Apapun situasinya mau tidak mau siap tidak siap hari ini kita memasuki jaman 4.0 atau gampangnya digitalisasi. Hampir dari bangun hingga tidur lagi tidak ada jeda secuilpun kita menjauh dari aplikasi. Mulai desa hingga kota semuanya berada dalam genggaman.

Hari itu saya hendak makan di luar bersama anak-istri. Alih-alih masih dalam suasana pandemi kami berencana memilih rumah makan yang outdoor, dan jikapun ada belum tentu sudah buka. Niat tulus saya rupanya ditentang anak-anak dengan dalih panas, berpeluh-peluh dan belum lagi masih antri.

Dalam kebimbangan karena belum ada kesepakatan, tiba-tiba datang kurir antar-jemput makanan bolak-balik di depan pagar rumah kami. Kuterhenyak, tatkala mengetahui mas Kurir suruhan melalui seluler anak umur 12 tahun yang adalah ragilku, alias anak terkecil. Baru ngeh banyak kedai-kedai di luar sana menawarkan layanan pemesanan online bekerjasama dengan Go-Jek, Go-Car, Grab, Go-Food, dan go-go lainnya.         

Menjamurnya aplikasi-aplikasi dalam suasana pandemi turut membentuk kenyamanan kita untuk jangan berkerumun. Pergeseran tradisi antri yang adalah budaya lokal kita sedikit demi sedikit tergeser oleh teknologi antri. Benarkah itu?

Mungkin kita semua sepakat, menunggu adalah hal yang paling menjemukan. Mengantri makanan di restoran, misalnya. Tetapi, karena rasa cinta kita terhadap makanan tertentu akan membuat kita rela untuk melakukannya.

Suatu ketika saya mengantri di sebuah bank. Saya duduk di ruang tunggu yang hanya berisi 5 orang, dan salah satunya seorang nenek berusia 80 tahunan. Nenek Atiek ternyata telah berada di ruangan sejak pukul 07.30 bahkan sebelum pintu bank dibuka. Meskipun datang awal nenek Atiek tetap mesti terima antrian nomor 15 karena nomor sebelumnya telah dipesan sehari sebelumnya.

Nenek Atiek tetap setia menunggu meskipun oleh petugas disilakan pulang sembari menunggu dari rumah. Ia menolak karena puas bertemu orang-orang dan bisa mengobrol dengan pak Satpam yang baik-baik. Setiap awal bulan ia luangkan waktu buat ambil pensiunan almarhum suaminya.

Tas kulit lusuh nenek Atiek terbuka sedikit terlihat ATM masih baru karena mungkin belum pernah digesekkan dengan mesin ATM. Beberapa kali handphone nokia nya berdering dan terdengar sedang berbicara dengan anaknya.

Saya mencoba menyimpulkan sendiri kenekatan nenek Atiek. Bisa jadi ada dua sebab. Pertama, kesetiaan nenek Atiek mempertahankan tradisi antri. Kedua, nenek Atiek terkesima dengan keramahan petugas dan lalu lalang pengunjung bank.

Saya tidak sedang membahas fasilitas aplikasi perbankan yang semestinya dapat dimanfaatkan nenek Atiek. Yang lebih membuat saya gundah adalah kerelaan mengantri penerus nenek Atiek yang secara kasat mata mulai hilang.  

***   

Sebenarnya saya cukup takjub dengan yang dilakukan anak ragil waktu itu. Anggaplah kalau dia mau neranyak dalam jawa ngoko menunjukkan secara menohok. Bahwa ini ada aplikasinya, tidak perlu keluar apalagi berpanas-panas, dan semuanya bisa dilakukan dari rumah sendiri bahkan dari kamar mandi sekalipun.

Tapi kemudian saya merenungkannya. Anak saya tidak akan pernah memahami sakitnya disalip orang dengan memotong, anak saya tidak akan pernah mencium keringat orang berdesak-desakan, dan yang pasti anak saya tidak pernah menyaksikan kenikmatan menunggu. Aplikasi tidak mampu marah, aplikasi tidak bisa tersenyum, aplikasi tidak mungkin pingsan mencium bau kecut keringat. Intinya mesin tidak akan mampu menggantikan peran-peran humanis.  

Saya yakin kalau KTP nenek Atiek tidak berlaku seumur hidup, beliau akan senang hati dan suka rela mendatangi kantor Dukcapil untuk perpanjangan. Nenek Atiek tidak akan kehilangan seandainya ATM nya hilang, menurutnya kartu itu hanya memenuhi dompetnya dan tidak bisa diajak bercengkerama. Di hari tuanya nenek Atiek butuh teman mengobrol untuk menceritakan cerita-cerita bersejarah jaman silam.

Sahabat maya dengan sahabat nyata tentu sangat berbeda. Karakter, perilaku dan sifat orang akan mudah terbaca dengan bertatap muka. Pertemanan virtual alias tidak nyata hanya terlihat baik-baiknya saja. Sibuk sekolah, sibuk kerja, mager dan lainnya semestinya tidak perlu meninggalkan aktifitas berinteraksi dengan manusia.

Apapun yang kita inginkan agar menjadi baik jelas harus dimulai dari diri sendiri. Begitu juga jika kita menginginkan suatu kenyamanan di tempat umum, maka dari diri kita sendiri yang harus memulai agar tercipta kenyamanan tersebut. Salah satu kondisi yang pernah saya alami dalam menciptakan kenyamanan yang dimulai dari diri sendiri adalah budaya antri.

***

Salah satu tujuan saya setelah merampungkan tulisan ini adalah dapat diterima dan dimuat di media online ternama. Apalagi kalau tulisan saya nanti dipandang memiliki tingkat keterbacaan dan diseminasi dengan baik.

Maka pagi itu saya bergegas membuka laptop dan pelan-pelan menyalakan jaringan wifi sambil menunggu koneksi. Setelah memeriksa ulang naskah dan menyempurnakan sana-sini, kemudian mengecilkan file tampilannya ke sisi bawah dashboard. Saya masukkan foto pendukung berserta keterangannya, mengisi deskripsi dan kata kunci.

Begitu semuanya siap, lalu kirim. Dan, selang beberapa menit muncul tulisan, “Tulisan saudara sedang dimoderasi oleh redaksi.” Saya baru sadar bahwa ini artinya mengantri!          

 Wahyu Agung Prihartanto, penulis dari Sidoarjo.