Suatu malam sepasang kekasih tengah dinner di sebuah restoran. Tiba-tiba terdengar suara kentut lirih, keduanya saling bersitatap. Bagi si pria, hal ini bukanlah suatu masalah, tetapi lain cerita bagi si wanitanya.

Apakah Anda sering mengalami kejadian semacam ini? Kalau saya sih nggak pernah, lha wong masih jomblo, je. Dari hasil ngobrol sama teman yang sudah pacaran, kentut di kala nge-date termasuk perbuatan memalukan.

Kentut tentunya bikin malu bukan hanya saat pacaran. Anak muda yang mendadak kentut —sembarangan— di tengah-tengah orang dewasa dan orang tua pasti dianggap nggak sopan. Atau paling tidak dinilai tak punya tata krama. Parahnya, bapak-ibunya yang jadi sasaran. Namun keadaannya bakal berbalik ketika orang tua yang kentut.

Orang dewasa atau yang sudah tua saat kentut dan terdengar orang lain yang lebih muda, mustahil dianggap nggak sopan oleh si anak muda. Perkaranya anak muda enggan dan pakewuh buat negur orang tua. Melihat fenomena ini, artinya hak untuk kentut didiskriminasi. Norma kesopanan justru dilanggar sendiri oleh orang yang lebih tua.

Belum lagi, kalau tiba-tiba suka kentut di tengah kerumunan, harus siap-siap malu. Bahkan nih ya, ada satu gurauan yang justru lebih pas disebut jebakan.

Tatkala ngumpul, kemudian mendadak tercium bau tidak sedap alias bau kentut, di situlah gurauannya dimulai. Orang yang berkumpul akan saling tatap, dan satu orang akan bilang yang kupingnya dingin dialah yang kentut.

Sialnya, saya pernah terjebak dengan memegang kuping yang kemudian jadi pusat perhatian. Bedebah. Setelah itu kawan saya bilang, "kamu yang pegang kuping, artinya kamu ngerasa kuping kamu dingin. Kamu yang kentut."

Dibilangin begitu saya malu tujuh turunan. Padahal saya bukan pelakunya. Licik sekali, kawan saya yang kentut itu nggak megang kupingnya karena sudah tahu ini jebakan.

By the way, andaikan saya beneran yang kentut, memangnya harus dipermalukan gitu ya? Maksud saya, apakah kentut itu dilarang saking dianggap nggak sopan?

Sopan atau tidaknya adalah hal yang abstrak. Mungkin bagi sebagian orang kentut sembarangan nggak masalah, tetapi sebagian yang lainnya menganggapnya nggak sopan dan tabu. Padahal kita semua kan tahu, kalau kentut itu menyehatkan. Menahan kentut justru berbahaya bagi tubuh, terutama perut.

Orang yang hendak kentut nggak membutuhkan tempat khusus, seperti harus ke toilet segala. Jadi wajar jika banyak orang yang kentut di sembarang tempat. Meski dianggap tabu dan tak etis, di sisi lain kentut mempunyai banyak manfaat dari segi kesehatan.

Saya pernah membaca sebuah artikel bahwa Ahli Gastroenterologi dari Massachusetts General Hospital, dr. Kyle Staller, mengungkapkan setiap manusia menyimpan 0,5 hingga 1,5 liter gas di dalam saluran pencernaannya. Dengan kentut, di dalam tubuh manusia terjadi keseimbangan, khususnya di saluran pencernaan.

Keseimbangan itu berupa produksi dan keluarnya gas. Kentut juga menandakan bahwa sistem pencernaan berjalan normal. Selain itu, kentut pun mampu mengurangi rasa sakit perut.

Saya pernah mengalami sakit perut yang sakitnya nggak karuan. Hingga akhirnya perut saya uruti, dan anginnya keluar alias kentut. Akhirnya, perut saya sudah nggak sakit lagi. 

Saban orang yang masuk angin juga akan menantikan dirinya supaya bisa kentut. Sebab, selepas kentut perut kembung dan masuk angin segera reda.

Makanya kentut juga seringnya mendadak. Sejauh ini saya belum menemukan orang yang sanggup mengatur jadwal kapan ia harus kentut. Kita semua nggak bisa memprediksi kapan kita akan kentut.

Jadi bisa saja setiap orang bakal kentut di momen-momen krusial, seperti kencan ataupun rapat dengan bos dan klien. Malu sudah pasti, tetapi yang terpenting menjaga sikap agar tetap tenang. Jangan malah nuduh orang lain.

Kalau malu, bersikaplah wajar saja, nggak usah kelihatan takut. Dengan bersikap wajar, saya yakin—meski belum seratus persen—nggak bakalan ketahuan kalau, misalnya, ternyata Anda yang kentut.

Kemudian yang menjadi persoalan, bagaimana dengan sikap orang yang kebetulan memang nggak kentut? Ini juga perlu perhatian khusus. Saya usul perlu ada peraturan atau undang-undang yang menjamin kebebasan, kelangsungan, dan keleluasaan orang kentut.

Alhasil nantinya tidak hanya menguntungkan orang tua saja seperti apa yang saya tulis di atas. Juga supaya tak terjadi diskriminasi kentut, misalnya antara karyawan dengan bosnya, guru dengan muridnya, kakak dengan adiknya.

Semua pihak yang kentut mendapatkan porsi yang sama. Hasilnya keadilan sosial bagi seluruh orang yang kentut dapat terwujudkan. Kalau boleh peraturannya supaya termaktubkan khusus ke dalam sebuah draf RUU.

Suatu saat, ketika bos kentut, anak buah boleh menegur tanpa perlu takut dipecat atau turun gaji. Ketika orang tua kentut, anak atau yang lebih muda dipersilakan menegurnya. Nggak usah cemas dikatain menentang orang tua.

Lebih baik lagi jika etika kentut ini dimusnahkan saja sekalian. Begini, norma kesopanan tetap ada, tetapi norma ini nggak bisa dipakai untuk menghakimi orang yang kentut.

Jadi orang mau kentut di tempat dan keadaan apa saja dipersilakan. Orang lain yang kebetulan nggak kentut nggak perlu nyindir-nyindir segala, seperti "em... siapa nih yang habis makan jengkol?"

Kalau sedang menjalani aktivitas, anggaplah suara kentut itu kayak suara motor lewat. Soal baunya? Biarin aja sih, toh pelan-pelan bisa hilang sendiri tersapu udara.