3 minggu lalu · 121 view · 4 min baca · Budaya 95301_55968.jpg

Menghargai Bidang Ilmu Orang Lain

“Apa gunanya kita berbicara tentang Tuhan? Harusnya perhatian kita lebih tertuju pada persoalan-persoalan kemanusiaan yang lebih penting: kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, penindasan, dan lain sebagainya. 

Itulah sebetulnya tugas utama kita yang harus kita selesaikan bersama. Tidak ada gunanya lagi kita bicara tentang Tuhan. Apalagi, di era sekarang, sains sudah menjawab semua hal yang dulu “ditempati” oleh Tuhan itu.

Sebagai seorang pengkaji teologi, saya kerap mendapatkan kesan seperti itu dari sejumlah pihak. Teologi dianggap sebagai ilmu yang tak berguna. Isinya hanya spekulasi dan omong kosong belaka. Para teolog hanya sibuk berbicara tentang Tuhan. Tapi mereka tidak sadar bahwa di luar sana ada sekian banyak persoalan kemanusiaan yang lebih penting untuk kita pikirkan.

Sayangnya, yang mengajukan keberatan seperti ini kadang tidak sadar bahwa dunia ini juga tak akan indah kalau perhatian semua orang justru sesuai dengan apa yang dia inginkan. 

Apa jadinya kalau semua orang—atau katakanlah sebagian besar—di dunia ini berbicara tentang kemiskinan, korupsi, terorisme, penjajahan, keterbelakangan, kemajuan teknologi, sains, dan persoalan-persoalan serupa lainnya yang sering dianggap lebih penting itu?

Betapapun kita percaya bahwa itu adalah persoalan-persoalan penting, tapi kita tidak bisa membayangkan seperti apa jenuhnya kita kalau semua orang berbicara seputar persoalan-persoalan yang penting itu saja. Dunia ini pasti akan terasa membosankan. 

Tak ada yang indah dengan dunia semacam itu. Karena itu, jika kita ingin menciptakan kehidupan yang berwarna, perhatian kita harusnya tertuju pada persoalan yang berbeda-beda.

Memang tak ada yang salah jika setiap orang memandang bidang keahliannya sebagai bidang terbaik dan paling bermanfaat. Sebagai pengkaji ilmu-ilmu rasional, misalnya, saya juga meyakini bahwa ilmu-ilmu yang saya tekuni itu merupakan ilmu yang paling bermanfaat bagi kemajuan umat. 


Semaraknya pembelajaran ilmu-ilmu rasional merupakan saksi bisu di balik kemajuan peradaban Islam. Karena itu, kalau mau maju, umat Islam, dalam pandangan saya, harus memiliki perhatian khusus terhadap ilmu-ilmu semacam itu.

Tapi ingat, betapapun saya punya argumen yang kuat untuk mengukuhkan pandangan itu, pada akhirnya itu adalah pandangan subjektif saya. Orang lain sudah pasti akan punya pandangan berbeda terkait bidang yang ditekuninya. Dan saya harus menghormati itu. 

Pertanyaannya: Apakah cara pandang seperti itu salah? Sekali lagi, tidak. Sama sekali tidak salah. Hak setiap orang untuk memandang bidang yang ditekuninya sebagai sebaik-baiknya bidang.

Lalu apa yang salah? Yang salah ialah kalau kita menilai lemah-unggulnya bidang yang lain dengan tolak ukur bidang kita sendiri. Itu yang salah. Padahal, semua bidang keilmuan pada dasarnya penting dan berguna, kalau kita letakkan sesuai dengan kotak dan lingkarannya masing-masing.

Sains itu berguna. Tapi pembicaraan tentang Tuhan juga bukan hal yang sia-sia. Ekonomi itu bermanfaat, tapi filsafat juga bukan ilmu yang sesat. Ilmu fikih itu penting untuk kita kaji, tapi Tasawuf juga harus kita pelajari. Ilmu eksak itu perlu untuk kita tingkatkan, tapi ilmu-ilmu sosial juga perlu untuk kita berikan perhatian. 

Semua ilmu pada dasarnya memiliki kegunaannya sendiri-sendiri. Dan masing-masing dari kita, Tuhan tempatkan dalam keahlian dan kecenderungan yang berbeda-beda. Tujuannya agar kita bisa saling mengisi satu sama lain. Karena manusia adalah pakaian bagi manusia yang lain.

Bisa terbayang apa jadinya dunia ini kalau semua orang belajar Alquran semua, misalnya? Tidak ada orang yang bicara politik, tidak ada yang bicara sains, tidak ada yang bicara filsafat, tidak ada yang bicara astronomi, kedokteran, sosiologi, dan ilmu-ilmu lainnya. Semua yang dikutip oleh manusia hanyalah kumpulan ayat Alquran. 

Meskipun kita tahu bahwa mempelajari Alquran itu baik, tapi apakah Anda akan merasakan keindahan dengan dunia yang seperti itu?

Dunia seperti itu tidak jauh beda dengan tanaman berbunga yang hanya dihiasi oleh satu jenis warna. Dan Tuhan sendiri tidak mengharapkan dunia yang seperti itu. Tuhan menginginkan kita berbeda, yang dengan perbedaan tersebut kita bisa memakmurkan dunia sesuai bidang dan kemampuan kita. 

Semua manusia, Tuhan bekali dengan kemampuan dan kecendrungan yang beragam, yang dari keragaman tersebut akan terlahir pula disiplin ilmu yang bermacam-macam.


Karena itu, kalau kita pembelajar yang jujur, harusnya kita mampu menghormati bidang-bidang lain di luar keahlian kita. Anda yang mempelajari ilmu Agama, belum tentu lebih baik ketimbang orang lain yang mendalami “ilmu-ilmu dunia”. Hal yang sama juga berlaku sebaliknya. Karena toh semuanya bisa memberikan manfaat sesuai dengan caranya sendiri-sendiri.

Boleh saja Anda memandang bidang yang Anda tekuni sebagai bidang yang terbaik. Tapi jangan lupa bahwa orang lain yang menekuni bidang berbeda juga punya pandangan yang sama seperti Anda terkait bidang yang ditekuninya. 

Tuhan menciptakan kita dengan kecerdasan yang berbeda-beda, kecenderungan yang berbeda-beda, keahlian yang berbeda-beda, hobi yang berbeda-beda, pendidikan yang berbeda-beda, dan semua perbedaan itu terwujud agar kita saling mengisi, saling berbagi, saling mendengar, saling menghormati, dan saling belajar satu sama lain.

Kita ditugaskan untuk memakmurkan dunia ini sesuai dengan keahlian kita masing-masing. Peradaban itu bisa terbentuk dengan adanya kerjasama, bukan dengan sikap merendahkan antar sesama. Rumah yang megah itu bisa terwujud kalau masing-masing dari tukang bangunan fokus dengan tugasnya masing-masing, tapi semuanya terekat oleh satu tujuan yang sama.

Begitu juga halnya ketika kita menimba ilmu. Ilmu itu merupakan modal terpenting untuk membangun peradaban dan memakmurkan alam raya. 

Tekunilah bidang keilmuan yang sesuai dengan kecendrungan Anda sematang mungkin. Tapi dalam saat yang sama, hargailah orang lain yang Tuhan takdirkan untuk menekuni bidang keilmuan yang lain. Biarkanlah masing-masing manusia bergerak dalam lingkarannya sendiri-sendiri.

Ilmu yang dipelajari oleh orang lain boleh jadi tidak penting menurut Anda, tapi boleh jadi sangat penting menurut dia, dan orang-orang yang sejalan dengan dirinya. Penting tidaknya suatu ilmu itu bukan diukur dengan sudut pandang subjektif kita, tetapi dilihat sesuai dengan kegunaannya. 

Semua ilmu itu penting, dan semua ilmu itu berguna, kalau kita letakkan sesuai dengan lingkarannya.

Artikel Terkait