Gotong royong dalam kamus besar bahasa indonesia memiliki arti bekerja bersama-sama (tolong-menolong, bantu-membantu). Dalam definisi tersebut sebenarnya menyingkapkan bahwa gotong royong sendiri memiliki unsur komunal, bukan individual. Dalam gotong royong individu-individu bersatu berkerja bersama-sama tersebut membentuk forma dasar dari gotong royong. Pekerjaan dari masing-masing individu disatukan oleh tujuan yang sama. Gotong royong dapat disebut juga sebagai suatu nilai.

Nilai gotong royong sendiri dianggap sebagai perasan dari Pancasila. Apabila semua sila diperas menjadi satu frase, maka munculah gotong royong. Demikian yang dikatakan oleh Soekarno dalam pidatonya:    

“Kita mendirikan negara Indonesia yang kita semua harus mendukugnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat indonesia, bukan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semu! Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga dan tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan ‘gotong royong’. Negara yang kita dirikan haruslah negara gotong royong!”

Dalam gotong royong itu juga termuat nilai-nilai lain, seperti persatuan. Sebab dalam gotong royong tidak mungkin setiap elemennya punya kepentingan individual. Dalam gotong royong juga terlihat adanya dimensi personal tapi juga punya dimensi sosial. Dalam sebuah persatuan, setiap elemen masyarakat menjadi satu dalam perbedaan. Seseorang tidak dapat hidup sendiri seumur hidupnya. Manusia butuh manusia lain agar dapat membantu dirinya melangsungkan kehidupannya. Dimensi sosial ini tidak baik apabila tidak dihayati dengan nilai gotong royong.

Sebagai negara kesatuan, gotong royong menjadi pemersatu elemen-elemen yang ada didalamnya. Bahkan soekarno sendiri mengungkapkan bahwa gotong royong diidentikkan dengan negara Indonesia. Pemersatu individu tentu bukan hal yang mudah. Banyak hal yang perlu diperhatikan. Perbedaan adalah musuh utama dari persatuan. Maka, dalam gotong royong sebenarnya menyatukan individu dalam lingkup sosial. Individu tidak benar-benar sesuatu yang penuh dalam dirinya sendiri seperti monad-monad. Individu memerlukan orang lain.

Sudut pandang sosial sangat tampak dalam pemikiran Soekarno terntang ide Marhaenisme. Beliau menyinggung adanya pemikiran yang melihat manusia sebagai objek. Manusia bermain dalam lingkup sosial-politik tapi ia sendiri bukan pemain, ia dipermaikan manusia lain. Demikian orang yang mempermaikan itu sebenarnya tidak autentik. Menurut Heidegger, seseorang perlu terlibat dalam dasein atau ‘ada’ nya sendiri sehingga menemukan makna tentang dirinya. Bukan menjadi orang yang menjadikan orang lain sebab dari ‘ada’ nya sendiri. Orang yang tidak mampu terlibat, atau menggali makna dalam dirinya sendiri adalah orang yang tidak otentik. 

Dimensi sosial yang terdapat dalam manusia dapat dilihat dari secara fenomenologis. Seperti yang di tegaskan dalam konsep Heidegger. Manusia ada dan ber-ada. Manusia begumul dengan eksistensinya. Manusia tidak dapat memiliki bagaimana ia akan dilahirkan tapi manusia hadir secara terlempar dalam dunia atau throwness. Dalam keterlemparan itu manusia berusaha untuk mendalami adanya sendiri atau terlibat dalam adanya. Dalam dunia itu manusia tidak sendiri. Dalam dunia terdapat berbagai macam entitas lain yang berelasi dengan manusia.

Dari sudut pandang sejarah, kita mengenal adanya perumus dasar negara. Soepomo dalam pidatonya menyinggung soal integeritas negara. Apa maksud dari integeritas negara? Pandangan tersebut melihat negara sebagai satu kesatuan dari segala bagian di dalamnya. Semua individu disatukan dalam kesatuan yang lebih besar, yakni negara. Tujuan yang paling tinggi adalah tujuan bersama ini. Tujuan individu tidak dapat mengalahkan tujuan negara. Paham ini sekaligus menolak paham liberalisme dan demokrasi barat yang sangat bersifat individual.

Dalam uraian diatas, semakin jelas bahwa manusia adalah makhluk sosial. Manusia yang ‘ada dalam dunia’ itu terlibat dalam adanya. Semakin mendalami otentisitas dalam dirinya sehingga dapat menemukan bahwa manusia itu selalu terkait dengan yang lain. Nilai sosial itu semakin nampak dalam perwujudan gotong royong. “Nilai mendasar inilah yang sebenarnya dapat menjadi jiwa, orientasi, tujuan dan nafas hidup bersama.”

Driyarkara melihat menusia sebagai persona yang utuh, dalam arti memiliki cirinya sendiri. Persona dan masyarakat adalah hal yang tak terpisahkan, akrena persona termasuk di dalamnya. Manusia bukanlah sekedar berkumpul tanpa tujuan dan arah, manusia memiliki kesamaan sehingga mereka dapat berkumpul satu sama lain. Kodrat manusia yang sebenarnya sosial teraktualisasikan dalam masyarakat.

Lalu, pertanyaan mendasarnya adalah, “bagaimana nilai gotong royong menggerakkan masyarakat jaman ini?” Beberapa orang menganggap adanya penurunan pengahayatan gotong royong dalam masyarakat, terutama masyarakat yang berada di kota. Meskipun gotong royong merupkan wujud kodratiah manusia, sebuah penelitan pernah mengungkapkan bahwa semangat gotong royong pernah menurun di beberapa pedesaan karena warga sendiri kurang memiliki kesadaran dan akhirnya mereka kurang berpartisipasi.


Kendati demikian, masyarakat jawa termasuk masyarakat kuno yang masih mempertahankan budaya gotong royong. Secara konkret, orang-orang yang masih hidup di daerah pedesaan tentu tidak asing dengan gotong royong. Pekerjaan mereka di ladang tentu membutuhkan banyak orang. Masyarakat jawa di daerah perkotaan-pun juga demikian. Sampai saat ini masih banyak kampung-kampung yang mengadakan kerja bakti saat hari libur. Kegiatan konkret ini sebenarnya memperlihatkan bagaimana individu-individu yang berbeda saling bersatu dengan tujuan yang sama.

Budaya jawa mengajarkan bahwa manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali pula pada Yang Maha Kuasa. Dalam hidupnya, manusia perlu berusaha agar ia dapat diterima di asalnya. Misalnya dengan laku tapa. Budaya itu mengarahkan mereka untuk berhati-hati dalam bertindak. Mereka tidak dapat berperilaku seenaknya sendiri karena ada yang lebih ‘berkuasa’ dari diri mereka. Maka, penghayatan yang dirahkan dalam konteks budaya jawa adalah berperilaku baik terhadap sesama. Menghargai sesama sesama yang juga memiliki asal yang sama. Orang jawa memiliki sebuah prinsip utama dalam menjalani kehidupan. Oarng jawa menolak, mencegah atau menghindari segala sesuatu yang mengandung konflik. Kerukunan bersama harus tetap dijunjung dan konflik harus senantiasa dihindari.


Budaya jawa menempatkan sikap empati sebagai sikap yang paling utama dalam hidup. Dalam KBBI sendiri, empati diejlaskan sebagai keadaan mental yg membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yg sama dengan orang atau kelompok lain. Artinya, seseorang memilii perasaan bahwa ia merupakan bagian dari sebuah kelompok sosial. Kesadaran akan menghantara dia pada bagaimana seharusnya perilaku dia di tengah masyarakat. Kesadaran ini merupakan kesadaran yang perlu didalami dalam proses pribadi. Orang yang mau ‘terlibat’ dalam adanya akan mudah sekali terlibat dalam ‘ada’ yang lain.

Kebudayaan jawa memiliki ciri khas menghargai sesama manusia sebagai ciptaan. Kesamaan ini menjadi semacam pemersatu bagi mereka. Maka, tindakan mereka perlu menghargai satu sama lain. Wujud nyata menghargai sesama dalam masyarakat jawa adalah gotong royong. Gotong royong dalam masyarakat jawa diindentikkan sebagi sebuah bentuk melakukan pekerjaan demi kepentingan bersama tanpa imbalan apapun. Tradisi gotong royong ini sangat konkret terjadi dalam masyarkat jawa. Tradisi rewang tetangga adalah salah satunya. Ketika ada keluarga lain di sebuah teritorial tertentu memiliki gawe orang-orang yang bekerja bukan hanya tuan rumah, tapi orang-orang disekitarnya juga datang untuk turut membantu.