Bagi kebanyakan orang, kematian menjadi hal yang cukup mengerikan. Merujuk pada definisi yang diberikan oleh kaum agamawan, kematian merupakan terputusnya hubungan ruh dengan jasad dan terjadinya pemisahan antara keduanya serta perpindahannya dari satu tempat ke tempat lain (Shihab, 2014: 8). 

Maka dari itu, banyak kerabat dekat dan keluarga yang merasa berduka dan tidak siap ketika salah satu diantara mereka ada yang meninggal. Di sisi lain, sebelum kematian tiba, bagi banyak penganut agama semantik, amal kebaikan harus dipersiapkan terlebih dahulu dengan maksimal yang disesuaikan dengan tuntunan di kitab suci.

Namun bagi masyarakat Toraja, kematian justru dimaknai dengan cara yang berbeda. Melalui Agama Aluk To Dolo, masyarakat Toraja mempercayai bahwa kematian seseorang yang rohnya telah terpisah dengan jasad, masih dapat hidup di sekitar mereka, dan mempengaruhi kehidupan mereka. Pada titik ini, kematian menjadi momen penting bagi masyarakat Toraja.

Sekilas tentang Agama Aluk To Dolo yang merupakan agama asli dari nenek moyang suku Toraja. Pada tahun 1969, agama ini telah resmi menjadi cabang dari agama Hindhu Dharma. Kemudian pada tahun 2010, menurut data dari BPS di Makassar, agama ini dianut oleh kurang lebih 30.023 jiwa yang tersebar di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa.

Masyarakat Toraja melakukan ritual kematian untuk menghormati dan menghantarkan orang yang meninggal menuju alam roh bersama leluhurnya yang telah meninggal terlebih dulu. Ritual ini disebut dengan Rambu Solo. Ritual ini mulanya berasal dari masyarakat di Kabupaten Tana Toraja sebelum menyebar ke daerah-daerah yang ada di sekitarnya.

Ritual Rambu Solo ini juga dianggap sebagai upacara penyempurna kematian bagi masyarakat Toraja. Maka dari itu, orang belum bisa dianggap benar-benar meninggal jika seluruh prosesi ritual ini belum dilaksanakan. Hanya saja ritual ini bisa ditunda sampai bertahun-tahun sejak orang tersebut meninggal. Hal ini ditengarahi karena keluarga yang ditinggalkan belum memiliki cukup uang untuk membiayai ritual tersebut.

Kalau belum mampu melaksanakannya, orang yang meninggal dianggap sebagai orang sakit atau lemah. Jenazahnya tetap diperlakukan seperti orang hidup yang sedang berbaring di tempat tidur. Bahkan jenazahnya juga diberi makan, minum, dan diajak berbicara oleh para anggota keluarga. 

Jenazahnya dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan sampai ritual selesai dilaksanakan. Maka tidak mengherankan jika dalam satu atap, orang yang hidup bisa tidur berdampingan dengan orang yang telah meninggal.

Representasi fase ini dalam kepercayaan asli masyarakat Toraja ada dalam kata-kata “unnelong lending” atau “gume „lo masapi”, yang artinya terbaring lemah seperti orang yang sakit. Kedua ungkapan asli masyarakat Toraja ini menggambarkan suatu kondisi seseorang yang sedang menderita karena suatu penyakit yang parah. 

Ada juga orang yang meninggal disebut dengan “masaki ulunna”. Istilah tersebut jika dimaknai secara tekstual artinya orang yang sakit kepala. Ungkapan lain untuk keadaan ini ialah “to makuramban beluakna”, artinya orang yang berambut kusut. Sedangkan jenis penyakit yang menyerang orang mati dipahami sebagai penyakit kronis dan tidak bisa disembuhkan (Ismail, 2019: 98).

Ritual kematian Rambu Solo merupakan ritual yang terbilang membutuhkan biaya besar bagi masyarakat Toraja. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya ritual pemakamannya akan semakin mahal dan besar. 

Ritual pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ribuan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Sahar Zand jurnalis BBC dalam liputannya menemukan bahwa satu pemakaman bisa sampai menghabiskan sekitar 664 juta.

Namun problem biaya ini bida ditanggulangi melalui status sosial seseorang. Sebab di Toraja sendiri, status sosial memiliki pengaruh terhadap ritual pemakaman. 

Ada 4 status sosial di Toraja, mulai dari tan’ bulaan atau golongan bangsawan, tana’ bassi atau golongan bangsawan menengah, tana’ karurung atau rakyat biasa atau rakyat merdeka, dan tana’ kua-kua atau golongan hamba (Sarira, 1996: 105). 

Pembagian keempatnya dalam konteks ritual Rambu Solo tidak terlalu ketat, karena bisa jadi, orang yang dari golongan bangsawan melakukan ritual seperti golongan rakyat biasa. Hal ini disesuaikan dengan kesanggupan dari pihak keluarga yang ditinggalkan.

Ritual Rambu Solo ini digelar di sebuah pada rumput yang luas, mereka menamainya dengan rante. Rante ini selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan. Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan menjadi ekspresi duka cita yang lazim dilakukan oleh masyarakat Toraja dalam ritual kematian ini.

Setelah ritual Rambu Solo ini dilaksanakan, jenazah dikebumikan di makam keluarga atau di dalam gua-gua. Masyarakat Toraja mempercayai bahwa setelah ritual tersebut dilaksanakan, ruh orang tersebut akan berjalan menuju Puya (dunia arwah atau akhirat). Dan gua-gua ini dianggap sebagai perantara dunia dan akhirat.

Kendati demikian, bagi masyarakat Toraja hal tersebut bukan berarti perpisahan. Justru sebaliknya, interaksi antara orang-orang yang masih hidup dengan orang yang meninggal masih bisa dilakukan melalui ritual ma'nene atau penyucian jenazah. Ritual ini dilakukan beberapa tahun sekali dengan cara mengambil peti orang yang sudah meninggal, kemudian membukanya.

Ritual ini juga masih memperlakukan orang yang sudah meninggal seperti layaknya masih hidup. Beberapa anggota keluarga menawarkan makanan, rokok, dan juga membersihkan jenazahnya. Setelah itu mereka melakukan poto bersama sebagai tanda bahwa interaksi antara yang hidup dan yang meninggal masih terjalin kuat.

Selain ritual Rambu Solo, di Toraja ada juga tradisi tau-tau atau pembuatan patung yang merepresentasikan kedudukan sosial semasa orang itu masih hidup. Patung-patung ini juga diberi atribut asli dari milik orang yang telah meninggal, seperti rambut, pakaian, dan perhiasan. Satu patung harganya kisaran 13 juta.

Saya rasa ritual Rambu Solo di Toraja patut mendapat apresiasi sebagai bagian dari khazanah keragaman di negeri ini. Apresiasi tidak melulu dengan cara menggelontorkan dana milyaran rupiah saja, melainkan juga memberi proteksi, supaya ritual ini –dan ritual di daerah lainnya- tidak jatuh menjadi ajang hiburan dan tontonan sehingga unsur sakralitas, otentisitas, dan kedalaman maknanya menjadi pudar.

Pustaka:

  • Shihab, Quraish. (2014). Kematian Adalah Nikmat. Tangerang: Penerbit Lentera Hati
  • Ismail, R. (2019). Ritual kematian dalam agama asli Toraja “Aluk to dolo”(Studi atas upacara kematian rambu solok). Religi: Jurnal Studi Agama-agama, 15 (1)
  • Zand, Sahar. Hidup Berdampingan dengan Kematian di Toraja. 20 April 2017 https://www.bbc.com/indonesia/majalah-39638082, akses 19 Oktober 2020
  • Sarira, Y. A. Sarira. (1996). Rambu Solo‟ dan Persepsi Orang Kristen tentang Rambu Solo‟. Tana Toraja: Pusbang Gereja Toraja