Freelancer
5 bulan lalu · 449 view · 4 min baca · Saintek 58171_35236.jpg

Menghidupkan Humanisme Evolusioner lewat Transhumanisme

Kita terbiasa memandang agama hanya sebagai bentuk pemujaan kepada Tuhan atau dewa-dewa. Pemujaan terhadap sesuatu yang jauh di atas sana atau ritus-ritus yang suci. Namun belakangan kita menemui satu pemujaan baru, yaitu pemujaan kepada manusia atau humanisme.

Menurut Yuval Noah Harari, humanisme adalah sebuah keyakinan bahwa manusia (Homo Sapiens) punya sifat yang unik dan sakral, yang secara fundamental berbeda dari sifat binatang dan fenomena lainnya. Para pengikutnya percaya bahwa sifat unik Homo Sapiens merupakan hal yang paling penting di dunia dan itu menentukan makna segala hal yang terjadi di Bumi dan alam semesta. 

Meskipun seluruh humanisme memuja kemanusiaan, mereka terpecah menjadi tiga sekte dan saling beradu soal definisi kemanusiaan. Ketiga sekte tersebut yaitu Humanisme Liberal, Humanisme Sosialis dan Humanisme Evolusioner.

Humanisme liberal memandang kebebasan individu sebagai hal yang paling utama. Produk yang dihasilkan dari sekte ini adalah HAM. Sedangkan Humanisme Sosialis percaya bahwa kemanusiaan bersifat kolektif ketimbang individualistik. Jika Humanisme liberal mengupayakan kebebasan individu sebesar-besarnya, maka Humanisme Sosialis mengupayakan kesetaraan semua manusia.

Humanisme Evolusioner memiliki perbedaan yang mencolok dibandingkan dua sekte humanisme sebelumnya. Humanisme Evolusioner mendefinisikan kemanusiaan dengan berpijak pada Teori Evolusi. 

Menurut Humanisme Evolusioner kemanusiaan adalah spesies yang tidak tetap. Manusia mungkin akan berubah menjadi subhuman atau berevolusi menjadi manusia super. Tujuan utamanya untuk melindungi umat manusia dari degredasi ke subhuman dan mendorong manusia menjadi manusia super.

Contoh paling nyata dari gerakan sekte Humanisme Evolusioner terjadi pada masa kekuasaan Nazi Jerman. Ambisi Nazi untuk melindungi umat manusia dari degredasi dan mendorong revolusi progresif, dilakukan dengan cara mengklaim Ras Arya sebagai ras unggul dan melenyapkan ras/kelompok lainnya yang dianggap rendah dan merusak keunggulan maunusia seperti Yahudi, Roma, homoseksual dan para pengidap penyakit mental.


Orang-orang Nazi menjelaskan bahwa Homo Sapiens sendiri muncul ketika satu populasi superior manusia kuno berevolusi dan pupulasi spesies manusia lainnya yang inferior punah. Ras Arya memiliki potensi mengubah manusia menjadi manusia super karena memiliki kualitas terbaik, perpaduan dari rasionalisme, keindahan, integritas, dan ketekunan. 

Sedangkan jika ras/kelompok lainnya yang dianggap rendah dibiarkan berkembang biak apalagi sampai melakukan perkawinan silang dengan Ras Arya, maka akan merusak seluruh populasi manusia dan menyebabkan punahnya Homo Sapiens. Riset genetik tahun 1945 mematahkan anggapan Nazi, tidak ada dasar ilmiah dari konsep ras unggul.

Runtuhnya Nazi tidak semerta-merta menguburkan keinginan menjadi manusia super lenyap. Meski bukan lagi dengan klaim ras unggul dan pembasmian ras lainnya, Humanisme Evolusioner menjelma sayup-sayup dalam sesuatu yang kita sebut transhumanisme. 

Transhumanisme adalah gerakan intelektual yang meyakini perubahan menusia hanya bisa dilalui dengan cara mengadopsi teknologi secara intensif. Dalam era ini manusia dan cyborg akan semakin serupa. Sederhanannya transhumanisme merupakan bentuk bergabungnya teknologi dan manusia.

Dengan menggunakan kerangkan Humanisme Evolusioner, kita melihat Nazisme terobsesi memunculkan manusia super dengan klaim ras unggul dan membunuh yang dianggap rendah.  Sedangkan transhumanisme juga melakukan hal yang sama tapi dengan cara yang berbeda. Transhumanisme memungkinkan manusia melakukan modifikasi sistem biologis yang implikasinya misalnya: kebal penyakit, melawan penuaan, dan meningkatkan kemampuan otak.

Transhumanisme tidak membuat klaim ras unggul seperti Nazi, tapi mereka membawa keunggulan tepat didepan hidung seluruh umat manusia. Transhumanisme berdiri tegak menyaksikan orang-orang yang kalah mati dengan sendirinya. Jika kita menyambut Nazisme dengan ketakutan, transhumanisme justru kita sambut dengan gemuruh tepuk tangan. Padahal keduanya sama, menyeleksi manusia secara nature dan nurture.


Sayangnya yang terjadi di Abad 21 bukan seleksi alam seperti yang dibayangkan Darwin. Manusia mulai menerobos batas-batas biologis , menerobos hukum seleksi alam dan menggatinya menjadi hukum desain inteligen. Desain inteligen dapat terjadi melalui rekayasa biologi, rekayasa cyborg (makhluk yang menggabungkan bagian-bagian organik dan non-organik), dan rekayasa kehidupan in-organik.

Pada tahun 2070 anda khwatir akan mengidap kanker karna ayah anda meninggal disebabkan penyakit itu dan kemungkinan besar penyakit itu akan anda warisi. Karna anda memiliki banyak uang maka anda pergi ke dokter untuk berkonsultasi. Pada saat itu ilmu kedokteran sudah berkembang sangat pesat maka dokter menyarankan anda untuk melakukan prosedur rekayasa genetika. 

Prosesnya dengan cara memotong gen cacat yang berpotensi membawa kanker dan akhirnya yang tersisa hanya gen-gen berkualitas baik di dalam tubuh anda. Anda senang karna potensi terkena kanker lewat faktor genetik sudah sirna, tapi anda sedih karna uang anda habis. Maka setelah melalui prosedur rekayasa genetika itu,  anda bergegas ke kantor dan kembali bekerja untuk mengumpulkan uang demi bertahan hidup.

Tetangga anda punya kasus yang sama dengan anda, ia mewarisi kanker dari ayahnya tapi ia miskin. Karna dia tidak mampu membayar prosedur rekayasa genetika maka ia harus hidup dalam ketidaktenangan menghadapi kematian yang terus mendekat tanpa tedeng aling-aling.  Kemungkinan terbesarnya, anda akan hidup lebih lama diandingkan tetangga anda. 

Jika dihitung secara global maka dunia akan didominasi oleh orang-orang seperti anda, punya kualitas kesehatan yang lebih baik atau kecerdasan, kekuatan fisik, dan standar kecantikan yang lebih baik pula. Dunia akan dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki kualitas diatas yang lainnya dan hasrat untuk mencapai keunggulan yang tak terbatas.

Kemajuan manusia di masa depan tidak lepas dari segenap kekahawatiran yang dibawanya. Guncangan sosial, ekonomi, politik dan budaya kemungkinan besar akan mewarnai kehidupan manusia.


Demonstrasi aktivis HAM karena khawatir ilmu pengetahuan terobsesi menciptakan manusia super dan akhirnya membawa ketidaksetaraan atau teriakan kaum monotheis yang dengan lantang mengatakan ilmu pengetahuan sudah merebut peran Tuhan. Sayangnya kita tidak benar-benar tahu apa yang akan terjadi, oleh sebab itu wajar jika khawatir.

Sebagian ilmuan mungkin sedang memikirkan kerangka ethics dari fenomena transhumanisme untuk meredakan kekhawatiran dan sebagian lainnya mungkin dengan tegas menyatakan bahwa ethics hanya membelenggu perkembangan ilmu pengetahuan. 

Di abad ini yang jelas kita akan memasuki sebuah ruang dengan kabut tebal, perlu meraba sekitar untuk dapat berjalan. Kita harus bersiap-siap mendefinisikan ulang apa itu manusia dan kehidupan.

Artikel Terkait