Setiap 22 Desember, kita memperingati Hari Ibu yang dimaknai sebagai perayaan peran ibu. Padahal penetapan Hari Ibu ini awalnya ditujukan untuk memperingati perjuangan perempuan Indonesia. 

Sejarahnya dimulai pada 22-25 Desember 1928 ketika para pemimpin organisasi perempuan se-nusantara berkumpul untuk membahas isu-isu perempuan yang harus diperjuangkan. Sepuluh tahun kemudian, dalam Kongres Perempuan III, mereka menetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu.

Sangat disayangkan kita mengembalikan peran perempuan pada kerangka yang tradisional dalam perayaan Hari Ibu dewasa ini. Sekaligus hal ini mencerminkan betapa kuatnya masyarakat melekatkan peran perempuan sebagai ibu. 

Sejak kecil, pada anak-anak perempuan ditekankan bahwa menjadi ibu adalah sesuatu yang kodrati sifatnya. Padahal, hanya karena perempuan memiliki rahim, tidak membuat perempuan terlahir untuk menjadi ibu. 

Ann Oakley, sosiolog asal Inggris, dalam bukunya Becoming a Mother (1979), menyatakan bahwa masyarakatlah yang telah membentuk perempuan untuk menjadi ibu. 

Pandangan ini ditegaskan oleh Elisabeth Badinter, filsuf feminis dari Prancis. Dalam L’amour en plus, (1980), ia memaparkan secara detail dan terstruktur dengan mengacu kepada sejarah, bahwa pencitraan peran ibu sebagaimana yang kita kenal saat ini sesungguhnya baru terbentuk pada abad ke-18.

Menjadi ibu bukanlah insting biologis, dan karenanya menjadi ibu bukan kemampuan bawaan. Coba perhatikan para ibu yang menyusui, menggendong, dan memandikan bayi untuk pertama kali. Mereka umumnya mengalami kesulitan dan perlu membiasakan diri terlebih dahulu. 

Sebagian besar ibu, setidaknya di Indonesia, memilih untuk tinggal dengan ibunya saat melahirkan anak pertama. Bukan karena semata-mata nenek bahagia mendapatkan cucu dan ingin ikut merawat (tidak semua nenek ingin merawat cucu, dan bukan pula kewajiban mereka). Namun, nenek dianggap berpengalaman mengurus bayi dibandingkan ibu yang melahirkan anak pertama. 

Ketika seorang ibu muda yang baru punya anak pertama frustrasi karena tidak bisa menyusui (air susu tidak keluar, bayi menolak puting ibu, dll.), kita menuduhnya tidak benar-benar niat menyusui.

Padahal karena kita cenderung menganggap menjadi ibu adalah peran yang alami, dari sananya, kita mengabaikan bahwa perlu mengadopsi sikap, postur tubuh, dan teknik yang tepat agar seorang ibu dapat menyusui dengan lancar (ini hanya contoh). Yang berarti pula, menjadi ibu adalah proses belajar, bukan bawaan.

Sejak remaja, ketika alat-alat reproduksi sudah berfungsi, perempuan mulai ditanamkan bahwa menjadi ibu itu menyenangkan. Gambaran bayi mungil yang lucu atau anak yang berceloteh menggemaskan sering dilontarkan agar perempuan segera memiliki momongan.

Senyum pertama, langkah kaki pertama, dan kata pertama adalah insentif bagi perempuan untuk menjadi ibu. Apalagi kata pertama anak umumnya adalah kata mama, yang meskipun dapat dijelaskan secara psikolinguistik, namun sering digunakan untuk meyakinkan perempuan akan panggilan alamnya untuk menjadi ibu.

Perempuan yang menyangkal panggilan ini seolah akan kehilangan pengalaman paling berharga dalam kehidupan. 

Menjadi ibu dapat saja seindah itu. Akan tetapi, menjadi ibu juga bisa sangat melelahkan dan membuat frustrasi. Bisa jadi inilah pekerjaan tersulit bagi perempuan.

Penelitian Rhoda Unger, psikolog dari Montclair State University, menunjukkan tingkat stres perempuan pada masa ini umumnya paling tinggi di antara periode hidup lainnya. Kesejahteraan perempuan menurun pada masa-masa ini. Kesejahteraan mereka kembali meningkat setelah anak besar dan tidak membutuhkan sosok ibu secara intensif.

Penelitian dengan menggunakan kuesioner tidak dapat mengungkapkannya. Hal ini baru terungkap dalam penelitian kualitatif dengan metode wawancara mendalam.

Jane Ussher menuliskan pengalaman para ibu ini dalam bukunya Managing the Monstrous Feminine, bahwa banyak perempuan merasa gagal dan bersalah ketika tidak bisa menjadi ibu yang selalu gembira atau ketika anak-anak mereka tidak memenuhi harapan mereka.

Dengan perkataan lain, banyak ibu tidak bahagia karena merasa tidak dapat menjadi sosok ibu ideal seperti yang dicitrakan masyarakat. Namun ketimbang mencari dukungan, mereka berusaha menutupinya. Dan tentu sangat mudah menutupinya dalam sebuah kuesioner.

Saya kira saatnya kita mengubah sikap mengenai ibu. Pertama, berhenti melekatkan peran ibu kepada perempuan. Menjadi ibu bukanlah keharusan, melainkan sebuah pilihan dan tidak ditentukan oleh fungsi rahim kita sebagai perempuan.

Kedua, berhenti memberi gambaran fantasi tentang menjadi ibu. Berikan gambaran realistis bahwa menjadi ibu bisa jadi menyenangkan, namun juga bukan suatu tugas yang mudah untuk dilakukan. Dengan demikian, perempuan bisa menentukan hendak menjadi ibu atau tidak, dan mempersiapkan serta membekali diri bila menjadi ibu adalah keputusannya.

Ketiga, tidak melekatkan tugas-tugas domestik yang dimaknai sebagai tugas keibuan kepada perempuan. Mengutip Kamla Bhasin, perempuan memang melahirkan dengan rahimnya, namun perempuan tidak memasak dengan rahimnya. 

Maksudnya, tugas-tugas domestik yang sekian lama dianggap sebagai tugas perempuan sebagai ibu sebenarnya hasil bentukan masyarakat. Bagaimana ibu tidak tertekan jika pada saat yang sama dengan ia mengasuh anak, ia juga harus memasak, mencuci pakaian, dsb.

Ketika ia bekerja di luar rumah, mengurus rumah tangga pun tetap menjadi tanggung jawabnya. 

Terkait dengan hal ketiga, poin keempat adalah perlunya pelibatan laki-laki. Laki-laki hendaknya tidak hanya menanam benih pada rahim perempuan untuk kemudian melepaskan diri dari tugas pengasuhan. 

Bahkan suami tidak hanya perlu melibatkan diri dalam proses pengasuhan, namun akan jauh lebih baik bila ikut membantu istri mengerjakan tugas-tugas rumah tangga. Bukan semata untuk kepentingan perempuan, namun untuk kepentingan terbaik anak.

Adrienne Rich mengatakan, “Tidak ada seorang pun yang bisa selalu baik dan gembira kecuali jika kebutuhan fisik dan psikisnya juga terpenuhi.” Seorang ibu dapat menjalankan perannya dengan senang hati jika ia sendiri pun bahagia. 

Dalam hal ini, perlu ada dukungan ayah (suami) secara konkret agar beban ibu menjadi lebih ringan sehingga ibu tidak tertekan. Berikan kesempatan pada ibu untuk memiliki ruang bagi dirinya sendiri, untuk dapat bertumbuh secara personal. 

Seorang ibu yang sejahtera akan menghasilkan anak-anak yang sejahtera pula. Kondisi psikis anak akan terganggu jika ia melihat ibunya sering menangis atau marah-marah akibat stres.

Selain itu, anak akan tumbuh memiliki kepribadian yang baik jika kedua orang tua terlibat dalam proses pengasuhan. Atmosfer menyenangkan yang tercipta dari kebersamaan orang tua akan mempermudahnya dalam menyerap nilai-nilai positif.

Maskulinitas perlu didekonstruksi dengan melibatkan laki-laki dalam ranah yang dianggap tidak maskulin. 

Adalah sebuah tindakan positif jika kita memberikan penghargaan terhadap ibu. Namun menghargai ibu dalam satu hari, sementara kita menuntutnya menjadi ibu yang sempurna sepanjang sisa hari lainnya dalam satu tahun, dapat menjadi semacam pembodohan. 

Para ibu sendiri, berhentilah menuntut diri untuk menjadi ibu yang sempurna. Ibu yang sempurna tidak ada. Yang terpenting adalah berdendang dan berdansalah mengikuti irama yang ditawarkan kehidupan: nikmati saat-saat kebersamaan dengan anak-anak Anda.

Kiranya kita dapat menghargai ibu dan perempuan dengan lebih baik. Selamat Hari Ibu.