Musik tentu bukanlah suatu hal yang asing di telinga bahkan di kehidupan kita sehari-hari. Dengan musik perjalanan terasa menyenangkan, belajar terasa menyenangkan, bahkan tidak sedikit yang tidurnya ditemani musik. 

Banyak orang bahkan rela tidur di emperan toko-toko di beberapa lokasi yang akan ditempati oleh para musisi-musisi manggung demi menikmati lantunan lagu yang akan dibawakan olehnya. Bahkan untuk menjawab perkembangan zaman, media internet sebagai alat pendistribusian musik besar-besaran di dunia juga tak luput dari kata tertinggal.

Berbicara media internet, tentu hal yang paling menakjubkan adalah adanya layanan YouTube sebagai media yang banyak digunakan oleh semua elemen masyarakat untuk melimpahkan ide dan gagasan yang ingin mereka sampaikan ke publik, dengan berbagai motif yang ada. Bisa dengan motif melimpahkan kekesalan, curhat, dan sampai untuk meraup keuntungan. 

Meraup keuntungan bukan berarti hanya dilakukan dengan sesuai prosedur, bahkan tidak jarang dilakukan dengan melanggar ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku, karena minimnya pemahaman hukum masyarakat dalam hal-hal tertentu, seperti halnya hak cipta.

Dalam konsideran Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dikatakan bahwa hak cipta merupakan kekayaan intelektual di bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra yang mempunyai peranan strategis dalam mendukung pembangunan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945. 

Dalam konteks mempunyai peranan strategis dalam mendukung pembangunan bangsa berarti turut serta mendukung tingkat produktifitas dunia kreatifitas yang dibangun oleh anak bangsa. Dalam hal ini ialah musik yang juga memiliki peran penting dalam pembangunan bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum.

Permasalahan yang cukup krusial saat ini ialah, banyaknya pelanggaran hak cipta bidang musik yang terjadi, terutama dalam media, seperti di YouTube. Banyaknya youtuber yang meng-cover atas musik tanpa mengantongi izin dari pencipta lagu yang ia bawakan. Bahkan hal ini tidak jarang diprotes oleh beberapa musisi yang menciptakan lagu tersebut. Seperti halnya kasus Via Vallen dengan SID.

Yang tidak jauh dari kata hak, yakni hak cipta. Dalam hak cipta terdapat hak dan kewajiban, hak dari pencipta lagu berupa penghargaan atas lagunya dalam bentuk royalti dan kewajiban pihak yang meng-cover lagu tersebut dalam bentuk izin dan pembayaran royalti atas hasil yang dia hasilkan. 

Dalam hal pembayaran royalti, pemerintah telah menjawab hal tersebut melalui Undang-Undang Hak Cipta yang dibentuk dalam Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) yang bertujuan untuk pengelolaan royalti atas karya cipta lagu. 

Sebagaimana diatur dalam Pasal 89 UUHC, yang seharusnya setiap publikasi yang dilakukan atas karya cipta orang lain harus atas seizin pencipta dan mendapatkan royalti atasnya. Hal ini terlepas dari diskusi panjang terkait dengan LMK yang diatur dalam UU.

Budi Agus Riswandi menjelaskan dalam bukunya “Doktrin Perlindungan Hak Cipta di Era Digital” Hak pertunjukan atau performing right biasa dimiliki oleh para pemusik, dramawan maupun seniman lainnya yang karyanya dapat terungkap dalam bentuk pertunjukan. Pengaturan tentang performing right ini dikenal dalam Berne Convention maupun Konvensi Universal Hak Cipta bahkan diatur diatur tersendiri dalam sebuah konvensi, yakni Konvensi Roma.

Performing rights yang diadopsi dari aturan hukum yang ada di luar negeri ini yang seharusnya diperuntukkan bagi pencipta lagu. Hal ini tidak jauh tujuannya adalah untuk kesejahteraan. 

Saat ini banyak musisi-musisi mengalami kehidupan yang susah, yang seharusnya mereka mendapatkan haknya dalam bentuk royalti. Sehingga selain untuk menghargai karya cipta orang lain, juga untuk menjaga kesejahteraan dari pencipta lagu tersebut. Begitulah konsep keadilan dalam konteks hak cipta yang seharusnya diindahkan oleh semua elemen masyarakat.

Kita bisa belajar dari kasusnya pencipta lagu “Bento” yang dipopulerkan oleh Iwan Fals. Banyak kisah tentang hidupnya dibahas di kalangan musisi Indonesia bahkan televisi yang dikatakan susah, sedangkan orang-orang yang menyanyikan lagunya mendapatkan royalti bahkan yang tidak bisa dibilang sedikit. Hal ini terjadi tentu atas dasar masih kurangnya rasa menghargai karya cipta orang lain.

Kemudian, bagaimana untuk menghindari dan mencegah terjadinya hal itu?

Penting kiranya kita untuk selalu mendemonstrasikan hal ini, demi kemajuan industri musik Indonesia. Kemajuan dimaksud bukan hanya kemajuan dalam bentuk kreativitas, namun juga penghargaan terhadap kreativitas yang dibuat oleh pencipta. Sehingga hukum mampu berjalan sejajar dengan keadilan, tidak ada yang diuntungkan lebih dan tidak ada yang dirugikan.

Kemajuan usaha bidang wisata sampai dunia hiburan juga haruslah mampu mengindahkan aturan. Seperti tempat karaoke, club, bar, cafe dan bahkan para youtuber yang bergerak di bagian cover musik. 

Semua lini ini haruslah menghargai karya cipta musisi nasional bahkan internasional dengan cara membayar royalti sebagai bentuk apresiasi terhadap karya cipta yang dimiliki pencipta. Yang tujuannya adalah tidak lain untuk memajukan kesejahteraan rakyat Indonesia sebagaimana Nawacita dari Undang-Undang Hak Cipta.