Di negara ini, banyak sekali seniman dan perkumpulan seni yang mumpuni dari segala bidang. Ada Rendra di seni sastra dengan Teater Bengkel-nya, ada Goenawan Mohamad dengan Komunitas Salihara-nya yang menghelat banyak pagelaran seni. Ada juga Happy Salma dengan kelompok teaternya yang menampilkan lakon naskah dan tokoh legendaris. 

Ada pula Nasikun yang lukisannya menghiasi dinding istana negara. Jangan lupakan juga Teater Eska dari Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang selalu menampilkan pagelaran ciamik.

Satu irisan dari mereka semua, yaitu tempat mereka berkarya: ada di kota yang maju perekonomiannya, yaitu Jakarta dan Yogyakarta. Terkhusus Yogyakarta, kebanyakan orang memvonis bahwa Yogyakarta maju budayanya bukan perekonomiannya. 

Maka dari itu, kegiatan seni di kota tersebut selalu ramai apresian. Namun agaknya kita terlalu naif jika mengatakan bahwa budaya dan kesenian dapat maju tanpa majunya perekonomian terlebih dahulu.

Seni, bagaimanapun, adalah kebutuhan tersier. Ketika seseorang sudah tercukupi kebutuhan sandang pangan papan dan sarana penunjangnya, maka selanjutnya dia akan mencari kebutuhan tingkat tiga, yaitu seni tersebut.

Kumpulan orang-orang berekonomi baik akan membentuk kota yang maju pula ekonominya. Itu berarti sinyal bagus dan memberikan atmosfer sejuk untuk dunia seni. Karena dengan keuangan yang lebih dari cukup, mereka takkan keberatan untuk datang dan mengapresiasi sebuah pagelaran seni.

Kota seperti itu akan membuat para seniman dan kelompok seni nyaman dan merasa aman. Tapi bukankah di negara ini lebih banyak kota yang belum maju dan miskin daripada yang maju? Dan di sana juga terdapat kelompok seni juga. 

Kira-kira bagaimana nasibnya mereka yang “terlempar” di kota di mana mayoritas penduduknya masih berjibaku “hanya” untuk memenuhi kebutuhan primer dan sekunder, tidak terkecuali juga para seniman itu sendiri?

Sebuah karya yang indah nan menjual mungkin dapat menjadi parameter kecintaan maestro kepada dunia seni. Tapi apa dengan begitu sekaligus bisa diputuskan bahwa yang menghasilkan karya biasa-biasa saja itu tidak mencinta sepenuh para maestro? Sebaiknya dirunut lagi apa yang menyebabkan seorang seniman atau kelompok seni bisa menghasilkan karya yang indah nan menjual. 

Pertama, tentu konsistensi dalam mengupayakan karya demi karya. Kedua, pembiayaan untuk memenuhi segala yang dibutuhkan dalam proses menghasilkan karya. Dan ketiga adalah apresian, tempat di mana karya diserahkan, dinilai, dan dijual.

Dan agar realistis, maka harus dibalik runutan itu. Jadi yang pertama adalah pangsa apresian. Jika kota maju secara ekonomi secara langsung, akan ada banyak apresian dan anggota masyarakat yang bersedia untuk mengeluarkan koceknya untuk kegiatan seni. Bisa sebagai penonton, pembeli, sponsor, atau kadang memberikan sumbangan secara cuma-cuma.

Keuangan kota yang mudah itu dengan sendirinya akan memudahkan para seniman dan kelompok seni untuk memudahkan mereka dalam memenuhi kebutuhannya dalam proses menghasilkan sebuah karya. Dan sudah pasti, proses yang lancar akan memudahkan mereka dalam berkonsistensi.

Maka bagaimana jika pangsa apresian begitu minimnya seperti yang terjadi di kota-kota yang miskin dan belum maju secara ekonomi? Pemenuhan kebutuhan dalam proses akan serba-minimal, dan konsistensi mungkin terus berjalan, tapi dalam skala yang berbeda dengan mereka yang bersemayam di kota maju.

Pernah terjadi sebuah organisasi sosial bekerja sama dengan pelukis asal Yogyakarta untuk menghelat pameran lukisan di kota tempat organisasi sosial itu berdiri, sebutlah kota K. Tentu kota itu miskin. 

Hasil dari penjualan lukisan itu rencananya akan disalurkan untuk memberdayakan kaum disabilitas. Tujuannya sudah luhur. Namun seminggu berjalan, tak ada satu pun lukisan yang berpindah kepemilikan. Itu menjadi sebuah pelajaran berharga bagi sang pelukis.

Di kota K juga ada kelompok teater yang mencoba untuk terus berproses. Beberapa bulan lalu mereka mengadakan pentas produksi. Tiket seharga 10 ribu rupiah dan 7 ribu untuk edisi pre-sale.

Dan saat penjualan tiket dihitung setelah pentas, terhitung “hanya” 189 tiket terjual. Dianggap akan menjadi prestasi jika penjualan tiket mencapai 300 lembar. Bukan hanya untuk kelompok teater itu, tapi juga prestasi untuk masyarakat kota K pula.

Jadi apakah mereka para seniman yang bersemayam di kota maju tengah menikmati previlege? Saya katakan iya. Tapi siapa pun yang berada di kota maju pasti mendapatkan previlege. Itu sesuatu yang tak terhindarkan.

Kata siapa seni harus diperbandingkan? Mungkin memang tidak. Tapi sebenarnya, ketika seseorang pegiat seni datang dari kota maju ke kota miskin atau belum maju untuk melihat pagelaran seni di sana kemudian memberi kritik, itu sudah sebuah sinyal perbandingan. Bahwa apa yang dia saksikan tidak sesuai dengan atau belum memenuhi standar tertentu yang sedikit banyak dipengaruhi oleh kehidupan berkaryanya di kotanya yang maju.

Jadi, sebaiknya pegiat seni jangan saling kritik? Bukan begitu. Mereka harus terus saling kritik untuk sarana pengembangan. Kritik harus dalam konteks ideal. Ideal di sini bukanlah keberhasilan, melainkan sebuah arah tujuan. Sehingga seniman dan kelompok seni dari kota mana pun dapat menujunya, sekalipun dengan kelajuan yang beragam.

Terkait previlege seniman di kota maju dan seniman di kota miskin yang tidak memilikinya, agaknya tak lebih dari cara para seniman ambil bagian dalam menghidupi seni. Tak dapat diputuskan mana di antara dua seniman itu yang lebih baik.

Di kota maju mungkin lebih mudah dalam menghasilkan karya (jika dilihat dari teropong seniman kota miskin), namun persaingan di sana jauh lebih hebat, menuntut untuk terus berinovasi.

Sedangkan di kota miskin mungkin para seniman terseret-seret dalam proses menghasilkan karya, namun saingan hampir tidak ada. Karena untuk dapat bertahan hidup di sana pun barangkali sudah merupakan prestasi.

Dan akhirnya satu irisan antara seniman dari kota maju dan seniman dari kota miskin adalah mereka semua adalah para pemberani. Karena mereka dengan percaya diri berproses untuk menghasilkan komoditas kebutuhan tingkat tiga. Di saat setiap orang bersaing untuk mereguk untung dengan jalan menjual kebutuhan primer dan sekunder yang sudah mutlak dibutuhkan setiap orang.

Makhluk hidup apa pun membutuhkan pangan, itu irisan manusia dengan makhluk hidup lain. Seni adalah satu noktah yang manusia miliki, namun makhluk hidup lain mana pun tidak memilikinya.

Dengan seperti itu, seni dapat dijadikan perlambang dari keluhuran kemanusiaan. Maka tak berlebihan rasanya jika para seniman, di mana pun mereka berproses, apa pun karyanya, mereka adalah pemangku keluhuran kemanusiaan. Salam seni, salam budaya!