Panitia Workshop
1 tahun lalu · 214 view · 2 min baca · Media 94051_14786.jpg
Workshop & Pelatihan Menulis "Kertas dan Peradaban" Qureta - APP Sinarmas di Jambi, 9-12 Januari 2018

Menghidupkan Tradisi Literasi di Tanah Pilih Pesako Betuah

Jika kau bukan anak seorang raja, bukan anak seorang ulama besar, maka menulislah. ~ Imam al-Ghazali

Kali ini, giliran Kota Jambi jadi sasaran persemaian gagasan Qureta. Bekerja sama dengan APP Sinarmas, Qureta hadirkan Workshop & Pelatihan Menulis bertajuk “Kertas dan Peradaban” di kota bermotto Tanah Pilih Pesako Betuah.

“Salah satu tujuan Qureta adalah menghidupkan tradisi literasi di Indonesia. Untuk itu, melalui kegiatan ini, kami ingin menghidupkan tradisi literasi itu, sekaligus mendorong para mahasiwa dan anak-anak muda untuk menulis. Kami ingin memicu keberanian menyebarkan ide-ide dan gagasan secara publik,” terang pendiri Qureta Luthfi Assyaukanie dalam sambutannya.

Bertempat di Hotel Wiltop, Kota Jambi, serial Workshop & Pelatihan Menulis Qureta-APP Sinarmas ini berlangsung pada 9-12 Januari 2018. Kegiatan yang sama, sebelumnya, juga hadir di dua kota besar lainnya, yakni Riau dan Surabaya.

“Ini kegiatan kali ketiga yang kami laksanakan. Harapannya, forum ini bisa memberi yang terbaik kepada para peserta agar nanti setelah workshop bisa menulis dan menerbitkan tulisannya di media massa, termasuk di Qureta.”

Selama ini, Workshop & Pelatihan Menulis memang menjadi bagian dari komitmen Qureta. Sebagai sebuah inisiatif merawat dan mengembangkan tradisi literasi, Qureta terus tampil memberi ruang kepada para penulis, terutama penulis pemula, untuk menyiarkan ide-idenya secara lebih mendalam juga sistematis.

“Sejak 2 tahun terakhir, fokus utama Qureta adalah platform web. Qureta terus berusaha memperkaya konten-konten positif dengan cara mengundang dan mendorong para mahasiswa, anak-anak muda, untuk berpartisipasi aktif.”

Akan tetapi, dalam perjalanannya, upaya tersebut terasa kurang berdaya. Perlu pemicu lebih untuk para penulis lebih giat lagi dalam kerja-kerja keabadian ini, yakni forum-forum pertemuan langsung yang diadakan secara berkala.

“Kami merasa harus ada cara lain di luar itu. Dari sanalah kemudian kami melakukan kegiatan yang bisa membantu para penulis pemula untuk menulis dan menerbitkan tulisannya, salah satunya melalui serial kegiatan ini.”

Sebagai pendiri Qureta, Luthfi menyadari bahwa menulis itu perlu keberanian. Pun demikian ketika hendak menyiarkan atau menerbitkannya di media publik.

“Karenanya, Qureta mencoba menciptakan forum-forum di mana para penulis, dari beragam profesi juga latar belakang, bisa bertemu dan belajar bersama. Tidak hanya tentang tulis-menulis saja, tapi juga bagaimana strategi menerbitkan tulisan-tulisan itu di berbagai media.”

Jika ini terus-menerus dilakukan, lanjut Luthfi, maka bukan tak mungkin bahwa tingkat literasi di Indonesia akan tumbuh secara perlahan. Semakin meningkatnya tradisi ini, semakin akan meningkat pula peradaban yang nanti akan tercipta. Bahwa tradisi literasi adalah salah satu pendulang utama lahirnya peradaban unggul.

Hal senada juga disampaikan Manajer Komunikasi Global APP Sinarmas, Emmy Kuswandari. Kegiatan ini, harapnya, tidak boleh berhenti di forum-forum tertutup seperti workshop saja, melainkan harus menjadi dasar pembangunan komunitas untuk para penulis bisa berbagi dan belajar bersama.

“Karena ruang ini untuk mendapatkan ilmu, untuk bergaul, meluaskan jaringan, maka kami ingin kegiatan ini tidak hanya berhenti di sini. Kami ingin terus membangun komunitas ini sebagai suatu forum belajar bersama kelak.”

Sebagai rangkaian Workshop & Pelatihan Menulis, fieldtrip ke hutan pulp dan industri kertas juga diagendakan. Selain untuk mengetahui secara langsung bagaimana proses pembuatan kertas, mulai dari cara penanaman hingga pemanenan, juga diharapkan jadi bahan tulisan para peserta setelah kegiatan ini terselenggara.

“Harapan besar kami di sana. Kami ingin para peserta nantinya ikut berpartisipasi juga dalam rangka merawat hutan menggunakan kertas sebagai bagian dari peradaban.”

Artikel Terkait