atau amplop sehingga tak heran kalau kerabat atau sanak saudara yang direkrut dengan pertimbangan bahwa mereka dapat menyimpan rahasia akan kejahatan-kejahatan yang dilakukannya.

Sayang sekali jika perusahaan yang terkenal memelihara praktek seperti ini, apalagi jika perusahaan tersebut melakukan kerjasama dengan perusahaan asing, artinya adalah melibatkan dua negara yang berbeda.

Bekerja dengan mitra asing akan memberikan dampak positif atau negatif tergantung bagaimana menerapkan praktek kerja sehari-harinya, namun perlu dicermati bahwa kita membuka dapur kita sendiri kepada orang asing yang tidak mengenal kebiasaan kerja kita.

Ketika mereka mengetahui ketidakprofesionalan orang-orang yang berada di tempat kerja dan pengelolaan manajemen yang jelek, maka mereka akan menertawakan kita dan merasa lebih unggul sehingga bisa melakukan apa saja sesuka hatinya.

Selain itu, sedikit banyak akan mewarnai hubungan kedua negara karena bagaimana pun juga mitra asing tersebut bukan berasal dari negara yang sama dengan kita.

Bayangkan apabila kultur kerja yang sudah jelek bertemu dengan mitra asing yang memiliki kultur kerja yang sama buruknya, maka perusahaan tersebut akan menciptakan akulturasi dinasti yang sangat buruk.

Oleh karena itu, memandang bermitra dengan asing akan berdampak positif itu tidak selalu benar. Karena semua itu bergantung pada siapa mitra kita dan bagaimana perilakunya serta cara kita menyikapinya.

Apabila kita bermitra dengan orang asing yang memiliki tingkat kedisiplinan tinggi, namun mereka tidak mau membuka diri dan mengajari kita akan etos kerjanya, hal itu sama saja dengan omong kosong.

Bahkan kelemahan-kelemahan kita akan terus dipeliharanya agar kita tidak bisa memperbaiki diri dan tak sanggup mengejar ketertinggalan dengannya sehingga mitra asing dapat terus melakukan klaim-klaim mengenai keberhasilannya itu.

Hal itu dilakukan agar mereka selalu berada di atas kita. Jika seperti ini, kita tidak bisa menuai hasil yang positif dari kerjasama itu. Lebih baik kita belajar mandiri dengan menggunakan kemampuan sendiri ketimbang berada di bawah kendali pihak luar dengan hasil yang nihil dan menghambur-hamburkan uang yang sangat banyak.

Untuk gaji tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia saja masih sangat tinggi, padahal tingkat keahliannya belum tentu mumpuni. Bahkan apabila diuji, kinerja dari tenaga kerja kita justru ada yang lebih baik, namun dengan gaji yang sangat rendah.

Mitra asing menutupi ketidakmampuannya dengan memamerkan sistematika proses mereka yang lebih canggih, padahal sistematika proses dapat berbeda, yang penting kualitas output yang dihasilkan adalah baik.

Sesungguhnya, hal itu disebut pemborosan karena negara ini membiayai tenaga kerja asing yang sebenarnya kemampuannya masih kalah dengan tenaga kerja kita sendiri.

Ironisnya, praktek kerjasama dengan negara luar seolah menaikkan prestisius sebuah perusahaan yang sebenarnya bukan merupakan prestasi, namun sebuah gambaran buruk mengenai lingkungan kerja yang sangat tidak kondusif.

Sekali lagi, apabila kita tidak mampu mengubah sistem yang buruk tersebut menjadi lebih baik, sebaiknya kita keluar saja karena di luar sana masih banyak tempat yang lebih sehat dalam berkompetisi dan mampu menghargai setiap karyawannya karena karyawan adalah roda untuk menggerakkan perusahaan.

Kita bukanlah budak yang hanya disuruh-suruh ataupun robot yang bisa bekerja dalam 24 jam, kita adalah manusia yang memiliki hati dan perasaan. Jika tidak dihargai, kita resign saja daripada diri kita tereduksi dalam lingkungan kerja yang buruk itu.