Dewasa bukan hanya tetang usia, tetapi juga sikap. 

Banyak orang mengira ketika mereka sudah mencapai usia di atas belasan tahun, atau usia berkepala 2, mereka menamai diri mereka sebagai orang dewasa. Padahal, dewasa lebih dari sekedar membahas tentang usia.

Dewasa adalah situasi dimana setiap manusia dapat menghargai manusia lainnya. Dewasa adalah ketika seseorang tidak egois dengan segala keputusan yang ia punya lalu menganggap orang lain selalu salah. Dewasa adalah menerima segala hal dengan respon positif, entah itu hal baik ataupun suatu hal yang kurang baik.

Manusia adalah makhluk Tuhan yang diciptakan lebih sempurna dibandingkan makhluk lainnya. Itu karena manusia tidak hanya diberi otak saja, melainkan dianugerahi pula dengan akal. Manusia juga tidak hanya diberi segumpal hati, tetapi juga dibersamai dengan perasaan. 

Namun terkadang, manusia tidak pandai menyelaraskan anatara ke-2nya. Itulah yang banyak menyebabkan manusia cenderung tidak menghargai sesamanya.

Ada manusia yang hanya mengunggulkan rasionya saja, sehingga ia amat keras dan tidak mudah diberi masukan.

Ada pula manusia yang dominan menggunakan perasaanya, sehingga ia mudah merasa tersinggung dan tersudutkan.

Oleh sebab itu, manusia harus pandai menyeimbangkan 2 hal tersebut. Manusia tidak bisa hanya hidup dengan salah satunya, manusia harus hidup dengan ke-2 nya (rasio dan perasaan).

Tanpa rasio manusia menjadi bodoh dan mudah terperdaya, tanpa perasaan manusia adalah makhluk yang egois.

Tentunya, manusia dilarang untuk bertindak egois dan hanya mementingkan perasaan diri sendiri. Manusia haruslah pandai menjaga perasaan orang lain dan menghargai sesama makhluk-Nya.

Karena hal tersebut dijelaskan dalam firman Allah swt., Q.S Al-Hujurat:11, yang artinya: 

“ Wahai orang-orang yang Beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olok) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang dzalim.”

Dalam ayat tersebut, Allah swt memerintahkan kita untuk menghindari 3 sifat sebagai bentuk menghargai orang lain, yakni; mengolok, mencela, dan memanggil nama orang lain dengan sebutan yang jelek, karena boleh jadi seorang yang diperolok ataupun direndahkan, justru merekalah orang yang lebih baik daripada yang memperolok-olok.

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim turut berpendapat bahwa ayat di atas berisi larangan melecehkan dan meremehkan orang lain, karena hal tersebut termasuk dalam kategori sombong. Ia mengutip salah satu sabda Rasulullah saw. yang berbunyi: 

“Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia.

Pada akhirnya ayat ini memberikan isyarat kuat agar manusia tidak menjadi orang yang sombong dan pendendam. Tidak sombong dengan mengolok atau meremehkan orang lain dan tidak menjadi pendendam dengan membalas orang yang berbuat dzalim.

Menjadi dewasa memang tidak semudah yang dibayangkan, tetapi dengan usaha dan pikiran yang terbuka pasti dapat terlaksana. Mulailah dengan hal yang paling sederhana, yakni menghargai orang lain sebagai wujud dari kedewasaan.

Menghargai orang lain bukan hanya sebatas mendengarkan ketika berbicara, menerima kritikan dan saran, ataupun hanya sekedar menerima pendapat mereka dengan lapang dada.

Menghargai orang lain dapat pula dilakukan dari hal-hal yang kecil, contohnya dengan menjaga lisan kita.

Jangan mengatakan, " Hah? masak sih, ada orang yang enggak doyan makan durian? aneh banget." Di depan orang yang memang tidak menyukai durian.

Jangan pula mengatakan, " Ih, apaan sih, jadi orang kok sukanya dandan terus, padahal lebih bagus kalau natural tanpa make up." Di depan orang yang sedang senang-senangnya belajar berdandan.

Atau mengatakan, " Aku suka benget makan keju, meurutku orang yang enggak suka makan keju itu aneh, sih." Di depan orang yang tidak bisa makan keju.

Mungkin bagi kita hal-hal remeh yang terdengar biasa saja, justru itu malah menjadi sesuatu yang menyakitkan bagi orang lain. Sikap terlalu meremehkan hal-hal kecil membuat rasa menghargai sedikit demi sedikit terkikis oleh rasa sombong bahwa diri inilah yang paling benar.

Padahal, manusia tidak ada yang sempurna dan benar-benar luput dari kesalahan. 

Untuk apa merasa paling tinggi, merasa paling benar, dan merasa paling berkuasa jika akhirnya memang tidak ada manusia yang jauh dari dosa? 

Semua manusia pasti memiliki noda hitamnya sendiri, tidak ada manusia yang putih seputih salju. Hanya saja perbedaan manusia satu dengan manusia yang lain adalah, bagaimana cara mereka memperlakukan noda hitam tersebut. 

Entah dengan cara menutupnya dengan amalan-amalan baik yang kemudian membuat noda hitam itu sedikit demi sedikit menghilang, atau malah dengan semakin memperkeruh warnanya menjadi lebih pekat.

Jika manusia yang berpikir dewasa, tentulah mereka akan memilih untuk sedikit demi sedikit menghapus noda hitamnya. Salah satunya mungkin dengan cara banyak menghargai orang lain. 

Terdengar mudah memang, namun sebenanrnya tidak banyak orang yang dapat melakukan amalan tersebut. Apalagi di zaman yang sekarang, sebentar-sebentar membandingkan, sebentar-sebentar merasa lebih unggul, dan lain sebagainya.

Maka dari itu, sebagai seorang muslim yang taat kepada ajaran islam, sebaiknya kita sebagai manusia menghindari hal tersebut. Seperti yang sudah dijelaskan dalam Q.S Al-Hujurat:11 di atas.

Sebagai manusia yang ingin disebut dewasa, marilah lebih hati-hati dalam berkata dan bersikap, karena sesungguhnya lidah yang tak bertulang itu dapat menyayat hati dengan sangat tajam. Maka tepat sekali, Allah swt. mengajarkan kepada kita sikap untuk saling menghargai melalui firman-Nya di atas.

Ingat, dewasa bukan hanya tentang usia, tapi sikap saling menghargai sesama.